Bemedia sosial Secara Bebas dan Santun

Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang
Bemedia sosial Secara Bebas dan Santun 15/09/2021 80 view Lainnya siedoo.com

Perkembangan teknologi yang sangat pesat membawa dampak yang besar bagi kehidupan manusia terutama di zaman sekarang ini. Dampak itu dapat dilihat dari penggunaan internet terutama media sosial yang begitu masif, terutama di Indonesia.

Pada tahun 2020 Kemenkominfo merilis jumlah pengguna internet di Indonesia sebesar 73,7 persen yang disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Henri Kasyfi Soemartono. Hal ini menunjukkan perkembangan yang baik bagi Indonesia karena telah mampu mengikuti perkembangan zaman modern yang mulai memasuki industri 4.0. Namun, perkembangan baik ini juga diikuti dengan hal yang buruk yaitu Indonesia dinilai sebagai negara yang memiliki pengguna internet paling tidak sopan di Asia Tenggara menurut hasil survei Microsoft yang dilakukan pada tahun 2020.

Dalam bermedia sosial, hendaknya pengguna memiliki etika dan sikap yang perlu untuk diperhatikan dan dilakukan. Sehingga, tidak menimbulkan kerugian pada pihak lain. Sikap dan etika yang perlu untuk diperhatikan dan dilakukan oleh pengguna internet terutama pada media sosial adalah bebas dan santun.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata bebas berarti lepas sama sekali (tidak terhalang, terganggu, dan sebagainya sehingga dapat bergerak, berbicara, berbuat, dan sebagainya dengan leluasa). Sedangkan, kata santun berarti halus dan baik (budi bahasanya, tingkah lakunya), sabar, tenang, dan sopan.

Dari pengertian itu, dapat dikatakan bahwa setiap pengguna media sosial memiliki kebebasan untuk mengekspresikan diri dengan berbagai bentuk. Namun, tetap mengindahkan sikap santun dalam berekspresi.

Menurut Carrie (2014) yang dikutip oleh Lestari Nurhajati dan Cyntia Keliat, LSPR Jakarta dalam karya ilmiahnya, mengatakan bahwa ada dua etika dalam menggunakan media online. Pertama, peran dan tanggung jawab pemikiran yang melibatkan kesadaran akan kewajiban seseorang ketika mempertimbangkan setiap tindakan yang mereka akan lakukan di dunia maya. Kedua, perspektif yang rumit termasuk upaya untuk mempertimbangkan bagaimana seharusnya tindakan seseorang secara online yang dapat menimbulkan banyak pengaruh bagi banyak pihak. Dua hal itu juga mendukung pengguna media sosial dalam kebebasan mengekspresikan diri dengan santun.

Dr. Ani Cahyadi, S.Ag, M.Pd, Dosen Teknologi Pendidikan UIN Antasari Banjarmasin, mengatakan bahwa ada lima etika atau prinsip dasar dalam bermedia sosial yang membuat pengguna media sosial tetap dapat bebas berekspresi dengan santun. Lima etika dasar itu adalah menjaga privasi, menjaga keamanan akun, menghindari hoaks, menyebarkan hal yang positif, dan menggunakan seperlunya.

Banyak pengguna media sosial yang tidak menghiraukan etika dasar ini. Padahal, hal itu penting untuk dilakukan demi kenyamanan dan keamanan pengguna media sosial dan pihak lain.

Sering kali pengguna media sosial lebih mementingkan posting di akun media sosial tanpa menghiraukan dampak maupun efek selanjutnya, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Hal ini perlu diperhatikan oleh semua pengguna media sosial terutama pengguna aktif di Indonesia dari berbagai kalangan usia dan pendidikan.

Salah satu contoh sikap tidak sopan dan tidak santun dalam bermedia sosial yang dilakukan oleh pengguna media sosial di Indonesia adalah membuat dan memposting meme dengan menampilkan wajah Presiden RI, Joko Widodo. Meme itu dibuat untuk menanggapi aturan PPKM level 4 yang menyatakan boleh makan di rumah makan dengan durasi waktu 20 menit. Bahkan, dari kalangan public figure ikut melakukan hal yang sama seperti diberitakan oleh CNN Indonesia pada Senin, 26 Juli 2021. Hal ini menunjukkan kurangnya kesopanan dalam memberikan kritik pada pihak lain melalui media sosial.

Untuk itu, sikap santun dan etika dalam bermedia sosial perlu ditumbuhkan dalam diri setiap pribadi sejak dini, karena pada zaman ini pengguna media sosial berasal dari berbagai usia. Dengan adanya pendidikan etika dalam bermedia sosial sejak dini, pengguna media sosial mengetahui sikap-sikap dasar dalam bermedia sosial, sehingga sikap bebas dan sopan tidak hanya ditunjukkan dalam kehidupan nyata di dunia sehari-hari tetapi juga di dunia maya.

Contoh lain yang menunjukkan sikap tidak sopan dan tidak santun dalam bermedia sosial adalah ikut serta menyebarkan berita yang belum diketahui dengan pasti kebenarannya atau disebut hoaks. Seringkali penyebaran hoaks meresahkan banyak pihak yang mengharapkan informasi yang benar.

Pada tahun 2017 data Kemenkominfo menyebutkan bahwa ada sekitar 800.000 situs di Indonesia yang dinilai sebagai penyebar hoaks. Data tersebut menunjukkan bahwa pengguna media sosial di Indonesia masih belum bisa bersikap bebas dan santun dalam menggunakan media sosial yang seharusnya bisa digunakan demi kepentingan dan kenyamanan bersama, serta dapat memberi manfaat bagi banyak pihak.

Media sosial merupakan sarana yang baik dalam mengekspresikan diri dan dapat bermanfaat bagi banyak pihak ketika digunakan dengan bebas dan santun. Bermedia sosial dengan bebas dan santun harus diajarkan dan diterapkan sejak dini kepada siapa pun. Karena di zaman industri 4.0 ini semua pihak akan ikut mengalami dan menjadi pelaku sehingga tidak bisa dimungkiri bahwa semua kalangan akan menjadi pengguna aktif media sosial.

Dengan menerapkan sikap bebas dan santun dalam bemedia sosial, banyak pihak akan merasakan dampak yang baik dan mendapatkan beragam manfaat. Dengan demikian, media sosial dapat menjadi sarana yang baik dan memberikan manfaat bagi banyak pihak, terutama generasi muda sebagai penerus dan masa depan bangsa.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya