Bayang-Bayang Pandemi Menjelang Nataru

Mahasiswa STFT Widya Sasana Malang, Alumni UWD Pontianak
Bayang-Bayang Pandemi Menjelang Nataru 14/12/2021 389 view Agama cdn.pixabay.com

Hari Raya Natal akan tiba, tetapi situasi pandemi masih belum kunjung reda. Apalagi dengan munculnya varian baru Covid-19 Omicron menimbulkan rasa was-was di tengah-tengah masyarakat. Khususnya Gereja Katolik, perlu berpikir dua kali untuk melonggarkan prokes. Walaupun pemerintah berencana untuk melakukan pembatasan kegiatan masyarakat. Gereja Katolik tetap konsisten untuk mentaati aturan kesehatan yang selama ini telah dijalankan. Meskipun ada kemungkinan menghadapi gelombang pandemi ketiga di masa natal dan tahun baru nanti.

Situasi yang tidak memungkinkan membuat umat Katolik enggan bepergian selama liburan nataru. Umat bercermin dari peristiwa yang telah terjadi ketika pandemi gelombang pertama dan kedua melanda. Banyak sanak keluarga, saudara, teman, rekan kerja yang telah menjadi korban keganasan virus ini. Memang tidak mudah menghadapi situasi yang serba tidak pasti ini. Pengalaman yang sudah ada menjadi modal yang kuat untuk menghadapi kemungkinan terburuk. Kerinduan umat untuk merayakan natal dan tahun baru tentu saja tidak terpengaruh oleh situasi pandemi ini. Justru melalui peristiwa ini, umat Katolik semakin dikuatkan untuk taat dan setia menjalankan kebiasaan baru yang dianjurkan demi keselamatan bersama.

Varian Omicron sendiri merupakan jenis virus corona baru yang memiliki penularan yang sangat cepat. Maka dari itu, seluruh umat Katolik dihimbau untuk tidak melakukan aktivitas berkumpul selama dilaksanakannya pembatasan kegiatan masyarakat. Kebiasaan baik seperti menggunakan masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak, mengurangi mobilitas dan menghindari kerumunan layak dijadikan kebiasaan harian.

Kebiasaan-kebiasaan tersebut tidak hanya demi mencegah dari virus corona, tetapi juga demi menjaga kesehatan masing-masing. Sebab keselamatan bukanlah milik pribadi, tetapi milik bersama. Maka menjaga protokol kesehatan adalah tanggung jawab setiap orang tanpa terkecuali.

Selain melaksanakan protokol kesehatan, umat dihimbau untuk menjaga kesehatan dengan olahraga di rumah, makan-makanan yang sehat dan berekreasi. Hal ini demi meningkatkan imun tubuh dan juga ketahanan secara batiniah.

Selain berdoa, umat juga hendaknya berusaha untuk menahan diri selama kegiatan pembatasan masyarakat dilaksanakan. Umat tidak perlu merasa skeptis dan tidak terlayani. Misa secara daring tentu masih dapat dilaksanakan. Selain itu, misa secara langsung mungkin bisa dilakukan dengan menerapkan prokes seperti yang sudah dijalankan selama ini. Natal tahun lalu hingga saat ini mungkin akan mengalami kejadian serupa, tetapi pengalaman mengajarkan bahwa dalam situasi inipun setiap orang Kristiani masih dapat berjumpa dengan Allah. Yesus Sang Almasih juga dilahirkan dalam keterbatasan, kekurangan, kemiskinan dan kesedihan. Meskipun demikian, keluarga kudus Nazareth ini tampak bahagia karena penghiburan dari Para Majus, para Gembala dan Allah sendiri.

Dengan adanya teknologi komunikasi yang semakin maju, setiap keluarga masih dapat saling terhubung. Tidak ada lagi batasan atau alasan untuk tidak bercengkerama. Sekalipun menghadapi pandemi, jarak dan waktu tidak lagi menjadi penghalang silaturahmi meskipun hanya melalui jaringan. Umat dapat memanfaatkan teknologi untuk melaksanakan misa streaming, menghubungi petugas medis, belanja online, membaca berita, hiburan dan lain sebagainya. Meskipun memang tidak sama situasi ketika berkumpul, tetapi masih ada cara untuk tetap berjumpa meskipun tidak bersama.

Umat Katolik mulai menyadari pentingnya menghargai waktu. Mungkin saat sebelum pandemi, persoalan waktu menjadi hal yang kurang diperhatikan. Tetapi untuk saat ini, setiap detik, menit, jam dan hari-hari menjadi begitu berharga. Karena keterbatasan ruang gerak dan perjumpaan, umat sulit melepas rindu untuk berjumpa dengan keluarga, sahabat dan rekan. Cukup banyak orang-orang yang harus merelakan anggota keluarga atau kenalannya yang terpapar virus corona dan meninggal dunia. Kapan maut akan menjemput, menjadi misteri yang mau tidak mau harus tetap dihadapi. Walaupun dilanda ketakutan, umat Katolik memiliki harapan kuat bahwa pandemi ini pun pasti akan berlalu.

Libur natal dan tahun baru mungkin akan berlalu seperti hari-hari biasanya. Tetapi masih dapat diisi dengan hal-hal baik selama di rumah. Sembari mengajarkan anggota keluarga untuk taat pada prokes, setiap anggota keluarga dapat meluangkan waktu bersama untuk saling mendengarkan. Peran orang tua dan anak-anak di dalam keluarga sangat penting dalam menghadapi masa-masa sulit. Kembali bercermin dari keluarga Nazareth, kesulitan dan tantangan selalu dapat diatasi karena kebersamaan. Sikap saling mendukung menjadi kekuatan utama agar situasi sesulit apapun dapat dilewati dengan penuh ketabahan dan kesabaran.

Dengan demikian, pandemi menjelang nataru bukan hal yang perlu ditakuti. Justru kejadian ini menjadi refleksi bagi keluarga-keluarga Katolik untuk membenahi diri. Harapan di tahun baru yang akan datang menjadi kilas balik dan pengalaman berharga untuk membuka lembaran baru yang lebih baik. Dari ketakutan, umat diajarkan untuk mengambil langkah berani menuju perubahan. Untuk memperjuangkan keselamatam bersama, setiap anggota dalam keluarga, menjadi Gereja-Gereja kecil yang mewartakan kesetiaan Allah. Dengan mengambil langkah bijaksana dan tetap mentaati anjuran pemerintah, kita tetap dimampukan untuk melaksanakan natal dan tahun baru dengan penuh khidmat dan gembira.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya