Beragama Tapi Semu

Penulis Buku Cerita Anak 'Si Aropan'
Beragama Tapi Semu 26/02/2021 180 view Agama www.nesabamedia.com

Di satu pagi, hujan turun dengan lebatnya. Seorang asisten rumah tangga—sembari menaungi dirinya dengan payung—terlihat sibuk menyirami bunga-bunga di halaman rumah milik majikannya. Saat ditanya mengapa bunga-bunga itu disiram, sementara hujan saat itu begitu deras, ia bersikukuh bahwa tugas menyiram bunga di pagi hari sudah diamanatkan kepadanya.

Apakah asisten rumah tangga itu patuh pada perintah majikannya? Benar! Tapi, dia jelas bukan asisten rumah tangga yang bijak. Dia memahami dan menerima perintah majikannya hanya sampai pada tahap leterlek. Dia menafikan konteks. Selain buang-buang tenaga dan waktu, yang dia kerjakan pun berujung kesia-siaan belaka. Sebab bunga-bunga itu tidak perlu lagi disiram karena sudah diguyur air hujan.

Kombinasi Teks dan Konteks

Ilustrasi soal asisten rumah tangga tadi boleh diasosiasikan dengan kecenderungan banyak orang yang menafsirkan dan menjalankan ajaran agamanya hanya secara tekstual. Baru-baru ini, misalnya, seorang bayi di Rumania harus meregang nyawa setelah menjalani ritual baptis yang diselenggarakan oleh salah satu Gereja Ortodoks di negara Eropa Timur itu. Konon, peristiwa naas tersebut diakibatkan oleh baptisan yang dilakukan dengan cara membenamkan sang bayi malang ke dalam air. Hasil otopsi mengungkap adanya cairan di paru-paru bayi yang baru berusia enam minggu itu.

Memang dalam Matius 3:13-17 dikisahkan bahwa Yesus dibaptis oleh Yohannes Pembaptis dengan cara dibenamkan ke dalam air Sungai Yordan. Baptis atau pemandian merupakan salah satu ritual sakral dan wajib dijalankan oleh umat Kristiani. Tapi, pertanyaannya adalah haruskah dibenamkan ke air sungai seperti yang dilakukan kepada Yesus? Menyangkut hal ini, masih terdapat silang pendapat di antara denominasi gereja-gereja di dunia. Sebagian masih bersikukuh bahwa baptis harus dilakukan dengan membenamkan ke dalam air sungai atau kolam. Sebagian lagi ‘memodifikasi’ dengan cara yang lebih sederhana: cukup memercikan air ke kepala.

Terkait pemahaman terhadap ajaran agama yang terlalu rigid, Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah PCI Nahdatul Ulama Australia-New Zealand menyebut demikian: “Kalau Anda melulu melihat teks, Anda akan terpaku dengan teks dan memutar kembali jarum sejarah ke zaman onta. Kalau Anda hanya berpegang pada konteks dan melupakan teks, Anda akan seperti anak panah yang lepas dari busurnya".

Kembali ke soal baptisan tadi, sekiranya memang mesti mengikuti 100 persen apa yang secara harfiah digambarkan dalam Alkitab, upacara baptis seharusnya tidak boleh dilakukan di sungai biasa, melainkan harus di Sungai Yordan.

Saya jadi teringat pengalaman ayah saya yang merupakan seorang penatua gereja. Pada tahun 2009 beliau dan rekan-rekan penatua dari beberapa gereja lain mendapatkan penghargaan untuk ikut perjalanan wisata rohani ke Yerusalem.

Pada satu sesi tur, mereka mengunjungi Sungai Yordan. Saat itu diselenggarakan ritual baptis dan mereka diajak untuk turut serta. Hanya ayah saya yang menolak. Mengapa? Alasannya dua. Pertama, mereka semua sudah dibaptis. Tidak mungkin menjadi penatua gereja jika belum pernah dibaptis. Kedua, berkaitan dengan alasan pertama, meski Yesus dibaptis di Sungai Yordan, bukan berarti baptisan ayah dan teman-teman saya dulu kalah sakral, sehingga mereka harus mengulang kembali dibaptis di Sungai Yordan. Artinya, memahami agama perlu melibatkan teks dan konteks secara seimbang dan harmonis.

Beragama Tak Selalu Bermoral

Setiap agama sejatinya bertujuan membawa kebaikan. Namun, pada praktiknya, menjadi pemeluk agama ternyata tidak selalu menjamin moral yang baik. Coba lihat hasil penelitian Islamicity Foundation pada tahun 2018. Sepuluh negara dengan indeks Islamicity teratas justru bukan negara berpenduduk mayoritas Islam, yaitu Selandia Baru, Belanda, Swedia, Irlandia, Swiss, Denmark, Kanada, Australia, Luksemburg dan Finlandia. Di negara-negara barat ini, orang-orangnya cenderung skeptis pada agama dan ajarannya.

Menariknya dalam riset itu, negara-negara dengan penduduk mayoritas Islam justru berada jauh di bawah. Malaysia dan Uni Emirat Arab, misalnya, masing-masing di urutan ke-43 dan 47. Indonesia dengan populasi muslim terbesar di dunia hanya duduk di urutan 74. Arab Saudi yang menjadi tujuan ibadah haji berada di posisi ke-88.

Senada dengan itu, Gallup Poll pada tahun 2020 meneliti Corruption Index Perception (Indeks Persepsi Korupsi) terhadap 149 negara dengan menempatkan agama sebagai indikator. Studi itu hanya memberi satu pertanyaan: apakah agama penting dalam hidup Anda sehari-hari? Hasilnya mencengangkan. Mayoritas penduduk yang negaranya masuk 10 besar kategori paling bersih dari korupsi, mengaku agama tidak penting dalam hidup mereka. Negara-negara itu adalah Selandia Baru, Denmark, Finlandia, Singapura, Swiss, Swedia, Norwegia, Belanda, Luksemburg dan Jerman. Dari kesepuluh negara itu, hanya Singapura yang penduduknya menganggap agama itu penting. Yang ironis, negara-negara yang menganggap agama penting, indeks persepsi korupsinya justru buruk, seperti Arab Saudi (urutan 51) Indonesia (urutan 85), India (urutan 80), Thailand (urutan 101) dan Filipina (urutan 113).

Jika kita melihat ke republik ini, kita tentu mafhum bahwa Indonesia adalah negara beragama. Namun, mengapa, kasus korupsi, contohnya, masih tinggi? Tidakkah setiap pejabat diambil sumpah di atas kitab suci agama yang dianut pada saat dilantik? Bukankah pendidikan agama sudah diajarkan secara formal dari jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi?

Bayangkan, sepanjang sejarah Indonesia, sudah ada dua menteri agama (Said Agil Husein Al Munawar dan Suryadaharama Ali) yang dijebloskan ke penjara karena kasus korupsi. Dan belum lama ini mantan Menteri Sosial, Juliari P Batubara terseret kasus suap terkait dana bansos untuk masyarakat yang terdampak Covid-19. Padahal departemen agama dan sosial semestinya menjadi contoh bagi penegakan moral di negeri ini.

Berdasarkan survei LSI pada 2017 disimpulkan bahwa perilaku korup dan tidak korup tidak dapat dijelaskan lewat tingkat religiusitas. Nyatanya, perilaku korupsi dapat ditemukan pada orang-orang yang religius sekalipun.

Pada umumnya umat beragama memandang korupsi sebagai perbuatan berdosa. Tapi, inkonsitensi terjadi. Kita menjadi permisif tatkala hasil korupsi digunakan untuk tujuan yang dianggap baik. Akhirnya beragama pun tak lebih dari soal kompromi dan kalkulasi. Orang yang korupsi merasa dosanya bisa berkurang atau bahkan terhapus dengan banyaknya amal dan pahala yang diperbuat. Yang jelas tidak ada yang salah dengan agama, karena seperti yang telah diuraikan tadi, setiap agama bertujuan membawa kebaikan. Yang salah adalah cara kita dalam beragama!

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya