Catatan Redaksi: Abu Janda Dan Kita Terperangkap Di Lubang Yang Sama

Admin The Columnist
Catatan Redaksi: Abu Janda Dan Kita Terperangkap Di Lubang Yang Sama 14/02/2021 155 view Catatan Redaksi Yuli Isnadi

Setiap pekan The Columnist menyajikan tulisan dari meja redaksi dengan mengangkat isu publik yang tengah berkembang dan patut diperbincangkan.

Kali ini catatan redaksi ditulis oleh Bung Yuli Isnadi, pengamat isu internet politik, membahas mengenai ujaran rasis di media sosial. Disampaikan secara ringan, namun membawa pesan penting khususnya bagi para milenial.

Selamat membaca!

Kalaulah ingatan tak meleset, saya tidak memiliki akun media sosial (medsos) sampai pertengahan Maret 2016 lalu. Baik itu Facebook, Twitter, Instagram maupun Youtube. Bagi saya, "apa gunanya punya akun medsos, kalau hanya membuat turun produktifitas". Berselancar di dunia maya untuk mencecap jutaan tulisan, gambar dan video dapat membuai siapapun hingga kehilangan banyak waktu kerja.

Semakin tinggi tingkat ketergantungan seseorang terhadap medsos, semakin rendah tingkat produktifitasnya. Dan begitu pula sebaliknya. Semakin seseorang terbebas dari rayuan medsos, semakin banyak pula hal-hal besar yang bisa dituntaskannya. Sesederhana itu.

Tapi itu dulu sebelum hal besar terjadi. Ketika saya melanjutkan studi ke luar negeri, kantor urusan internasional universitas tempat saya akan belajar mengoordinir teknis penyambutan mahasiswa internasional melalui messanger milik Facebook. Mahasiswa Indonesia yang telah lebih dulu studi di sana juga menggunakan paltform serupa untuk berbagi informasi penting. Maka mau tidak mau, akun Facebook harus dibuat. Karena tanpanya, studi saya bisa tertunda karena dokumen-dokumen yang dibawa dari Indonesia tidak lengkap.

Setibanya di universitas tempat saya melanjutkan studi, supervisor yang akan membimbing saya dalam penulisan disertasi ternyata memiliki keahlian di bidang politik internet. Saya terlibat diskusi di dalam dan di luar kelas tentang bagaimana medsos mengubah lanskap proses dan strategi memenangkan, menggunakan dan mempertahankan kekuasaan.

Alhasil, dua kejadian itu menghadirkan perubahan besar dalam hidup saya. Saat ini saya bukan hanya sudah memiliki beberapa jenis akun medsos, tetapi juga seorang pengguna aktif. Bahkan saya memiliki kualifikasi keahlian di bidang politik internet yang mengharuskan memantau medsos setiap hari selama beberapa jam.

Apa yang saya alami itu merupakan kisah bagaimana lingkungan sosial, politik, dan hukum dapat mengubah cara seseorang dalam memandang dan menggunakan medsos. Orang-orang yang semula sinis terhadap medsos bisa berubah menjadi pengguna aktif bila lingkungan sosial, politik dan hukum tempat ia hidup memaksakan hal itu.

Kebiasaan-kebiasaan yang ada di dalam komunitas maupun masyarakat, kebijakan-kebijakan dan regulasi yang dibuat lembaga formal, serta informasi dan pengetahuan yang beredar luas dapat membentuk cara seseorang menggunakan medsos. Dan dalam kaca mata seperti inilah kita harus melihat kasus yang sedang menghimpit Abu Janda alias Permadi Arya.

Abu Janda bukanlah sedang diduga melakukan rasisme, melainkan ia diduga menjadi korban dari buruknya lingkungan sosial, politik dan hukum di Indonesia. Toleransi antar etnis dan agama di Indonesia masih belum begitu baik, dan hal itu secara terus-menerus dipolitisir banyak pihak untuk memenangkan, menggunakan, dan mempertahankan kekuasaan. UU ITE yang sangat longgar penafsirannya membuat siapapun dapat melaporkan siapapun secara bebas. Kombinasi ketiga hal ini membentuk cara pandang Abu Janda dalam melihat dan menggunakan media sosial. Ia seolah dipaksa baku hantam menggunakan isu SARA di media sosial demi membela jagoan politiknya yang kemudian berujung para urusan hukum.

Berbagai artikel berita dan video wawancara Abu Janda yang dirilis oleh Detik.com mengungkap hal itu. Pada mulanya, ia adalah sebagaimana orang pada umumnya, dan bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan Jepang. Karena resah lantaran membaca postingan rasis dan intoleran di media sosial, ia tergerak untuk melakukan serangan balik. Lalu politisi mempolitisir situasi itu hingga tanpa disadari ia telah terjerumus terlalu dalam dan terjerat tuduhan SARA.

Pertanyaannya kemudian, apakah hal itu hanya terjadi pada Abu Janda seorang? Apakah yang terjebak di dalam perangkap cara pandang dan penggunaan medsos secara buruk yang diciptakan oleh bobroknya lingkungan sosial, politik dan hukum hanya Abu Janda saja?

Jawabannya adalah tidak. Kita hidup di lingkungan yang sama dengan Abu Janda, maka sebetulnya sebagian besar dari kita pun terjebak di lubang yang sama. Sebagian besar dari kita melihat medsos sebagai alat untuk baku hantam menggunakan isu SARA demi mendukung nafsu kekuasaan para politisi untuk kemudian berakhir pada saling lapor saling penjara.

Situasi ini sebetulnya sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu. Sebagian percaya situasi ini bermula sejak Pilpres 2004, sedangkan yang lain menyebut tahun 2012 ketika Pilkada DKI Jakarta berlangsung. Apapun itu, saya menemukan Pilkada DKI Jakarta tahun 2017 yang lalulah sebagai momen penting ketika sebagian besar kita dijerumuskan ke dalam lubang kelam ini.

Riset saya perihal Pilkada DKI Jakarta 2017 bercerita bagaimana itu terjadi. Sejarah perselisihan antar suku dan agama di negeri ini belum benar-benar sembuh. Celakanya, luka yang belum sepenuhnya mengering itu dimanfaatkan politisi untuk mendapat dukungan di kotak suara Pilkada.

Batas antara tokoh agama yang betul-betul menuntut keadilan terhadap dugaan penistaan agama dengan politisi yang memanfaatkan isu agama untuk mendapatkan suara pemilih di Pilkada, amat sumir. Garis tegas antara mereka yang murni berorientasi hukum dengan mereka yang berorientasi politik pada demo super besar 411 dan 212 di Monas amat kabur.

Pada sebuah sesi wawancara saya bertanya kepada salah satu tokoh agama yang mengaku murni menuntut keadilan terhadap dugaan penistaan agama. “Bagaimanakah implikasi tuntutan tersebut terhadap Pilkada DKI? Apakah anda sama sekali tidak memperdulikan dampak politiknya?”, tak ada jawaban yang memuaskan. Di saat yang sama beredar luas video konsolidasi antara tokoh-tokoh agama tertentu dengan salah satu kontestan Pilkada DKI Jakarta.

Kelamnya situasi sosial dan politik saat itu mengubah cara pandang dan penggunaan medsos. Menyasar siapapun tanpa ampun. Sampai-sampai beberapa tokoh agama yang semula cenderung menghukumi media sosial sebagai barang haram, beralih menganggapnya sebagai senjata untuk bertempur. Pertempuran virtual semakin meriah ketika beberapa satuan pasukan maya terwujud, seperti Muslim Cyber Army, Jasmev, dan lainnya. Jutaan dari kita terjebak di perang suci jagat maya di mana medsos sebagai senjatanya.

Situasi itu ternyata tidak membaik setelah Pilkada DKI Jakarta usai. Eskalasinya terjadi di sekitaran Pilpres 2019 lalu, di mana masif terjadi saling serang dan hina menggunakan medsos dengan SARA sebagai bahan bakar yang berujung pada saling lapor ke aparat. Dan hal itu terus berlangsung sampai sekarang, saat Abu Janda dijerat kasus dugaan rasisme.

Sepanjang sejarah kelam itu, jumlah korban yang dipaksa memandang dan menggunakan media sosial secara buruk amat banyak. Apa kabar Buni Yani, Jonru Ginting, Ahmad Dhani, Syahganda Nainggolan, Jumhur Hidayat, dan yang lainnya. Bagaimana pula nasib 3000 kasus aduan UU ITE yang dicatat oleh SAFEnet pada tahun 2019 lalu. Memang tak semuanya terkait politik dan SARA, namun angka itu mampu menujukkan bahwa jumlah orang yang terjebak di dalam praktek bermedsos secara buruk tidaklah sedikit. Abu Janda tidak sendirian terperangkap di lubang itu.

Demikianlah realitasnya. Kombinasi dari belum idealnya relasi antar suku dan agama, para politisi yang memanfaatkan situasi tersebut, serta pasal karet UU ITE telah memerangkap sebagian besar kita. Kita seolah dipaksa untuk baku hantam menggunakan isu SARA di medsos demi memenangkan jagoan politik masing-masing, untuk kemudian berakhir pada saling tuntut dan saling penjara.

Abu Janda itu bukanlah pelaku, ia hanyalah korban yang terjebak untuk menggunakan media sosial secara buruk. Dan Abu Janda bukanlah satu-satunya yang terjebak, karena sebagian besar dari kita pun berada di lubang yang sama.

Diam-diam saya merenung dan terlintas sebuah imajinasi. Saya duduk di sebuah Café, satu meja dengan Mark Zuckerberg, Jack Dosey, dan Chad Hurley. “Good job, boys!”, ucap saya sambil mencecap segelas kopi pahit, yang disambut ledakan tawa para politisi di meja sebelah kami.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya