Belajar Kelola Emosi dari Film Animasi

Mahasiswa
Belajar Kelola Emosi dari Film Animasi 28/05/2021 1777 view Lainnya anandastoon.com

Film kartun “Inside Out” merupakan garapan Pixar yang mendeskripsikan makna hidup dan penggambaran psikologis perkembangan anak yang menarik untuk dibahas. Film ini mengisahkan Seorang anak sekolah bernama Riley yang tengah melalui masa berkembangnya dan bagaimana setiap perasaan yang ada dalam dirinya dapat mengontrol apa yang dilakukannya kemudian.

Diceritakan Riley mengalami perubahan mendadak dalam hidupnya di mana ia harus meninggalkan kebiasaan dan kenyamanan lingkungannya. Faktor tersebut yang kemudian merubah dinamika emosi yang ada di dalam dirinya. Emosi dalam gambaran cerita ini yaitu perasaan senang (joy), sedih (sadness), marah (anger), takut (fear), dan jijik (digust) yang merupakan satu sistem kolaborasi di dalam otak Riley yang mengatur setiap tindakan yang dilakukannya.

Pada sebuah penelitian disebutkan bahwa pada perkembangan anak, korteks prefrontal atau yang juga disebut sebagai area utama di dalam otak yang membantu untuk sistem kelola emosi menjadi bagian terakhir yang berkembang secara penuh. Bahkan, bagian tersebut biasanya belum akan mencapai kematangan penuh sampai anak menginjak usia di pertengahan dua puluhan.

Fakta tersebut menunjukkan bagaimana sistem kelola emosi ini tidak mudah untuk dilakukan setiap anak. Tidak seperti orang dewasa, anak-anak cenderung belum bisa total menjelaskan emosinya. Apalagi bagi anak-anak yang baru saja mengalami kekecewaan yang menurutnya sangat menyakitkan. Ia butuh waktu untuk membiasakan diri dan belajar.

Benar saja, dalam film ini keseimbangan yang harusnya ada pada sistem di otak Rilley terhadap kelola setiap perasaannya memang pada awalnya tak terjadi. Karena perasaan senang yang dimiliki Riley ingin terus mendominasi keseluruhan perasaannya atau dengan kata lain Riley ingin merasakan sesuatu yang seterusnya bahagia bagaimanapun keadaannya. Riley ingin kembali pada kehidupannya yang dulu. Keluarganya yang selalu ada untuknya dan teman-temannya yang ia sayangi. Di mana hal tersebut menurutnya adalah titik terbaik hidupnya. Dia mengelak pada kekecewaan dan hal baru yang diterimanya. Seperti itulah juga mungkin gambaran anak-anak lain yang ada pada dunia nyata.

Pada dasarnya kekecewaan bukan hal yang dapat dielakkan bukan? Siapa saja bisa mengalaminya. Sayangnya, kebanyakan orang tua ingin menghindarkan anak pada kekecewaan atau kesulitan yang terjadi. Padahal edukasi mengenai kelola emosi terhadap perasaan itu sangat penting. Anak yang tidak dibiasakan dan diajarkan pada sistem kelola emosi yang baik terlebih pada pengelolaan rasa kecewa akan merasa hidupnya terus baik-baik saja. Dia mungkin akan tumbuh menjadi sosok yang kurang mandiri dan tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.

Hal lanjut yang digambarkan pada film ini yaitu ketika kekecewaan seorang anak terjadi begitu hebat dan ia merasa gagal dalam mengelola kekecewaan yang ia rasakan. Bila begitu, ia akan cenderung mengedepankan rasa marahnya. Jika dalam film ini digambarkan ketika anger tiba-tiba mengambil alih kendali otak dan Riley akhirnya melarikan diri dari rumah. Di mana tindakan ini merupakan bentuk lanjut dari kemarahan pada diri sendiri, dan orang lain, serta terjadinya depresi hebat. Untungnya, di sini Riley mulai memahami dan menerima yang terjadi. Sehingga, hal-hal negatif lainnya tak belanjut pada alur film ini yang jika pada kenyataan bisa berdampak pada bentuk kenakalan lain untuk mendapatkan kembali yang mebuatnya kembali bahagia.

Di sinilah memang pentingnya sentuhan orang tua sebagai guru anak di rumah yang juga sebagai tempat anak untuk belajar mengungkapkan dirinya. Sebetulnya, pada penggambaran di film ini, orang tua Riley sudah berusaha untuk memberikan penjelasan-penjelasan terhadap kondisi mereka saat ini. Kedua orang tuanya pun bukan tipe orang tua acuh yang tak mempedulikan anak. Mereka juga mengkhawatirkan Riley. Tapi bila ditinjau lebih dari penggambaran flasback Riley ia memang belum pernah mengalami kekecewaan sebelumnya. Namun, mungkin karena cinta yang kuat antara anak dan orang tua yang sudah tertanam. Meskipun lambat, di akhir cerita Riley mencoba mengelola kembali semua perasaannya untuk mengingat momen kebersamaan dan pentingnya keluarga dalam hidupnya. Di mana kemudian ia tersadar dan menyesali pebuatannya. Ia Akhirnya bisa memutuskan untuk kembali ke rumah dan orang tuanya., dan menerima kehidupan barunya saat ini.

Mari mulai ajarkan sistem kelola perasaan dan emosi tersebut pada anak, serta bantu anak dalam proses tumbuh kembangnya. Agar ia bisa belajar menerima segala kondisi dan lebih memiliki kepekaan terhadap lingkungannya.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya