Covid-19, Realitas Virtual, dan Matinya Realitas Fisik

Mahasiswa
Covid-19, Realitas Virtual, dan Matinya Realitas Fisik 25/10/2020 1504 view Budaya pixabay.com

Di tengah hiruk pikuk aktivitas demokrasi dan aksi demonstrasi di negeri ini, hiruk pikuk yang disebabkan oleh Covid-19 tentunya tidak boleh dilupakan begitu saja. Keganasan penyakit tak kasat mata ini, masih saja menghantui kita sampai sekarang ini. Ia telah menggiring kita pada yang namanya kehancuran. Ia menghancurkan semua aspek kehidupan kita sebagai manusia. Baik itu aspek ekonomi, pendidikan, sosial budaya, sudah hancur berantakan akibat ulah penyakit ini.

Covid-19 adalah momok yang sangat menakutkan bagi masyarakat global sekarang ini. Bagaimana tidak, penyakit jenis baru ini telah membawa perubahan besar dan mendasar pada tatanan sosial dan budaya secara global. Fenomena Covid-19 telah mengubah cara pandang dan pengertian kita tentang segala realitas yang ada.

Akibat Covid-19, sekarang kita memiliki pengertian yang berbeda tentang masyarakat, komunitas, komunikasi, interaksi sosial, serta budaya kita. Akibat Covid-19, realitas sosial-budaya yang ada dalam masyarakat kita sungguh ditantang. Oleh karena itu, munculnya Covid-19 telah membawa masyarakat global ke dalam realitas baru yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya yaitu realitas virtual (virtual reality).

Dalam tulisan ini, akan menguraikan dampak dan akibat dari Covid-19 bagi kehidupan masyarakat global sekarang ini. Tentunya selain dari pada kematian sebagai dampak penyakit ini, dampak lain yang menurut hemat saya menjadi sesuatu yang serius adalah adalah “matinya realitas fisik”. “Matinya realitas fisik” yang dimaksudkan adalah karena segala kegiatan manusia yang melibatkan perjumpaan fisik sudah diambil alih semuanya oleh “realitas virtual.” Kegiatan belajar-mengajar, pekerjaan, bahkan kegiatan berdemokrasi, dan berbagai kegiatan lainnya yang semuanya harus dilakukan secara virtual.

Dampak dari fenomena Covid-19 ini tentunya membuat kita harus bertanya: sampai kapan kita harus bertahan berada dalam realitas virtual seperti ini? Apakah masih mungkin kita akan kembali pada realitas yang sebenarnya? Ataukah realitas virtual ini telah menghipnotis kita dengan berbagai kesenangan, kegairahan, kepuasaan yang lebih beragam yang ada didalamnya? Kalau memang demikian, apakah kita harus meninggalkan realitas fisik? Realitas fisik yang dapat dikatakan sudah menjadi kebiasaan yang melekat dalam diri kita sebagai sebuah masyarakat. Tidak ada lagi pelukan, kecup kening, cium tangan, atau berbagai perjumpaan lainnya yang melibatkan kontak fisik. Kalau memang demikian, marilah kita sama-sama menuju pada ruang yang namanya kehancuran.

Kenikmatan realitas virtual

Dalam realitas virtual, segala aktivitas yang dilakukan oleh manusia di dunia nyata, semuanya dapat diambil alih oleh realitas virtual ini. Realitas Virtual ini juga dapat memberikan mandat dan kekuasaan kepada manusia untuk melakukan dan mencari apa saja yang diinginkannya tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Saya ambil contoh misalnya dalam aktivitas belajar, aktivitas pekerjaan, dan aktivitas keagamaan. Semua kegiatan tersebut tidak perlu dilaksanakan secara langsung dan tidak perlu kaki harus capek untuk berjalan-jalan, semuanya bisa dilakukan secara online. Dengan demikian, realitas virtual pada akhirnya membuat manusia menjauh dari tatanan moral, norma, dan aturan sosial yang sudah dijalani selama berabad-abad ( baca Mark Slouka, 18).

Masyarakat global saat ini menganggap realitas yang baru itu sebagai yang paling menyenangkan dibandingkan realitas yang nyata. Dengan realitas yang baru itu, manusia bisa melakukan apa saja yang diinginkannya. Manusia bisa mengubah fantasi, halusinasi, dan ilusinya, sebagai sebuah “realitas yang nyata”. berkat bantuan teknologi yang canggih. Itulah realitas yang sedang dialami masyarakat global saat ini realitas virtual (virtual reality) yang diakibatkan oleh Covid-19.

Realitas virtual (virtual reality) yang sedang kita realisasikan saat ini tentunya berguna sekaligus menjadi tantangan kita bersama. Dia berguna karena dapat memberikan kesenangan, kemudahan, dan pengembaraan. Seperti yang dikatakan oleh Mark Slouka bahwa dengan adanya reality virtual kita dapat melakukan sesuatu yang menyenangkan seperti teleshopping, teleconference, teledildonic, virtual café, virtual architecture, virtual museum, cybersex, cyberparty, dan cyberorgasm (baca: Mark Slouka, 15).

Di sisi lain, realitas virtual ini dapat menyebabkan masyarakat kehilangan realitas fisik yang sebenarnya, yang justru lebih berharga bagi pembangunan diri kita sebagai manusia seperti rasa kebersamaan, semangat komunitas yang selama ini dipegang erat oleh masyarakat, kecupan kening sebagai tanda perjumpaan dan perpisahan, itu semua hanya akan menjadi kenangan semata.

Perkembangan teknologi realitas virtual dianggap mampu membunuh, melecehkan, serta melacuri realitas fisik yang selama ini kita pegang erat. Dengan realitas virtual, manusia mampu keluar dari segala keterbatasannya untuk mengembara di dalam realitas yang tanpa batas. Kaki manusia tidak perlu lagi capek untuk berjalan-berjalan, toh dia bisa berjalan-berjalan dalam realitas virtual. Anak-anak tidak perlu bermain lagi di luar rumah bersama teman-teman, toh bisa bermain dengan teman-teman main mereka di dalam jagat raya video game. Sepasang kekasih memang rindu untuk bertemu, tetapi kini bisa lewat video call. Itulah realitas yang sedang terjadi sekarang ini. Realitas yang disebabkan oleh Covid-19.

Kehadiran Realitas virtual yang diakibatkan oleh Covid-19 tidak dapat disangkal lagi. Realitas virtual ini telah menjalari desa-desa kita yang terpencil, telah menjajah sudut-sudut rumah kita yang paling jauh, dan telah mengkontaminasi bahkan membunuh realitas fisik masyarakat kita, yang adalah identitas kita sebagai sebuah masyarakat.

Kita memang tidak menolak dunia virtual sebagai sebuah kemajuan teknologi dan sosial. Kita hanya menolak sifat yang paling ekstrim dari realitas virtual ini. Ia sudah mempengaruhi cara pandang manusia tentang realitas yang sebenarnya. Karena segala kebutuhan hasrat manusia dapat dipenuhi lewat kegairahan virtual ini, hubungan sosial masyarakat dapat diganti olehnya.

Oleh karena itu, sebagai masyarakat yang sangat memegang erat kebiasaan budaya kita (berjumpa dan berelasi secara fisik), yang kita perlukan adalah pengendalian realitas virtual ini agar ia tidak melampaui tapal batas yang seharusnya ia lewati, yakni tapal batas sosial masyarakat kita, dan cara berpikir masyarakat kita.

Lantas bagaimana caranya agar kita bisa kembali lagi pada realitas yang sebenarnya? Satu-satunya cara yang paling efektif adalah marilah kita mengikuti segala aturan yang sudah ditentukan Protokol Kesehatan yakni: tetap jaga jarak, pakai masker jika hendak keluar rumah, dan rajin mencuci tangan. Dengan pola laku yang disiplin seperti ini, niscaya kita akan keluar dari kehancuran yang diakibatkan oleh Covid-19. Dengan itu, kita optimis bahwa kita akan kembali lagi kepada realitas yang sebenarnya yaitu “realitas fisik.”

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya