Bali: The Land Of God

Pembelajar
Bali: The Land Of God 28/06/2021 125 view Budaya travelclub.co.id

Sebutan Pulau Dewata bagi Provinsi Bali bisa dibilang bukan penamaan yang sembarangan tapi memang sudah seperti itu adanya. Seandainya orang tidak mengelu-elukan bali sebagai The Land of God pun, Bali tetap punya daya tarik tersendiri baik karena geografis wilayahnya, keindahan alamnya juga kultur budayanya. Bali punya daya magis untuk membuat orang-orang punya rasa kedekatan yang aneh. Mengunjungi Bali seperti seorang perantau yang pulang kembali ke kampung halamannya. Seolah-olah Bali adalah kampung halamannya sendiri yang sekian lama tidak dikunjungi. Maka tak ayal jika banyak orang yang selalu rindu ingin ke Bali lagi.

Daya magis itu mungkin bisa dijelaskan sebagai berikut: Bali memang sebuah tempat yang sangat kaya fenomena. Dari tradisi dan budayanya begitu banyak acara budaya dan keagamaan (Hindu). Ada tari kecak, leak, pakaian adat bali yang khas, frekuensi sembahyang di pura dan ritual saat perayaan-perayaan hari besar Hindu. Ditambah lagi dengan keindahan alamnya yang sangat marketable. Berapa banyak pantai di Bali yang menjadi surga bagi para peselancar? Kejernihan air dan pasir putihnya. Berapa resort-resort luks yang menyajikan servis bintang lima? Siapa yang tidak tertarik dengan tawaran itu?

Oleh sebab itu Bali merupakan destinasi wisata yang paling banyak diminati selain oleh warga internasional juga oleh warga lokal. Bahkan sering ada warga lokal yang berperilaku seperti seorang turis asing. Dari cara berpakaian dan tingkah lakunya saat berwisata. Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka juga punya high taste.

Bagi yang akan ke Bali untuk pertama kalinya, saya sarankan untuk tidak mengalami cultural shock. Sebab, Kota-kota di Bali memang tidak seperti kota-kota lainnya di Indonesia. Apalagi di sana adalah pusat agama Hindu. Kita akan sering menemui pohon-pohon besar yang dikeramatkan. Coba perhatikan di jalan-jalan Bali, di beberapa tempat banyak patung-patung dewa, di pertigaan, atau perempatan, di alun-alun juga di tempat-tempat strategis lainnya. Patung-patung tersebut sebagian besar mengambil tokoh-tokoh pewayangan seperti Gatotkoco, Arjuna, Kresna dan lain-lain.

Jangan kaget kalau di sebagian besar rumah makannya akan kita menjumpai babi panggang atau babi guling (lengkap dengan penampakan seluruh badannya) dipajang di depan. Jangan risi dengan bau sesajen-sesajen yang ditempatkan di berbagai tempat. Semua itu adalah kekhasan kebudayaan dari masing-masing daerah dan kita harus menghormatinya. Setiap tempat di Indonesia pasti memiliki adat dan kebudayaan yang khas. Di situ bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Dengan banyaknya pura (tempat ibadah agama Hindu) dan juga frekuensi peribadatan yang dilakukan membuat Bali menjadi kota yang unik.

Membandingkan Bali dengan India merupakan hal yang relevan, karena sama-sama mayoritas warganya beragama Hindu. Meskipun untuk konteks perbandingan dengan Indonesia mungkin sebuah perbandingan peradaban yang terbalik. Pada masa dahulu mayoritas penduduk India adalah muslim kemudian pada zaman sekarang agama mayoritas penduduknya adalah Hindu. Berkebalikan dengan Indonesia yang di masa awal mayoritas agama penduduknya adalah Hindu namun setelah mendapat pengaruh ajaran Islam dari wali songo mayoritas agama penduduknya adalah Islam.

Meskipun sebagian besar penduduk Bali beragama Hindu belum pernah ada kabar atau berita yang menyebutkan orang Hindu di Bali konflik dengan orang Islam. Orang Islam di Bali, yang kita ketahui sebagai kaum minoritas tetap dengan mudah dan dengan rasa aman menjalankan ibadah di Masjid. Justru di Bali kami temukan toleransi yang amat kuat antara orang Muslim dan orang Hindu.

Selain dari kekayaan alam dan budaya, bangunan dengan arsitektur Hindu juga sangat kentara. Desain bentuk rumah yang selalu ada gapura lengkap dengan dua patung dewa di bagian depan. Begitu masuk di dalam ada tahap-tahap ruang. Ada ruang pendopo atau gazebo untuk menerima tamu. Ruang di dalam dikhususkan untuk orang yang sudah punya hubungan yang sudah dekat. Semakin ke dalam konsep ruang semakin privat sama seperti konsep rumah adat Jawa. Ukiran-ukiran di tiang maupun dinding tembok yang sangat khas. Juga selalu disediakan tempat untuk menaruh sesajen di pojok pekarangan.

Selain sebagai pusat pariwisata Bali juga pusat seni. Hal ini memang benar adanya. Banyak sekali para seniman yang berkarya. Pembuat patung, arca, pengukir, pelukis, dan pembuat aksesoris. Benar-benar geliat kerja terhampar setiap waktu.

Kebudayaan di suatu daerah pasti juga mempengaruhi warganya. Kalau kita mencermati karakter orang Bali memang sangat inheren dengan kebudayaannya. Penduduk bali ramah-ramah, bukan model keramahan kapitalis yang sering kita temui di front office hotel. Yakni model keramahan karena dibayar. Ya sudahlah memang pekerjaan mereka kan memasang muka yang manis, selalu tersenyum. Mana ada tamu yang mau masuk kalau resepsionisnya manyun. Tapi keramahan warga Bali memang asli. Penduduk Bali sangat ramah dan senang sekali memulai pembicaraan, grapyak orang Jawa menyebutnya. Sudah dari gen nenek moyangnya ramah.

Begitu pula untuk biaya hidup di Bali. Biaya makan di Bali sangat murah, bisa dibilang sangat ekonomis. Satu lagi yang mungkin bisa dicontoh, masyarakat Bali hidup dengan sederhana meskipun punya tanah yang berhektar-hektar.

Mungkin di dunia internasional Bali lebih terkenal dari Indonesia. Pasalnya banyak sekali turis-turis yang pergi berlibur ke kota dewata tanpa tahu Bali adalah provinsi dari Negara Indonesia. Ada yang bilang itu hanya anekdot belaka. Tapi ada baiknya kita perlu mengantisipasinya dengan melakukan introduksi yang lebih elegan kepada dunia Internasional.

Jangan-jangan mereka memang tidak tahu bahwa Bali adalah wilayah Indonesia. Mungkin karena Indonesia masih kalah bersaing dalam bidang kecanggihan teknologi dengan dunia Barat. Namun, soal kebudayaan dan teknologi batin, Indonesia adalah laboratorium besar.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya