Catatan Redaksi: Terorisme, Media Sosial, dan Derita Muslim Prancis

Admin The Columnist
Catatan Redaksi: Terorisme, Media Sosial, dan Derita Muslim Prancis 04/04/2021 307 view Catatan Redaksi Yuli Isnadi

Setiap pekan The Columnist menyajikan tulisan dari meja redaksi dengan mengangkat isu publik yang tengah berkembang dan patut diperbincangkan.

Kali ini catatan redaksi ditulis oleh Bung Yuli Isnadi membahas mengenai isu terorisme dan rasisme dengan berkaca pada kasus Prancis. Disampaikan secara ringan, namun membawa pesan penting khususnya bagi para milenial.

Selamat membaca !

"I can't even tell what was the starting point", balasnya di messenger. Teman saya itu warga negara Prancis. Tapi ia tak mampu menjelaskan ketika saya tanya akar masalah dari kekacauan luar biasa yang terjadi di sana akhir tahun lalu. Ada pembunuhan keji guru sekolah, diikuti kebijakan temperamen Presiden Macron, disusul oleh umpatan dan boikot beberapa negara dunia terhadap produk Prancis. "Entahlah", kurang lebih ucap Abderrahim, "semua terjadi begitu saja". 

Samuel Paty, seorang guru sejarah di sebuah sekolah, tewas mengenaskan lantaran dituduh memperlakukan siswinya secara rasis. Ia dibunuh oleh Anzorov, seorang teroris. Anzorov melakukan aksi kejinya itu setelah menonton video yang dibuat dan diunggah oleh Brahim Chnina. Video tersebut berisi amukan Chnina karena putrinya menerima perlakuan rasis oleh Paty di kelas. 

Perihal perlakuan rasis, menurut saya respon seseorang dalam menerima sebuah perlakuan rasis bergantung pada situasi lingkungan di sekitarnya. Kami pernah menjadi korban rasisme. Suatu ketika putri kami bersekolah di TK swasta sekitaran Tainan Park, Taiwan. Di hari pertama masuk sekolah, seorang guru melucuti jilbab putri kami. 

Katanya jilbab membuat anak-anak gerah. Alasan yang sama sekali tak masuk akal. Bagaimana tidak, musim panas telah lewat, malah menuju musim dingin. Setiap ruangan di sana pun ber-AC. Satu-satunya alasan yang masuk akal justru datang dari aksesoris-aksesoris agama tertentu yang menyembul dari anting-anting dan kalung si guru. Inilah alasan sesungguhnya.

Pelucutan paksa itu bukan hanya melukai perasaan kami sebagai orang tua, tetapi juga hak kami sebagai manusia yang memeluk suatu agama. Perlakuan rasis tersebut harus kami tanggung selama setahun. 

Meski begitu, respon kami tak berlebihan. Mengghibahi-nya bersama mahasiswa Indonesia lainnya, iya. Tapi protes penuh dengan amarah, tidak pernah. Sebab lingkungan tempat kami hidup tidak membentuk kami menjadi manusia-manusia yang temperamen. 

Taiwan adalah negara liberal. Semua agama dan keyakinan bisa hidup berdampingan di sana. Bahkan yang tak beragama sekalipun. Dan perlakuan rasis hanya sekali dan di satu tempat itulah yang pernah kami alami. Selebihnya baik-baik saja. Lingkungan nyaman ini yang membuat kami lentur menghadapi persoalan rasis di sekolah putri kami. 

Situasi seperti itu yang tak dimiliki Chnina. Saya pernah tinggal dan hidup di Prancis beberapa lama. Di sana hubungan antar komunitas masih bermasalah. Sebagian masyarakat lokal menstigma muslim di sana sebagai pelaku kriminal dan pencuri kesejahteraan. 

Mungkin benar sebagian masyarakat muslim di Prancis adalah pelaku kriminal. Saya sendiri pernah membuktikan itu. Di Paris utara, sekitar Stasiun La Chapelle, salah satu kantong muslim di Kota Paris, seorang migran merampas hp teman saya. 

"Kamu beruntung mereka tidak melukai mu", komentar dosen saya di sebuah jamuan makan malam. Wajahnya tampak khawatir sebab pelaku kriminal muslim di sana terkenal tak segan melukai korban-korbannya.

Tapi tidak semua muslim di Prancis itu demikian. Jumlah muslim yang tidak jahat jauh lebih banyak. Mereka mampu hidup sebagai warga negara yang baik. Bahkan beberapa di antaranya terlibat aktivitas sosial. Abderrahim teman saya itu contohnya. Ia dan komunitasnya sering membagi-bagikan makanan pada orang-orang yang kurang beruntung. Artinya, stigma muslim Prancis sebagai kriminal sama sekali tidak benar. Tapi stigma itu tetap ada dan terus hidup. 

Dan bukan cuma stigma itu saja. Sebagian masyarakat lokal juga melekatkan stigma lain yang tak kalah mengerikannya kepada muslim Prancis, yaitu sebagai pencuri kesejahteraan masyarakat lokal. 

Cerita ini saya dengar dari seorang mahasiswi dan aktivis Universitas Sorbonne, Paris. Ia bilang, "... di media, di majalah, tv dan radio... seolah-olah ada jutaan pengungsi muslim datang ke Prancis untuk mencuri pekerjaan dan fasilitas rumah untuk masyarakat lokal. Padahal tidak". Begitu ia bilang.

Saya tak sepenuhnya sepakat dengan pendapat mahasiswi itu. Data statistik menunjukkan memang ada ribuan migran muslim yang mendarat di Prancis. Dan mereka selalu mengajukan suaka di mana sebagian darinya sudah disetujui. Dan ketika permohonan suaka itu dikabulkan, saat itu pula mereka berhak mendapatkan fasilitas hidup, termasuk pekerjaan dan tempat tinggal. Artinya penglihatan masyarakat lokal terhadap kedatangan migran muslim ke Prancis itu betul, sedangkan mahasiswi Sorbonne yang menyangkal hal tersebut adalah salah. 

Tapi apakah kedatangan mereka adalah bencana? Apakah ribuan migran muslim itu benar-benar datang untuk mencuri pekerjaan dan kesejahteraan masyarakat lokal Prancis? Tunggu dulu. Jika masalah ini dipotret secara keseluruhan, tidak sepotong-sepotong, kesimpulannya bisa terbalik. 

Yang saya lihat mereka justru penyelamat perekonomian. Tenaga kerja migran muslim itu murah. Kedatangan ribuan migran muslim sama artinya dengan mendapat durian runtuh. Tiba-tiba saja ada ribuan tenaga kerja murah mendarat di Prancis. Padahal di saat yang bersamaan ada banyak perusahaan yang kekurangan tenaga kerja, terutama pekerjaan kasar seperti buruh konstruksi jalan. Berkat jasa merekalah pertumbuhan ekonomi terus bergerak. Karena kehadiran merekalah kesejahteraan masyarakat Prancis tetap terjaga. 

Jadi memang ada ribuan migran muslim masuk ke Prancis. Tapi mereka bukan pencuri pekerjaan, bukan pula perampas fasilitas perumahan masyarakat lokal. Mereka justru juru selamat perekonomian. 

Sayangnya, stigma tetaplah stigma. Meski migran muslim tak seburuk yang dipersepsikan, mereka tetap dianggap kerikil tajam di dalam sepatu oleh masyarakat lokal. Walau tak semua mereka kriminal dan justru punya peran penting dalam menjaga perekonomian negara, mereka kerap mendapatkan perlakuan tak mengenakkan. 

Sebagian muslim Prancis hidup dalam suasana tertekan. Serangan secara sosial bernuansa rasis kerap diterima. Bahkan media Charlie Hebdo merayakan keliberalan Prancis dengan menerbitkan kartun yang menyinggung perasaan masyarakat muslim di sana. Pada situasi yang lain, gesekan fisik berbau SARA antara masyarakat lokal dan migran muslim juga terjadi di sejumlah tempat. 

Dalam situasi demikianlah Chnina menerima cerita bahwa putrinya korban rasisme. Andai saja ia tinggal di lingkungan kondusif seperti di Taiwan, mungkin ia tak akan meradang. Tapi karena lingkungan tempat ia hidup penuh dengan tekanan, maka mengunggah video kemarahan ke media sosial menjadi amat beralasan. 

Unggahannya itu tentu tak bermaksud keji, sebab saya, sebagai orang tua yang putrinya juga mengalami perlakuan rasis, tahu bahwa Chnina sesungguhnya menuntut perlindungan agar keluarganya tidak diperlakuan secara rasis. Ia sama sekali tak bermaksud membunuh guru sekolah putrinya secara sadis. 

Tapi sial. Chnina tidak mengikuti perkembangan terorisme dunia sejak dua dekade terakhir. Organisasi teroris sudah bermetamorfosa berkat media sosial. Mereka memanfaatkan media sosial dalam menyebar paham radikal, merekut, sampai melancarkan serangan teror. 

Di Tunisia tahun 2015, Rezqui yang menewaskan 38 wisatawan ternyata menggunakan media sosial untuk mencari target dan merencanakan aksi terornya. Metode siber ini pula yang ditiru Anzorov. Video kemarahan Chnina dijadikan sumber informasi untuk merencanakan aksi brutalnya. 

Anzorov boleh jadi mengklaim diri sebagai pejuang Islam. Tapi itu hanyalah angan-angan kosong. Alih-alih memperbaiki situasi, yang ada justru sebaliknya. Kehidupan masyarakat muslim di Prancis justru terpuruk akibat ulahnya itu. 

Banyak organisasi penting masyarakat muslim Prancis dibekukan. Abderrahim, teman yang saya ceritakan di atas tadi, mengeluh karena sejak serangan Anzorov itu sejumlah masjid ditutup. Beberapa organisasi berpengaruh juga mengalami hal serupa, termasuk yang bergerak di bidang kemanusiaan dan Islamphobia. Padahal selama ini organisasi-organisasi tersebutlah yang berperan penting dalam menghapus stigma masyarakat lokal terhadap migran muslim.

Demikianlah. Di lingkungan yang toleransi kehidupan beragamanya buruk, peristiwa rasis dapat berujung pada postingan penuh amarah di media sosial. Di Prancis, postingan tersebut menjadi bahan baku bagi siber teroris dalam melancarkan aksinya. Dan namanya teroris, semua aksinya pasti kontradiktif. Merasa diri sebagai penyelamat, nyatanya justru penambah derita. 

Dan lebih sialnya lagi bila kejadian rasis itu ternyata tidak pernah ada. Seperti siswi "Z" yang berbohong kepada ayahnya, Brahim Chnina, tentang perlakuan rasis yang diterimanya di kelas Samuel Paty. Nyatanya, di persidangan barulah terungkap bahwa perlakuan rasis Samuel Paty itu sebenarnya tidak pernah ada. Seperti kata Abderrahim, "...tragis...".

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya