Cogito Ergo Zoom

(Maha)siswa
Cogito Ergo Zoom 22/08/2021 74 view Pendidikan friso.co.id

Masih terpotret kuat dalam ingatanku, yakni seorang teman seperjalanan sewaktu SMA yang melintas dihadapanku dan sedang menggunakan baju bola bertuliskan “Cogito Ergo Sum”. Sebuah kata yang menarik dan memantik kesadaranku untuk mencari tahu apa makna di balik kata asing itu.

Saat aku mencoba fitur pencarian dalam Google, aku menemukan Website peringkat teratas dalam Search Engine Optimization (SEO) yang dipegang oleh Wikipedia dan sebuah gambar seorang tokoh bernama Rene Descartes. Aku baru saja mengenalnya.

Sesuai namanya yang asing, begitu juga dengan karyanya yang ternyata membuat pusing. Oleh karena itu, tidak jarang orang harus mengasingkan diri beberapa waktu untuk benar-benar memahami cetusan kata-katanya yang melampaui insting dan amat berarti bagi kehidupan manusia secara khusus kaum intelektual di tengah masa genting saat ini.

Dia adalah salah satu tokoh yang menenggelamkan dirinya dalam jejak-jejak pemahaman filsafat. Padahal banyak orang mengenal filsafat adalah ilmu yang dilingkupi oleh suasana kekunoan, tapi sepertinya itu bisa jadi keliru ketika kita mengenal Rene Descartes yang juga disebut sebagai bapak filsafat modern dengan pemikiran rasionalisme kontinental dan kontekstualnya.

Apa itu? Ya, kurang lebih dia lebih setuju bahwa pengetahuan itu persoalan otak bukan sekedar dari mata. Lalu bagaimana dengan fenomena pengetahuan kita yang saat ini harus berselancar oleh lajur tatap virtual yakni Zoom?

Oke, karena Rene Descartes adalah seorang bapak filsafat modern, maka izinkan aku menarik pemikirannya yang lahir di abad ke-18 selangkah maju ke abad 19 modern saat ini. Mari kita bahas jargon andalannya yang berbunyi “Cogito Ergo Sum”, artinya menurut Google Translate berarti “Aku berpikir maka aku ada”. 

Mungkin kita akan bingung untuk memahami arti kata ini termasuk diriku pribadi, tapi izinkan aku mencoba untuk merefleksikannya secara sederhana. Kata kuncinya adalah berpikir. Posisi kita saat ini, entah itu lagi makan, mengobrol, bermain bola, berjualan online, atau mungkin membaca tulisan ini dan sebagainya. Apapun itu sebenarnya amat sangat ditentukan bagaimana kita berpikir.

Hal ini juga bisa kita pahami saat kita sedang belajar. Apapun media yang digunakan, entah itu luar jaringan maupun dalam jaringan, kekuatan pengetahuan kita sangat ditentukan oleh otak yang mengandung miliaran sel ini. Fenomena media pembelajaran yang terdampak oleh pandemi ini memang membawa kita pada perjumpaan romantis dengan apa yang disebut sebagai Zoom. Mungkin tiap pagi, siang, sore, bahkan malam hari, dia menjadi salah satu perantara yang menghubungkan wajah kita dengan sesama.

Sebagai seorang mahasiswa, mungkin aku salah satu termasuk pengguna setia aplikasi ini dalam proses pembelajaran online saat ini. Aku hampir lupa, karena cukup terpana dengan fitur yang membantuku memahami diktat dan presentasi para dosen yang luar biasa. Namun sayang, ketika jaringan tidak mendukung, dia tidak bisa lagi berjalan sebagaimana mestinya. Apakah itu akan menghambat diri kita untuk tetap berpikir? Zoom bak sesuatu yang cukup didambakan dan memiliki peranan penting bahkan membuat kaum intelektual cukup tergantung dengan aplikasi ini.

Kalau kita kembali pada jargon sang filsuf modern tentang “Cogito Ergo Sum”, rasa-rasanya saat ini dengan penuh kerendahan hati boleh diplesetkan menjadi “Cogito Ergo Zoom”. Mengapa? Ya, saat ini sepertinya kita bisa berpikir kalau ada bantuan aplikasi ini, baru saja saya mengenal Rene Descartes dan dia memberikan pesan supaya kaum intelektual virtual terus mengasah kemampuan berpikirnya tanpa harus tergantung oleh sarana.

Pemikirannya yang senantiasa berjalan pada proses penemuan sejati ilmu pengetahuan itu yang hanya terletak pada rasio cukup menyingkirkan jauh sesuatu yang bersifat sebagai sarana dan hanya bersifat katalisator. Hal ini bukan berarti kita harus mengabaikan kemampuan dari sarana aplikasi ini, tetapi mari kita semakin bijak dan meluruskan pemahaman tentang mana tujuan pengetahuan yang sebenarnya harus kita olah dengan baik dan mana sarana untuk mencapai itu.

Bukannya malah dibalik, yang dikejar justru adalah sarana, tetapi yang dikesampingkan adalah tujuan itu sendiri. Mari kita terus lestarikan kegiatan berpikir setiap hari sekalipun ada banyak halangan di depan kita sebagai kaum intelektual. Sekian, salam hangat dari anak kampung. Terima kasih.
 

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya