Belajar Kepemimpinan dari Pak Ignasius Jonan

Pembelajar
Belajar Kepemimpinan dari Pak Ignasius Jonan 27/07/2022 26 view Budaya lider.id

Setidaknya manusia dalam kehidupan ini menempati tiga macam ruang sosial. Pertama, manusia di dalam lingkungan keluarga. Kedua, manusia dalam lingkungan dunia kerja, Ketiga, manusia dalam lingkungan masyarakat. Lingkungan pertama dan ketiga sudah banyak dibahas jadi saya akan membahas yang kedua. Dalam dunia kerja sikap kepemimpinan sangat dibutuhkan bukan hanya oleh pimpinan perusahaan tapi juga karyawan.

Pada dasarnya karyawan juga adalah seorang pemimpin yang harus bertanggungjawab terhadap apa saja yang masuk ruang lingkup pekerjaannya.

Ada adagium yang populer di dunia kerja, yakni tidak usah bekerja keras yang penting itu bekerja dengan cerdas. Apa benar demikian? Memang sepintas lalu hal itu kelihatan benar, tapi kalau kita mau lebih jeli—akan ada celah ketidaklengkapannya. Tidak hanya dengan kerja cerdas tapi juga harus disertai dengan kerja keras. Ini penting untuk memastikan segalanya berjalan di jalurnya. Hal tersebut juga diamini oleh Pak Ignasius Jonan (Mantan Dirut Kereta Api, Menteri Perhubungan dan juga ESDM). Kata Pak Jonan, kerja cerdas dan kerja keras adalah satu kesatuan.

Tegas, kritis, dan lugas itulah kesan yang saya tangkap dari kepribadian beliau. Terlihat dari jawaban-jawaban beliau saat diwawancara yang offensive. Mengindikasikan orang dengan kepercayaan diri yang sangat tinggi. Bagi yang tidak terbiasa mungkin akan mudah tersinggung. Tapi itu juga melatih kita mempertanyakan lagi pertanyaan yang kita buat. Pak Jonan mencoba membongkar cara berpikir kita. Memberitahu kita dalam menilai sesuatu sebaiknya jangan mudah melakukan judgment jika belum sepenuhnya mengetahui medan persoalan. Karena banyak teori-teori sosial yang mungkin cocok di suatu tempat dan era kini sudah tidak lagi relevan. Akibatnya teori-teori tersebut harus direvisi.

Pak Jonan merupakan sosok yang mempunyai jiwa leadership yang sangat tinggi. Tercermin dari setiap apa yang dikatakan bukan hanya sekadar lip service tapi memang ucapan dari orang yang menjalani dan menggeluti proses di lapangan. Ibarat dalam sebuah pabrik, Pak Jonan mengerti betul setiap prosesnya, dari tahap pra produksi, produksi, QA, selling , & marketing.

Akan menjadi menarik jika kita tahu kunci kepemimpinan Pak Jonan yang selalu sukses setiap memimpin. Jawaban yang singkat karena Pak Jonan selalu punya misi jika diamanati jabatan. Dan misi itu tidak akan tercapai jika beliau tidak punya passion pada apa yang digelutinya. Passion saja tidak cukup jika tidak dilengkapi dengan kemampuan kalkulasi. Semua hal tersebut beliau miliki. Adapun mengenai kemampuan kalkulasi barangkali itu mungkin dipengaruhi dari background pendidikan Beliau yang adalah seorang akuntan di mana kita ketahui bersama sikap ketelitian dan kefaktualan sangat ditekankan. True or wrong hanya mengenal dua kondisi itu saja. Sama seperti kaidah ilmu pasti yang menekankan sikap objektivitas. Maka dari itu Pak Jonan berani memprotes proyek pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung yang dinilai tidak efektif.

Selain itu, ketegasan beliau ditunjukkan dengan memindah karyawan KAI yang tidak mau satu aturan dengan beliau. Sistem apresiasi yang beliau terapkan bukan pada gelar akademis tapi pada sumbangsih dan keterampilan dalam pekerjaan. Anak kuliahan tapi kerjaannya kurang maksimal ya jangan iri jika tunjangannya kalah dengan karyawan lulusan SMP/SMA tapi punya keterampilan dan totalitas dalam bekerja. Perusahaan membutuhkan keterampilan bukan gelar.

Karya Pak Jonan yang sangat fenomenal dan menjadi warisan adalah keberhasilannya melakukan perombakan sekaligus transformasi pada sistem perkeretaapian Indonesia. Saya sendiri adalah pengguna layanan KAI. Tapi saya konsumen yang relatif beruntung karena tidak mengalami buruknya pelayanan kereta api di masa lampau yang katanya ayam pun bisa masuk ke dalam gerbong. Masih banyak orang yang tidak membeli tiket, banyak orang yang tidak dapat bangku, bahkan sampai ada yang naik di atas gerbong. Sungguh diperlukan kualitas pemimpin yang tidak sembarangan untuk bisa merombak sistem yang akut tersebut. Dengan komposisi karyawan yang lebih banyak diisi oleh lulusan SD dan SMP (3/4 total karyawan), tidak bisa ditreatment dengan hanya modal lip service dan kepintaran belaka. Sebab orang dengan pendidikan yang kurang tinggi cenderung alergi dengan pemimpin yang hanya pintar ngomong tapi tidak mau turun langsung ke lapangan melihat proses beserta masalah sertaannya. Tapi dibutuhkan pemimpin yang memberikan contoh kepada anak buahnya. Begini lho seharusnya. Dengan begitu hati karyawan akan tersentuh melihat usaha yang dilakukan oleh pemimpinnya.

Apalagi untuk golongan tua yang biasanya sangat susah untuk menerima hal baru. Golongan jenis ini adalah golongan yang sulit untuk diatur. Usia dan pola pikirnya yang kolot menciptakan kelembaman untuk bergerak dari posisi semula. Golongan yang menganggap generasi muda (millennial) sebagai generasi yang tidak tahan banting.

Melihat track record Pak Jonan dalam memimpin sangat banyak hal yang dapat kita tiru. Di bawah ini ada beberapa prinsip penting kepemimpinan.

Pertama, pemimpin adalah orang yang memberi contoh, itu juga kata-kata dari beliau yang selalu saya ingat. Saat krisis pemimpin adalah orang yang paling banyak usahanya. Tapi tatkala mencapai kesuksesan pemimpin adalah orang yang terakhir menikmati. Tentu Anda sudah hafal ungkapan terkenal : Pemimpin adalah orang yang terakhir kali makan.

Kedua, memimpinlah dengan hati nurani. Jabatan pemimpin adalah amanah maka kita harus mengambilnya juga dengan penuh tanggung jawab. Jika kamu tidak suka secara personal pada karyawan tapi kinerjanya bagus maka kamu tidak boleh mematikan kariernya. Yang harus dilakukan adalah terus mendorongnya naik (promoted).

Ketiga, juga jangan pernah punya vested interested dalam memimpin. Fokus pada common vision. Jangan memanfaatkan jabatan untuk memenuhi keinginan pribadi tapi gunakanlah jabatanmu untuk menyelesaikan permasalahan orang banyak.

Dengan melihat beberapa poin penting kepemimpinan tersebut. Ada baiknya kita kembali kepada filosofi dasar kepemimpinan. Pemimpin itu memimpin diri sendiri dulu baru memimpin orang lain. Pemimpin adalah orang yang sudah selesai dengan keinginan-keinginan semunya sendiri sehingga ia sudah bersih dari nafsu kepentingannya sendiri. Akibatnya semua keputusannya adalah untuk mencapai kemaslahatan bersama. Menjadi pemimpin itu menjadi pelayan orang banyak. Dan betul dari Pak Jonan saya tahu bahwa memimpin itu mencontohkan keteladanan.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya