Cyberbullying Merusak Mental Generasi Muda

Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang
Cyberbullying Merusak Mental Generasi Muda 14/10/2021 1720 view Pendidikan pixabay.com

Di zaman serba digital saat ini, banyak hal dapat dijangkau menggunakan internet lebih tepatnya media sosial. Saat ini sebagian besar pengguna media sosial adalah generasi muda. Dengan demikian pengaruh media sosial sangat besar dan signifikan dalam perkembangan zaman yang semakin modern. Namun, dalam penggunaan media sosial, ada hal-hal negatif yang perlu mendapat perhatian dari berbagai kalangan, dan inilah yang perlu diwaspadai oleh generasi muda yang sangat mudah terbawa arus. Salah satu contoh hal negatif yang perlu mendapat perhatian besar adalah maraknya cyberbullying yang terjadi di kalangan generasi muda dengan menggunakan sarana media sosial.

Menurut Unicef, cyberbullying diartikan sebagai perundungan dengan menggunakan teknologi digital yang dilakukan dengan menunjukkan perilaku berulang yang ditujukan untuk menakuti, membuat marah, atau mempermalukan mereka yang menjadi sasaran (unicef.org). Cyberbullying dapat dilakukan oleh siapa saja dengan tujuan untuk menyudutkan atau mempermalukan sasaran bullying. Cyberbullying dapat terjadi pada siapa pun tanpa melihat jabatan, status, usia, atau pendidikan orang yang menjadi sasaran. Namun, yang sangat disayangkan bahwa korban cyberbullying ini banyak didominasi oleh generasi muda yang adalah masa depan bangsa. Dalam sebuah data yang dirilis oleh KPAI per 31 Agustus 2020, ada 33 laporan kasus cyberbullying yang diterima dan ada 8 orang dinyatakan sebagai pelaku cyberbullying. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa kasus cyberbullying masih marak terjadi terutama di zaman serba digital saat ini.

Dari sebuah penelitian yang sama yang diunggah di Kompas.com, ditemukan data bahwa media sosial menjadi sarana yang sangat sering digunakan untuk melakukan cyberbullying. Pada peringkat pertama ada Instagram, kemudian menyusul Facebook, Snapchat, Whatsapp, Youtube, dan terakhir Twitter (Kompas.com - 29/03/2021).

Segala bentuk perundungan dengan media dan sarana apapun pada dasarnya adalah salah. Oleh karena itu, pemerintah mengatasi hal itu dengan membuat peraturan terkait cyberbullying. Kasus cyberbullying juga diatur bersamaan dengan cybercrime lainnya dan dapat dijerat dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Informasi Transaksi Elektronik (ITE) Pasal 27 ayat (1), ayat (3), ayat (4), Pasal 28 ayat (2), serta Pasal 29 (ketik.unpad.ac.id – 07/07/2021).

Di zaman serba digital ini semua orang dari berbagai kalangan dapat menjadi korban cyberbullying dengan berbagai bentuk perundungan. Salah satu contoh cyberbullying yang akhir-akhir ini sering digunakan adalah memunculkan meme seseorang dengan ditambahkan kata-kata yang kurang baik pada meme tersebut. Korban cyberbullying dapat mengalami depresi dan tekanan mental yang cukup berat ketika korban tidak dapat mengatasi dan menerima hal itu. Dampak yang paling dapat dilihat secara jelas dari korban cyberbullying adalah menjadi pribadi yang pendiam dan takut untuk bergaul. Hal itu dipengaruhi oleh tekanan dan perundungan yang diterima, sehingga korban menjadi pribadi yang mudah curiga, mudah merasa gelisah, tidak percaya diri, dan bahkan yang paling parah adalah ketika korban berusaha bunuh diri.

Kasus cyberbullying di Indonesia sendiri cukup memprihatinkan bahkan sampai tahun 2020 ada 2.473 laporan perundungan atau bullying, baik yang secara langsung maupun dengan menggunakan sarana media sosial yang diterima oleh KPAI. Pada tahun 2021 OECD Programme for International Student Assessment (PISA) merilis data cyberbullying pada anak-anak dan remaja di Indonesia, yaitu sebesar 41% siswa pernah mengalami perundungan. Angka kejahatan cyberbullying nampaknya terus meningkat seiring dengan berkembangnya teknologi dan media sosial.

Sangat memperihatinkan ketika kasus cyberbullying banyak terjadi pada kalangan generasi muda terutama para pelajar, baik yang menjadi korban maupun pelaku. Generasi muda yang harusnya berjuang untuk membangun bangsa Indonesia justru merusak mental generasi muda sendiri. Dampak yang ditimbulkan dari cyberbullying dapat dengan cepat merusak mental generasi muda yang dipersiapkan untuk membangun bangsa Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik dari waktu ke waktu.

Oleh karena itu, semua bentuk cyberbullying dapat dicegah dengan menerapkan pola penggunaan media sosial yang baik dan sopan sejak dini. Semua itu berawal dari diri sendiri dalam menerima dan mengolah segala informasi yang diterima dari media sosial. Media sosial dapat menjadi sarana yang baik dalam menjalin komunikasi satu sama lain ketika digunakan dengan bijak.

Selain itu, perlunya pendampingan yang intensif dan bantuan dari keluarga maupun orang terdekat korban untuk mengembalikan dan menyembuhkan mental dan psikis yang telah rusak akibat cyberbullying. Dalam mengatasi hal ini, tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah maupun pihak yang berwajib namun perlu adanya usaha dan perlindungan dari orang-orang terdekat, seperti keluarga, sahabat, guru, serta siapa pun yang dapat dipercaya. Marilah kita perangi dan cegah cyberbullying sejak saat ini untuk menyelamatkan generasi muda dan masa depan bangsa Indonesia.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya