Boomerang Effect European Union-Russia Energy Divorce

Mahasiswa
Boomerang Effect European Union-Russia Energy Divorce 04/07/2024 28 view Lainnya pict.sindonews.net

Pada Februari 2022 Uni Eropa menjatuhkan 2 poin sanksi terhadap Russia, kebijakan tersebut mencakup tentang larangan eksport teknologi penyulingan minyak ke Russia dan pembatasan terhadap berbagai layanan yang terkait dengan energi ke Russia.

Pada Juni 2022 Uni Eropa melarang impor minyak bumi Russia pada tahun 2022 dan produk olahan oli yang dimulai pada tahun 2023. Pada Bulan Agustus 2022 ban produk energi Russia enter in to force.

Pasokan energi yang masuk ke Uni Eropa dari Russia mencapai 167,7 miliar meter kubik atau setara dengan 37,5 total impor gas alam Uni Eropa berdasarkan data BP statistik, dengan mayoritas negara yang bergantung dari energi Russia itu adalah negara-negara Uni Eropa seperti North Macedonia, Finlandia, Bulgaria, Slovakia, Jerman, Italia, Polandia, dan Perancis berdasarkan data European Union Agency for the Cooperation of Energy Regulators.

Penghentian pasokan energi Russia ke Eropa tersebut memberikan dampak signifikan terhadap negara-negara Uni Eropa seperti Jerman yang mengimpor lebih dari 40% total energinya dari Russia, hal tersebut menimbulkan efek domino terhadap negara-negara Uni Eropa lainya seperti Norwegia, Belanda, Austria dan negara Uni Eropa lainya. Dengan terbatasnya energi dari Russia membuat inflasi pada Uni Eropa itu sendiri.

Sejak diberlakukan pada tahun 2022 inflasi Uni Eropa mencapai angkat 8,6%, pada tahun 2023 mencapai 10,4%, dan pada tahun 2024 mencapai 12,1% inflasi terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun semenjak kebijakan tersebut diberlakukan.

Penerapan saknsi tersebut telah menurunkan pendapatan Russia sebesar 151 miliar dollar dengan Uni Eropa menyumbang 54% dari pendapatan tersebut. Penerapan sanksi tersebut tidak menimbulkan krisis yang sama seperti yang dirasakan oleh Uni Eropa pada saat kebijakan tersebut diberlakukan, setelah sanksi itu diberlakukan, Russia mengalihkan mata uang transaksi energi ke rubble dan mencari pasar baru yang potensial yaitu Tiongkok. Dengan meningkatkan ekspor batu bara ke Tiongkok menjadi 100 juta ton, menajadkan Tiongkok sebagai mitra potensial transaksi Russia setelah pasar energi ke Eropa telah di tutup oleh Eni Eropa.

Setelah pasokan energi Russia telah di stop ke Eropa, Tiongkok menjadi mitra baru import energi Russia melalui pipa power of Siberia 1, dengna total transaksi batubara, gas, dan minyak bumi dari Russia mencapai 12,2 milliar dollar berdasarkan pusat penelitian energi dan udara bersih yang berbasis di Helsinki, Kerjasama energi ini terus berlanjut dan berpotensi menggantikan Uni Eropa sebagai importir utama energi Russia setelah power of Siberia 2 mulai beroperasi pada tahun 2030.

Selain munculnya Tiongkok sebagai kandidat yang akan menggantikan Uni Eropa sebagai importir energi Russia, Russia mengharuskan pembayaran transaksi gas dan energi Russia ke Amerika maupun Uni Eropa harus menggunakan mata uang rubble, kebijakan tersebut sebagai respon Russia untuk menanggapi sanksi yang dijatuhkan Uni Eropa terhadap produk energi Russia. Kebijakan Putin tersebut menuai penolakan negara-negara Uni Eropa pelanggan gas Russia seperti Jerman, Austria, Italia, Vienna yang tidak setuju jika produk gas Russia harus di bayarkan dengan mata uang rubble Russia dibandingkan dengan mata uang Euro.

Boomerang Effect

Jadi, apakah efek bumerang itu? "Boomerang" adalah senjata lempar kayu melengkung yang digunakan oleh Suku Aborigin Australia, yang dapat kembali ke pelemparnya jika meleset dari sasaran. Analogi bumerang digunakan untuk melihat kondisi yang terjadi di Uni Eropa setelah mengeluarkan kebijakan larangan energi terhadap Rusia.

Tujuan untuk mematikan sumber pendapatan energi Rusia dari import energi berdampak buruk kepada keadaan negara Uni Eropa itu sendiri, seperti Austria pada tahun 2022 mengganti pembangkit listrik tenaga gas mereka menjadi pembangkit listrik tenaga batu bara unutuk mengakselerasi atau langkah preventif jika terjadi krisis energi Uni Eropa. Bosnia dan Herzegovina pada Bulan Maret 2022 setelah ban diberlakukan mengubah pembangkit listrik tenaga surya mereka ke batu bara, Perancis menghidupkan kembali pembangkit listrik batu bara mereka yang telah ditutup sebelumnya, Jerman menghidupkan kembali pembangnkit listrik tenga batu bara mereka untuk menningkatkan pasokan energi jika terjadi krisis yang lebih buruk, Belanda menghidupkan kembali pembangkit listrik batu bara mereka untuk menghemat penggunaan gas.

Penggunaan batu bara kembali membuat transisi energi hijau Uni Eropa. Merespon hal tesebut Uni Eropa memberlakukan REPowerEU untuk menanggapi krisis energi yang disebabkan oleh invasi Russia ke Ukraina, guna menghentikan ketergantungan negara Uni Eropa terhadap energi fosil dari Russia, 3 poin dari REPowerEu yaitu : menghemat energi, diversifikasi pasokan energi, produksi energi hijau.

Dengan REPowerEu Uni Eropa bertujuan untuk mengganti kompensasi gas yang hilang setelah ban energi terhadap Russia dan membuat diversivikasi sumber daya energi yang tidak bergantung kepada energi Russia saja.

Ban energi tersebut dinilai tidak efektif untuk mencapai melemahkan ekonomi Russia sehingga tensi konflik dapat mereda, adanya ban energi Russia ke Eropa membuat posisi Eropa sebagai importir terbesar energi Russia digantikan oleh Tiongkok dan meninggalkan Eropa dengan krisis energi dan inflasi karena ketergantungan terhadap energi Russia.

Jika dilihat dari segi kerugian yang ditanggung oleh kedua belah pihak, kerugian yang dialami negara negara Uni Eropa jauh lebih besar dari kerugian ekonomi yang dialami oleh Russia, sanksi yang diberikan Uni Eropa pada Russia bukan pada komoditas yang mudah digantikan, melainkan pada komoditas yang krusial sehingga membutuhkan waktu transisi dan peneysuaian agar dapat keluar dari krisis yang disebabkan oleh kebijakan yang di keluarkan oleh Uni Eropa itu sendiri, sehingga hal ini membuat efek boomerang terhadap Uni Eropa sendiri, sanksi yang ditujukan untuk melemahkan ekonomi Russia justru berbalik kepada pemiliknya sendiri.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya