Beras, Orde Baru dan Jati Diri

Penulis Lepas
Beras, Orde Baru dan Jati Diri 09/08/2023 282 view Ekonomi Milik Penulis, Tempo Magazine

Dua patah kata dari Orde Baru antara lain; ekonomi sebagai panglima dan periode terlama menjabat dalam sejarah pemerintahan Indonesia. Ekonomi sebagai panglima, dielu-elukan jadi bagian penting Orde Baru dengan pelbagai program kerja gigantik agar hengkang dari sebutan terbelakang. Di samping sisi, orang-orang kiri dipaksa bungkam, bila tak mau tiba-tiba muncul orang misterius mengetuk pintu rumahnya di malam hari.

Pembangunan Lima Tahunan (Pelita) terus digubris untuk menawarkan aras pembangunan ekonomi. Konon, rezim ini sangat tertarik oleh gagasan Walt Withman Rostow untuk mengarahkan Indonesia menjadi negara yang serba kuat dalam pelbagi aspek. Alias being to be negara digdaya dari Asia yang harus disegani oleh bangsa lain.

Siang yang begitu menyengat, sawah milik pak petani tak seperti biasanya. Sawah itu tiba-tiba dikerumuni orang-orang berpakaian rapi, lengkap dengan sebatang cerutu yang menancap dimulutnya. Sembari menyaksikan padi kuning keemasan merunduk nan gemuk. Padi itu menandakan siap dipanen untuk kepentingan ekspor. Tempo, 21 November 1981 memotret, Presiden Soeharto tengah mengangkat seikat padi nan kuning seperti senyumannya yang melambai-lambai kepada para konsumen untuk lekas-lekas mengetuk kontrak ekspor.

Setelah geger geden ekonomi di Eropa awal medio 1980 an terjadi resesi, Margareth Tatcher yang geram, karena rakyatnya mengusung tema revolusi, sontak karena resesi tak terkendali melumat kebahagian mereka. Kekurangan pangan menghantui dunia waktu itu, dan Indonesia diramalkan koyak dilumat imbasnya, bila tak sigap menyiapkan komoditas pangannya.

Presiden Soeharto dengan tenang menghadapi ancaman itu. Ia mengutus orang-orang terpercayanya untuk menyisir desa-desa penghasil padi, untuk memastikan hasil panen tak terkendala. Mafhum, prioritas untuk swasembada beras alhasil jadi target penting dalam Pelita satu mulai dari 1970 terhitung lima tahun setelahnya.

Laporan Tempo, 21 November 1981, mengutarakan impor beras yang pernah melilit Indonesia, lantaran swasembada beras belum terealisasikan dengan baik. Harga gabah yang naik menukik, membawa banyak sentilan waktu itu, termasuk unjuk rasa yang digerakan oleh mahasiswa untuk menyentil sebab musabab harga beras naik.

Penyebabnya ialah, Indonesia melakukan banyak impor beras dari negeri tetangga paman Ho Chi Minh (baca; Vietnam). Alat tukar global yang elastis, bisa sewaktu-wektu tak enak badan, menyebabkan naik turun harga dapat berpengaruh. Syahdan, berdiri di atas kaki sendiripun menjadi sebuah kunci, sehingga memantik rezim Orde Baru untuk membuat regulasi tepat sasaran menyoal beras lain-lainnya.

Beras, pangan dan perdagangan sudah sejak dari dahulu jadi komponen penting bagi masyarakat nusantara. Dalam History of Java gubahan Thomas Stamford Raffles, disitu ia mencatat, bagaimana kebiasan tanam-menanam pada masyarakat agraria, di Jawa, sudah sejak dari dahulu jadi bagian penting dalam perjalanan hidup manusia di Pulau Jawa.

Waktu itu, masyarakat agraria di pelosok negeri belum mengenal istilah ekspor. Mereka menanam dan memanfaatkan hasil tanamnya yang subur itu, untuk menghidupi sanak famili saja. Syahdan, Rafles juga menyelipkan pelbagai kritik bagi masyarakat agraria menuturkan, mereka sering merasa puas, dibandingkan dengan orang Eropa yang tanahnya tak subur seperti Nusantara, sehingga harus mengarungi lautan nan kejam untuk mendapatkan kekayaan sumber daya bagi kelangsungan hidup mereka.

Selanjutnya, seorang ekonom bernama Michael P. Todaro, lebih lanjut memberikan gambaran atas komoditas yang diproduksi oleh suatu kelompok ataupun bangsa yang kurang dapat ditiru, sehingga produk itu jadi kunci penting dalam perdagangan. Todaro menyebutnya sebagai keunggulan komparatif.

Keunggulan komparatif diartikan sebagai keunggulan produksi ataupun sumber daya yang tidak dapat ditiru, sehingga produk itu berpeluang berimbas kepada perdagangan antar negara, acap kali sekarang kita ketahui sistem impor dan ekspor. Mafhum, presiden soeharto menyadari bagaimana tanah di Nusantara yang begitu subur itu, dapat dimanfaatkan untuk menunjang perdagangan. Termasuk, melihat prospek beras yang menggiurkan itu.

Narasi populis menyeruak, Orde Baru telah menjadi macan asia, kala dapat memproduksi bertonton gabah. Walakin, ada beberapa celoteh dari akar rumput (baca; petani) yang masih saja kelabakan untuk dapat menyeimbangkan kala harus menyangkul sawah dengan menyeimbangkan kebutuhan pokok hariannya.

Tempo, 16 November 1985, merekam pembicaraan Pak Tani, yang masih saja, kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Syahdan dalam teori ekonomi, bila suatu barang itu menyeruak di pasaran, maka harga barang itu akan murah. Kendati demikian, perlu ada sebuah kran dan penimbang yang serius untuk berbicara menyoal hidup Pak Tani.

Surplus besar yang terjadi sempat FAO (Food and Agriculuture Organization) memberikan apresiasi kepada Orde Baru. Soeharto diberikan ruang dalam sidang untuk dapat menyampaikan pidato mengenai kiat-kiat penting dalam bidang pangan dan perdagangan.

Beras dan perdagangan terselip sebuah kisah, bagaimanana komoditas itu menghidupi dan berpengaruh pada gerakan yang dihelat pada tahun 1959. Buku Rosihan Anwar berjudul Musim Berganti merangkai sebuah kisah bagaimana para diplomat kita waktu itu, seperti Agus Salim, Sjahrir, dkk, bersandar pada sekarung beras, untuk dijual guna menyokong gerakan mereka, sebagai diplomat brilian yang berjuang untuk menyikat kolonialisme di bumi pertiwi.

Syahdan, kita alhasil mengingat ujaran Hadratussyeikh Hasyim Asy’ari, bahwasannya petani itu ialah pahlawan negeri. Dari sepiring nasi kita jadi tahu, ada setitik keringat perjuangan untuk menanamnya dan dari sekarung beras kita menyerkap, ada sebuah harapan di dalamnya.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya