Autentisitas Penilaian Sikap Saat Belajar Dari Rumah

Guru di Kota Batu
Autentisitas Penilaian Sikap Saat Belajar Dari Rumah 14/03/2021 151 view Pendidikan 4.bp.blogspot.com

Pandemi Covid 19 sampai hari ini belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir, pembatasan-pembatasan kegiatan masyarakat di beberapa wilayah masih terus diperpanjang, dan akhirnya pembelajaran tatap muka pun harus tertunda tanpa ada kejelasan. Jika membaca status-status para orang tua siswa di media sosial sudah banyak sekali yang mengeluh karena repotnya melaksanakan pembelajaran dari rumah yang sudah hampir satu tahun berjalan.

Guru juga tak kalah repotnya dalam mencapai tujuan pembelajaran secara daring ini. Guru harus memutar otak agar pembelajaran dengan metode “terbatas” seperti saat ini dapat berjalan secara maksimal. Apalagi semakin lama kegiatan pembelajaran daring bukannya semakin adaptif akan tetapi sebaliknya semakin prustatif.

Jika di awal semeseter pembelajaran daring ramai dengan penggunaan pembelajaran secara virtual melalui google meet, zoom, dan aplikasi sejenisnya, maka hari ini banyak sudah sekolah yang meniadakan itu dan diganti dengan penugasan manual yang diambil oleh orang tua setiap satu minggu sekali di sekolah masing-masing. Penyebab tidak berjalannya model kegiatan virtual tersebut sangat beragam, mulai faktor kuota internet, jaringan internet, spesifikasi gawai, maupun mentalitas belajar.

Permasalahan demi permasalahan dalam kegiatan pembelajaran dari rumah seperti saat ini ibarat bola salju yang terus bergelinding. Satu masalah belum usai sudah ada permasalahan baru yang harus segera diselesaikan. Salah satu permasalahan yang sangat membingungkan bagi guru adalah terkait dengan pemberian nilai sikap pada siswa saat pembelajaran dari rumah. Apalagi salah satu point di dalam Surat Edaran Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 1 Tahun 2021 Tentang Peniadaan Ujian Nasional Dan Ujian Kesetaraan Serta Pelaksanaan Ujian Sekolah Dalam Masa Darurat Penyebaran Covid 19, bahwa siswa dinyatakan lulus dari satuan pendidikan jika memperoleh nilai sikap minimal baik.

Pertanyaan kemudian adalah bagaimana cara ideal dalam menentukan penilaian sikap peserta didik yang belajar dari tumah tersebut? jika banyak orang tua yang mengeluh karena perilaku apakah anak saat belajar dari rumah tersebut bisa dikatakan berperilaku baik? Jika yang mengerjakan tugas-tugas sekolah adalah orang tua apakah anak tersebut layak mendapatkan nilai sikap minimal “Baik”? kemudian pertanyaan terakhir adalah apakah prinsip penilaian autentik masih berlaku saat belajar dari rumah seperti sekarang ini?

Pertanyaan-pertanyaan terkait proses penilaian sikap tersebut selalu mewarnai pada forum-forum diskusi para guru saat melaksanakan evaluasi pembelajaran.

Beberapa opsi dalam memberikan penilaian sikap sebenarnya muncul seperti diambil dari kedisiplinan saat mengumpulkan tugas maupun etika komunikasi saat pembelajaran virtual. Akan tetapi itu bisa dilakukan untuk siswa yang aktif dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Kemudian bagaimana dengan siswa yang tidak pernah aktif sama sekali dan saat dikunjungi ke rumahnya ada yang memang kondisi perekonomian kurang bagus? Kasus semacam ini masih bisa disiasati para guru. Observasi serta keterangan dari orang tua menjadi data autentik untuk memberikan sebuah nilai sikap pada kasus tersebut. Akan tetapi jika saat berkunjung ternyata dijumpai para siswa yang secara kebutuhan belajar terpenuhi akan tetapi pengawasan dari orang tua yang minim sehingga kebutuhan itu dialihkan untuk bermain game online, membeli rokok, maupun hal-hal negatif lainnya, inilah yang menjadikan guru dilematis dalam memberikan evaluasi belajar secara autentik.

Memberikan sebuah nilai bukanlah hal yang sulit bagi guru, akan tetapi pertanggung jawaban atas nilai yang telah diberikan itu menjadi beban berat para guru, karena akan menjadi acuan untuk melanjutkan ke sekolah jenjang berikutnya.

Sinergisitas antara pemerintah sebagai pembuat kebijakan dengan sekolah, guru, siswa, dan orang tua sebagai pelaksana kebijakan tersebut menjadi penting untuk mewujudkan generasi unggul di masa mendatang. Autentisitas penilaian sikap menjadi penting meskipun itu sangat sulit untuk dilaksanakan di tengah pandemi saat ini yang lebih mengutamakan keselamatan dan kesehatan lahir batin siswa maupun guru.

Autentisitas penilaian dari guru harusnya didukung dengan kebijakan yang menanggalkan “standarisasi” penilaian tertentu sehingga bisa memetakan kondisi siswa secara tepat dan ke depan bisa diberikan sebuah tindakan yang tepat juga. Selama ada standarisasi minimal “berperilaku baik” maka ke depan akan sulit memetakan karakter maupun upaya dalam mengatasi perilaku yang kurang baik karena dokumen pendukungnya yang kurang atau bahkan tidak autentik. Fenomena belajar dari rumah ini sebenarnya telah memberikan kita sebuah hikmah akan “pentingnya kehadiran” dalam sebuah proses kegiatan pembelajaran, sehingga bisa mencapai generasi unggul dengan dokumen evaluasi kegiatan pembelajaran yang autentik.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya