Catatan Redaksi: Bagaimana Terorisme Tumbuh Di Era Digital?

Admin The Columnist
Catatan Redaksi: Bagaimana Terorisme Tumbuh Di Era Digital? 18/04/2021 212 view Catatan Redaksi Yuli Isnadi

Setiap pekan The Columnist menyajikan tulisan dari meja redaksi dengan mengangkat isu publik yang tengah berkembang dan patut diperbincangkan.

Kali ini catatan redaksi ditulis oleh Bung Yuli Isnadi membahas mengenai peran dunia digital bagi tumbuh suburnya terorisme sekaligus sebagai alat pemberangusnya. Disampaikan secara ringan, namun membawa pesan penting khususnya bagi para milenial.

Selamat membaca !

Siapapun mengutuk aksi teror di pintu pagar Gereja Katedral Kota Makassar dan Mabes Polri. Kedua aksi itu tidak hanya menewaskan pasangan suami istri dan seorang petempuan pelakunya, tetapi juga merobek rasa kemanusiaan. Terlebih hal tersebut tidak sesuai dengan agama manapun di Indonesia. Bagaimana persisnya itu terjadi, sampai saat ini masih diselidiki.

Akan tetapi persoalannya bukanlah di situ, melainkan pada pertumbuhan masif terorisme beberapa waktu terakhir. Kita semua sudah bersungguh-sungguh memeranginya sejak beberapa tahun lalu, namun jumlah mereka tetap banyak. Beberapa bulan terakhir saja pihak aparat sudah menangkap ratusan terduga teroris, tapi sebagian yang lain justru berhasil melakukan serangan di Makassar. Ini mengindikasikan kelompok terorisme mengalami pertumbuhan pesat.

Pertanyaannya kemudian, mengapa teroris tumbuh amat pesat? Dan bagaimana cara mengantisipasinya?

Internet dan Terorisme

Internet telah mendistraksi cara manusia bertukar informasi. Pertukaran informasi sekarang berjalan lebih mudah, masif, cepat, dan murah. Dengan hadirnya website dan sejumlah platform media sosial, setiap orang di seluruh penjuru dunia kini terhubung secara virtual. 

Perkembangan ini ibarat sebuah pisau. Di satu sisi apa yang dikatakan para cyberoptimist adalah benar. Internet merupakan keberkahan bagi umat manusia. Karena internet mampu mempermudah proses elektoral, menciptakan kesetaraan politik, dan mengurangi tingkat kekerasan. 

Akan tetapi di sisi yang lain apa yang dikatakan cyberpessimist juga tak salah. Internet bisa menghadirkan petaka bagi manusia. Karena teroris ternyata berhasil menggunakan kemajuan pertukaran informasi yang diciptakan internet untuk mempercepat pertumbuhannya. 

Kesuksesan internet mengembangkan teknologi informasi dan komunikasi mengubah lanskap terorisme. Kelompok terorisme sejak beberapa waktu lalu telah memiliki karakteristik baru. Pertama, propaganda terorisme lebih efektif dan efisien. Dengan menggunakan website dan beberapa platform media sosial, mereka bisa melancarkan bujuk rayu untuk merekrut anggota baru secara lebih cepat dan murah, serta dapat menjangkau siapa saja. 

Kedua, organisasi terorisme kini terdesentralisasi. Organisasi teroris yang lahir di sebuah negara dapat berkembang di negara lain dan membentuk sel-sel kecil. Jamaah Islamiyah (JI) dan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) merupakan organisasi teroris yang lahir di luar negeri. Namun kini memiliki ‘cabang’ di Indonesia, bahkan tersebar di belasan provinsi. Pasangan pelaku bom bunuh diri di Makassar, misalnya, disinyalir sebagai anggota JAD Makassar. 

Ketiga, dukungan finansial organisasi terorisme semakin kuat dan lentur. Dana operasi di sebuah wilayah dapat berasal dari wilayah lain. Hal ini terjadi pada bom bunuh diri di Filipina 2019 lalu yang pendanaannya berasal dari wilayah Indonesia. Dan tak jarang teroris menipu calon donatur dengan menggunakan paltform media sosial terenkripsi, misalnya Telegram (CNBC, 18/12/2017).

Terakhir, bentuk dukungan simpatisan bersifat fleksibel. Internet membuat tiap orang dapat berpartisipasi sesuai dengan keinginan dan kemampuannya. Simpatisan teroris yang memiliki keahlian desain visual akan membuat meme yang mempromosikan paham radikal, sedangkan yang kuat secara finansial akan menjadi donatur tetap. 

Pendeknya, internet telah membuat teroris mampu merekrut anggota baru secara cepat dan murah, memperlebar jangkauan organisasi secara cerdik, dan menambah jumlah aksi secara gesit dan efisien. Inilah yang membuat perkembangan mereka sedemikian pesat beberapa waktu belakangan ini.

Memerangi Terorisme 

Lantas bagaimana cara menghambat pertumbuhan organisasi terorisme? Ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Pertama, membanjiri ruang maya dengan informasi dan pemahaman moderat. Bacaan, gambar, dan video yang memuat pemahaman deradikalisasi harus diproduksi dan dirilis ke jagat maya. Hal ini akan mempersempit ruang edar propaganda terorisme. Caranya adalah dengan mendorong organisasi-organisasi keagamaan moderat, seperti NU dan Muhammadiyah, untuk terlibat lebih aktif lagi di dunia maya.

Kedua, memperkuat pengawasan (surveillance) negara. Saat ini pemerintah sudah memiliki polisi siber (virtual police) untuk pengendalian kehidupan sosial dan politik. Satuan baru ini bisa dikembangkan untuk menghambat propaganda, aliran dana, dan konten berbau radikal di dunia digital. Dengan demikian deradikalisasi di dunia maya bisa segera dimulai.

Artinya, internet yang telah mengembagkan teknologi informasi dan komunikasi sedemikian rupa memang membuat terorisme berkembang pesat. Namun asalkan pemahaman beragama secara moderat lebih dominan di ruang maya dan pengawasan pemerintah di dunia virtual berjalan ideal, besar kemungkinan pertumbuhan terorisme bisa dipangkas.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya