Beban Berat di Era Baru

Mahasiswa STFT Widya Sasana Malang
Beban Berat di Era Baru 26/10/2020 2242 view Opini Mingguan pixabay.com

“Indonesia Maju”, kata ini menjadi penting untuk perjuangan bagi Jokowi-Amin dalam masa pemerintahannya kali ini. Tepat Tanggal 20 oktober 2020 adalah masa satu tahun pemerintahan Jokowi-Amin.

Bagi bapak Jokowi ini adalah periode kedua dalam masa pemerintahannya sebagai kepala negara. Ini bukanlah sebuah pencapaian melainkan satu langkah pertama. Langkah paling dasar untuk menentukan langkah-langkah perjuangan membangun negeri ini untuk semakin “maju”.

Sebagai pemimpin bangsa mereka adalah penentu nasib generasi emas bangsa Indonesia selanjutnya. Karena itu sebagai rakyat kita perlu mendukung perjuangan mereka dalam membangun negeri ini. Sekalipun banyak kegagalan yang perlu dievaluasi, diperbaiki dan diimplementasikan.

Tidak ada yang bisa memungkiri, mengingkari dan mengelak kenyataan hidup bahwa cermin baik buruknya wajah republik ini adalah berasal dari perilaku pemimpinnya.

Jika perilaku mereka diperlihatkan dengan sikap egois, tamak, mementingkan kepentingan pribadi atau golongan, saling berebut tahta jabatan dan kekuasaan, maka panggung Republik ini akan selalu dipandang negatif. Tidak hanya masyarakat Indonesia tetapi juga mengglobal.

Sebaliknya jika pemimpinnya memiliki pribadi yang baik, berkarakter, berjiwa pelayan dan mau melayani, rendah hati, jujur dan bertanggung jawab, setia dan mau berkorban demi masyarakat, maka negara ini akan senantiasa dipandang sebagai negara yang berbudi luhur, dihormati dan dihargai. Baik secara internal maupun eksternal. Baik kalangan masyarakat kecil hingga mereka yang berdedikasi di dunia intelektual akan turut terlibat dalam pencapaian ini. Artinya cermin pemimpin adalah cermin rakyatnya. Dan, hal baik ini telah dilakukan Bapak Jokowi-Amin. Sehingga ini menjadi poin penting yang harus terus disadari oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Polemik antarelit politik di lembaga pemerintahan menghiasi wajah berita sehari-hari yang tak kunjung henti. Baik dari media non elektronik hingga dunia gadget, internet, teknologi, komunikasi dan informasi kebanjiran dengan dunia politik, sosial, ekonomi, budaya yang terjadi di negeri ini. Semua seakan mempertanyakan pencapaian yang telah dilakukan oleh pemimpin negeri ini.

Selimut pro dan kontra seakan menunjukan bentrokan dua kubu yang saling berlawanan. Sejak tahun 2014 hingga tahun 2020 ini, terjadi berbagai pro dan kontra terkait kinerja yang dilakukan oleh Jokowi-Amin. Uniknya klaster Pro Jokowi masih lebih besar dibandingkan klaster Kontra Jokowi.

Berbagai pro dan kontra ini seakan menunjukan bahwa rakyat masih memilih-milih dalam mencari pemimpinnya. Padalah jika ditilik lebih dalam masa pemerintahan Jokowi terbilang penuh tantangan dan rintangan yang bertubi-tubi. Namun sadarkah masyarakat bahwa Jokowi tidak pernah tinggal diam dalam mengatasi persoalan yang dialami negeri ini. Jokowi tidak berpangku tangan. Semua hal dilakukan demi kemajuan bangsa, kesejahteraan rakyatnya, dan kelestarian bumi pertiwinya.

Saat ini merupakan periode krisis terberat dalam pemerintahan Jokowi-Maaruf. Pandangan kekuasaan yang diimplementasikan saat Indonesia terserang pandemi Covid 19, memang menyita energi yang sangat besar.

Selain itu masalah yang paling aktual terkait demonstrasi Omnibus Law UU Cipta Kerja seakan tidak mendukung kinerja Jokowi dalam mengatasi perekonomian Indonesia.

Strategi yang dilakukan jokowi ini tentu tidak untuk kepentingan dirinya sendiri melainkan demi kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia. Jokowi-Maaruf kini berhadapan dengan rakyat yang putus asa, yang mungkin akan menuai perlawanan jika model kekuasaan hegemonik tetap digunakan. Namun apakah rakyat sadar bahwa perlawanannya akan membuahkan hasil yang terbaik? Perlawanan rakyat hanya akan menambah masalah. Hal ini terbukti dengan terjadinya penyerangan terhadap Jokowi yang tak kunjung usai.

Dalam menghadapi perlawanan Jokowi tidak lagi memiliki basis pendukung yang loyal (relawan) karena relasi sosialnya yang telah rusak. Praktis Jokowi hanya dikelilingi partai politik pendukung yang oportunis yang membutuhkan adanya kekuasaan yang sah dan pihak lawan yang telah direkrut tanpa diketahui apa sebenarnya hidden agenda mereka.

Selain itu berbagai pihak pemerintah yang lain seakan menjadi dalang di balik semua ini. Dalang untuk menghancurkan kekuasaan Jokowi. Jokowi hanya mengandalkan polisi dan militer sebagai garda penjaga kekuasaannya.

Kurangnya kemampuan melakukan komunikasi politik dan lemahnya kepemimpinan politik, telah menyuburkan benih-benih ketidakpuasan, kritikan dan penyerangan tanpa menyadari martabat kemanusiaan.

Kapabilitas para pembantu presiden sangat rendah sebagai akibat dari proses rekruitmen kabinet yang transaksional. Pemerintah seakan menutup mata dan telingan dengan keadaan dan problem negeri ini. Hal ini tentu membuat semua beban kekuasaan berada di pundak presiden.

Bapak presiden seakan menjadi orang satu-satunya penanggung beban negeri ini. Dimanakah hati nurani rakyat dalam menyadari realitas ini. Menjadi pemimpin bukanlah mudah. Tidak semudah membalikan telapak tangan. Kita telah memberi kepercayaan kepada bapak presiden dalam memimpin bangsa ini. Maka tugas kita adalah mendukungnya dan bukan menyulut berbagai pro konta, berbagai mosi sosial yang justru menimbulkan semakin banyak permasalahan di negeri ini.

Mimpi Jokowi terhadap pembangunan infrastruktur, ternyata tidak mendapat apresiasi setimpal dari masyarakat, karena tertimbun oleh berbagai pandangan bahwa pemerintah telah ingkar janji, manipulatif, otoriter, meninabobokkan oligarki, setengah-setengah dalam memberantas korupsi, arogan, dan tidak mau mendengarkan suara rakyat.

Selain itu bencana pandemi covid-19 dan Omnibus Law UU Cipta Kerja yang tak kunjung usai, permasalahan sosial, ekonomi, budaya, agama dan sebagainya, seakan menuntut hasil yang terbaik.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya