Asal Usul Pengetahuan dan Metode Pengajaran Ala Aristoteles

Mahasiswa AFI UINSA
Asal Usul Pengetahuan dan Metode Pengajaran Ala Aristoteles 28/12/2022 74 view Pendidikan suarahkbp.com

Aristoteles adalah salah satu filsuf Yunani terkenal, yang idenya tidak diragukan lagi berdampak besar pada sejarah. Dia berkontribusi pada banyak bidang pengetahuan seperti logika, biologi, epistemologi, etika, metafisika, teori politik, estetika, retorika, dan lain-lain.

Lahirnya ilmu ini merupakan hasil buah pemikiran manusia. Menurut Aristoteles, manusia adalah makhluk yang haus akan pengetahuan. Karena rasionalitasnya, orang menginginkan penjelasan tentang hal-hal di dunia ini. Ini menjadi dasar dalam kehidupan Aristoteles untuk membangun bangunan yang menentukan kondisi dan proses untuk memperoleh pengetahuan. Sebagai langkah awal, kita harus mengenali misteri dan kesulitan di dunia.

Seorang materialis sejati, Aristoteles menjadikan materi sebagai hal yang utama, juga untuk memecahkan masalah ini. Untuk mengenali sebuah teka-teki dari sudut pandang etis, ilmiah atau metafisik, diperlukan pengalaman sensual (empiris). Ini karena, melalui pengalaman empiris ini, seseorang dapat merasakan "fenomena" yang dapat digunakan sebagai informasi yang dibutuhkan pikiran untuk menemukan solusi yang mungkin untuk teka-teki ini. Aristoteles di sini menekankan tidak hanya pengalaman indrawi yang mampu menghasilkan pengetahuan, tetapi pengetahuan yang diperoleh melalui indra menjadi modal untuk meningkatkan aktivitas pikiran.

Selain pengalaman empiris, Aristoteles juga melihat nilai besar dalam proses penelitian yang disebut endoxa. Endoxa adalah argumen yang disetujui seseorang setelah melakukan dialektika untuk membangun paradigma yang lebih kuat. Bagaimana tulisan dan pemikiran Aristoteles mengeksplorasi dan mengkritisi pandangan para filosof lain seperti Plato dan filosof pra Socrates.

Penampilan dan endoxa bukanlah titik akhir dari pencarian ilmu, melainkan awal. Aristoteles menggunakan empat alasan atau faktor penjelas untuk memperoleh pengetahuan. Pertama, alasan material. Penyebab material itu mengidentifikasi pemahaman tentang asal mula penciptaan, seperti yang dikatakan Aristoteles, "dari mana sesuatu berasal".

Kedua, karena alasan formal. Dalam proses ini, pengetahuan yang akurat membutuhkan pengenalan pola, struktur, atau bentuk yang diwujudkan materi sebagai hal-hal yang spesifik.

Ketiga, penyebab efisien. Dalam proses ini pengetahuan memerlukan identifikasi agen atau entitas yang bertanggung jawab atas masalah yang mengambil spesifik, struktur atau bentuknya.

Keempat, penyebab terakhir. Ketika seseorang dapat menyatakan tujuan atau fungsi dari hal yang dijelaskan, atau seperti yang dikatakan Aristoteles "untuk kepentingan yang sesuatu dilakukan".

Dalam Fisika karya Aristoteles, ia menggunakan contoh patung perunggu Hercules untuk menjelaskan empat penyebab pengetahuan tersebut. Alasan bahannya, atau terbuat dari apa patung itu, adalah perunggu. Bentuk patung, dalam hal ini tubuh Hercules, menjadi alasan formalnya. Alasan efisien untuk patung adalah pematung yang bertanggung jawab atas apa itu.

Untuk mengetahui sebab pamungkasnya, maka harus diketahui fungsi, maksud dan tujuan patung tersebut. Dalam contoh kita, fungsi patung bisa saja untuk menghormati Hercules - jadi itu akan menjadi alasan terakhir. Mampu menafsirkan empat alasan atau faktor yang menjelaskan patung menurut Aristoteles akan menunjukkan bahwa kita memahaminya sepenuhnya.

Aristoteles membagi ilmu pengetahuan pada tiga devisi. Pertama, ilmu teoritis. Mereka yg terlibat pada ilmu teoritis mencari pengetahuan buat kepentingan sendiri. Aristoteles membagi Ilmu Teoritis ini ke pada 3 sub-kategori. Sub-kategori yg pertama, menilik mengenai benda-benda alam. Di antaranya benda hidup, benda langit & geologi (ilmu bumi).

Sub-kategori ke 2 berdasarkan ilmu teoretis menilik objek dan geraknya pada benda alam tersebut. Dalam hal ini yang dimaksud merupakan ranah Ilmu Matematika. Sub-kategori ketiga merupakan studi mengenai benda-benda yang nir bergerak. Diistilahkan menjadi "penyebab pertama" atau pada hal ini masuk ranah Teologi.

Kedua, ilmu produktif. Ilmu ini berfungsi buat membentuk sebuah produk atau nilai guna. Misalnya ilmu komputer, bertujuan buat menghasilkan dan mengoperasikan komputer. Kemudian Ilmu Jurnalistik, berfungsi buat mengelola, menciptakan dan menyebarluaskan kabar melalui media massa. Menurut Aristoteles, insan yang memiliki kecakapan pengetahuan dan rasionalitas yg bisa terlibat pada ilmu produktif.

Ketiga, Ilmu Praktis. Ilmu semacam ini mempunyai tujuan dalam tindakan atau hal-hal praksis pada kehidupan sehari-hari. Dengan istilah lain menjadi acuan buat bersikap dan berperilaku sebagai akibatnya terjalin kehidupan yg baik. Baginya, ilmu praksis berfungsi buat mencapai kebahagiaan. Aristoteles percaya bahwa kebahagiaan merupakan kegiatan jiwa yg sifatnya paling mulia.

Ketiga divisi ilmu pengetahuan ini berdasarkan Aristoteles, meliputi objek atau kenyataan pengetahuan yg bisa diteliti sang sains. Sampai hari ini, lebih berdasarkan 2000 tahun selesainya Aristoteles mengusulkan 3 devisi pengetahuan tersebut, nir terdapat yang sanggup memikirkan objek pengetahuan yg nir termasuk pada 3 kategori pada atas.

Metode Pengajaran Aristoteles

Aristoteles yang mengajar dengan tetap berdiri dan berjalan di depan murid-muridnya saat berdiskusi, Aristoteles yang mengajar dengan gaya berjalan ini, membuatnya dikenal sebagai paripathy, yaitu orang yang berjalan sambil mengajarkan ilmunya.

Berjalan di kelas sains melibatkan interaksi yang intens antara siswa dan guru, sambil memastikan bahwa peserta memahami dan berpartisipasi dalam interaksi informasi. Melalui proses dialog ini, pengetahuan menjadi terlihat dalam dialog aktif, meskipun tidak dijelaskan secara menyeluruh, proses yang berlangsung selalu tercermin, menciptakan suasana santai, dan semua orang menemukan pembelajaran yang menyenangkan dan menyenangkan, meskipun itu adalah pengetahuan yang serius. Dalam proses belajar yang menyenangkan dan santai ilmu baru datang dan bisa bertahan sedikit lebih lama.

Standing study menghilangkan rasa kaku, rileks dan semua informasi yang didiskusikan mengalir dengan mudah, memungkinkan siswa dengan cepat menangkapnya dengan baik. Padahal, banyak perspektif muncul dengan sendirinya, proses pendidikan hidup di sini.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya