Bertahan di Lingkungan Kerja Toksik

Statistisi Muda di Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi Riau
Bertahan di Lingkungan Kerja Toksik 06/09/2021 58 view Opini Mingguan linkedin.com

Dua hari yang lalu secara tak sengaja saya membaca berita perundungan dan pelecehan di lingkungan kantor Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat. Saya terkejut membaca isi surat terbuka tersebut. Sebab ternyata korban adalah seorang pria. Mirisnya lagi, hal ini sudah berlangsung lama dari tahun 2012. Korban sebenarnya sudah pernah melapor baik ke atasan maupun kepada pihak kepolisian, namun tak ada hasil. Oleh sebab itu, jalan viral lewat media sosial akhirnya dipilih korban agar mendapatkan keadilan.

Kejadian tersebut membuka mata kita semua bahwa perundungan bukan hanya terjadi di lingkungan sekolah tapi bisa juga di tempat kerja yang berisi orang-orang dewasa secara usia. Di mana bullying merupakan sebuah ekses dari pergaulan sosial antara sesama rekan kerja baik antara atasan dan bawahan maupun antara sesama bawahan itu sendiri. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Judith Lynn Fisher-Blando dari University of Phoenix berjudul Workplace Bullying: Aggressive Behaviour and its Effect on Job Satisfaction and Productivity, bahwa hampir 75 persen karyawan menjadi korban bullying di tempat kerja ketimbang pelecehan atau pelecehan seksual di tempat kerja (liputan6.com).

Bentuk bullying di tempat kerja bisa bermacam-macam. Beberapa misalnya berupa intimidasi secara nonverbal, mengecilkan posisi seseorang di tempat kerja, menghasut rekan kerja lain untuk tidak suka dengan korban, menyebarkan fitnah, dan lain sebagainya. Contoh-contoh tersebut bukan hanya sekedar teori belaka, sebab penulis pun pernah mendapat curahan hati (curhat) dari teman masa kuliah dulu tentang perjuangannya bertahan menghadapi bullying di tempat kerja.

Kejadian tersebut bermula dari ketidaksinkronan pemikiran sang teman dengan atasannya di kantor mengenai pekerjaan. Mungkin tipe atasannya adalah tipe yang tidak suka dibantah oleh bawahan sehingga beliau merasa sakit hati. Walaupun teman tersebut sudah berbesar hati untuk meminta maaf, tapi atasannya tetap tidak mau memaafkan.

Selanjutnya berbagai perlakuan tidak menyenangkan pun diterima teman tersebut selama berada di kantor. Hal ini sesuai dengan penelitian Linde (2016) dan juga penelitian Tsuno & Kawakami (2015) bahwa faktor iklim organisasi, gaya kepemimpinan otoriter dan laissez-faire dapat mempengaruhi kejadian bullying di tempat kerja.

Adapun penyebab aksi bullying ini seperti dilansir dari Liputan6.com, bahwa korban bullying biasanya karena etos kerja berbeda dan lebih baik dari rekan-rekannya dan berpotensi mengungguli yang lainnya. Namun, apapun alasannya, bullying merupakan kejahatan yang membuat orang terganggu secara psikologis dan mental.

Kebanyakan pelaku bullying cenderung memiliki sifat-sifat yang sama. Mereka manipulatif, suka memegang kendali dan memperlakukan segala sesuatu dan semua orang sebagai saingan. Ketika mereka merasa kurang kompeten dan tahu bahwa mereka tidak dapat memenangkan kompetisi, mereka memilih untuk menggertak orang-orang yang mereka anggap sebagai ancaman agar mereka merasa memiliki kendali dan berkuasa.

Menurut penuturan sang teman, selain karena perdebatan masalah pekerjaan tersebut terdapat juga alasan lain. Sebelumnya, atasannya juga sudah pernah menunjukkan ketidaksukaannya kepada teman tersebut. Tidak lain karena pimpinan paling tinggi di kantor pernah menunjuk langsung sang teman untuk menghadiri acara di Jakarta.

Atasan langsung sang teman ini menuduh teman tersebut menjilat pimpinan kantor. Padahal, menurut teman penulis, dirinya tidak pernah meminta kepada pimpinan untuk diberangkatkan. Selama ini dia hanya bekerja semaksimal mungkin yang dia bisa. Mungkin pimpinan menilai teman ini sangat menguasai bidang tersebut sehingga menunjuk langsung.

Alhasil teman tersebut menjadi korban bullying dari atasannya (pelaku) tersebut. Berbagai kejadian tidak menyenangkan dialaminya seperti intimidasi secara nonverbal dengan dikeluarkan semua barang-barangnya dari ruangan kerja. Kebetulan waktu itu korban berada satu ruangan dengan pelaku.

Tidak sampai di situ, korban juga pernah merasa dikucilkan posisi di tempat kerja dengan tidak dilibatkan lagi dalam berbagai rapat ataupun kegiatan kantor lainnya. Dan yang lebih parahnya lagi, menghasut rekan kerja lain untuk membenci korban.

Kejadian demi kejadian tersebut cukup membuat teman ini merasa tertekan. Ditambah lagi pada saat itu dirinya baru saja melahirkan dan dalam masa menyusui. Hormon dan psikologis ibu menyusui yang bekerja cukup membuat emosi tidak stabil pada saat itu. Bahkan sempat mengurus kepindahan ke kantor lain, namun urung karena pindah juga tidak semudah yang dibayangkan.

Belum lagi pelaku yang saat itu masih menjadi atasan langsung juga menolak menandatangani Daftar Penilaian Prestasi Pegawai (DP3) milik korban. Akhirnya korban menemui kepala sub bagian kepegawaian. Dan akhirnya disetujui untuk pindah seksi dan otomatis berganti atasan.

Namun, itu pun belum menyelesaikan permasalahan. Karena pelaku masih berusaha mengucilkan dengan sengaja membuat grup Whatsapp bidang dengan tidak memasukkan korban di dalamnya. Namun mirisnya, atasan yang lebih tinggi dari pelaku justru melakukan pembiaran hal tersebut selama berbulan-bulan. Sayangnya korban tidak bisa membalas semua yang dilakukan oleh pelaku karena memang biasanya pelaku perundungan adalah orang yang lebih berpengaruh di tempat kerja dari pada korbannya.

Tentu saja kinerja teman ini menjadi menurun dan merasa tidak percaya pada siapa pun lagi di kantor. Bahkan ketika berada di kantor pun merasa sudah tidak punya teman. Karena korban sudah dilabeli predikat yang buruk oleh pelaku. Bahkan rekan kerja yang dibantu kepindahannya ke kantor mereka oleh teman ini pun hanya diam saja. Karena semua main aman, tidak mau cari masalah dan menyelamatkan diri masing-masing.

Akhirnya, setelah melewati berbagai proses yang tidak mudah. Teman penulis bisa bebas dari rasa tertekan dan stres setelah mendengar nasihat dari suaminya. Pertama yang dilakukannya adalah berusaha melepaskan semua beban dengan cara mengikhlaskan semuanya.

Kedua adalah berusaha mengambil hikmah dari peristiwa tersebut dengan cara mengintropeksi diri. Lebih berhati-hati untuk berbicara terutama dalam penggunaan diksi yang mungkin tidak pas. Khususnya terhadap atasan yang mungkin punya ego tersendiri untuk mau selalu dihormati oleh bawahan. Dari hal tersebut sang teman juga belajar untuk tidak terlalu akrab dengan atasan. Karena kadang teman ini suka lupa diri dalam berbicara dan menganggap atasan adalah rekan kerja yang sebaya.

Ketiga adalah peran atasan yang lebih tinggi juga penting. Karena mau tidak mau adanya bullying ini menyebabkan kinerja menurun. Tidak hanya kinerja individu, melainkan juga organisasi. Apalagi atasan yang lebih tinggi dari pelaku, sudah tidak seharusnya mencari jalan aman sendiri. Atasan mempunyai kewajiban untuk membina bawahan ke arah yang lebih baik.

Semenjak kejadian tersebut, teman ini berusaha bersikap cuek terhadap pekerjaan kantor. Dan kebetulan dirinya menduduki jabatan fungsional tertentu yang tidak bergantung pada pekerjaan dari atasan di kantor. Justru banyak pekerjaan dari atasan yang lebih tinggi ditolak secara halus oleh sang teman. Dengan alasan sudah tidak tahu lagi perkembangan pekerjaan kantor karena sudah lama tidak dimasukkan dalam grup Whatsapp bidang.

Akhirnya atasannya tersebut menyadari dan mau tidak mau menempatkan kedudukan teman tersebut pada tempat semestinya. Walaupun dengan pelaku sampai saat ini hubungan teman ini masih belum bisa dikatakan baik.

Terakhir, keempat, adalah peran rekan-rekan kerja lain yang mengetahui aksi bullying tersebut tidak perlu sampai membela korban. Tapi cukup dengan tidak mengikuti apa yang dikatakan pelaku, apalagi kalau pelaku bukanlah atasan tertinggi di kantor.

Kini teman tersebut mengaku berubah menjadi orang yang baru. Jika dulu terlalu naif dan menganggap semua orang itu baik, saat ini teman tersebut belajar bahwa semua orang itu tidak sama. Pemikiran orang berbeda-beda dan kita harus pandai menempatkan diri.

Dan karena harus tetap bertahan di tempat tersebut, jurus jitu yang dilakukan teman itu hanya satu yaitu lebih banyak diam. Tetapkan tujuan dari rumah ke kantor adalah untuk bekerja. Selain itu menghindari duduk-duduk berbicara hal yang tidak berkaitan dengan pekerjaan kantor. Sebab belajar dari sikap rekan-rekan kerja padanya saat ia di-bully, sang teman jadi tahu bahwa tidak ada satu pun orang yang dapat dipercaya.

Selain itu ia juga bergabung dengan komunitas yang membangun dari segi positif. Bertemu dengan orang-orang yang menginspirasi dan membuatnya tumbuh menjadi pribadi lebih baik.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya