Apakah Agama yang Salah?

Mahasiswa
Apakah Agama yang Salah? 05/08/2020 2090 view Agama Pixabay.com

Ada keraguan. Ketakutan juga kerap kali membuntuti. Ini dapat menjadi penghambat untuk bersuara. Akan tetapi, keraguan dan ketakutan itulah yang membuat saya lebih berhati-hati. Harapannya suara ini tidak mendiskreditkan kelompok tertentu.

Dalam perbincangan kali ini, saya tidak sedang membicarakan kepercayaan religi tertentu. Saya hendak berbincang-bincang tentang agama secara umum. Pertanyaan yang perlu saya ajukan di awal adalah bagaimana harus beragama? Terlebih dahulu, kita berbincang dengan para pemikir ini.

Kita mulai dari Emil Durkheim. Pemikirannya banyak dipengaruhi oleh Robertson Smith. Menurut Smith, hal yang paling penting dalam kehidupan beragama adalah praktik-praktik kehidupan beragama dan bukan kepercayaan (Bernard Raho;2013). Lebih lanjut, Smith menyampaikan bahwa agama tidak mempunyai hubungan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa tetapi merupakan upaya untuk menguatkan solidaritas kelompok.

Senada dengan itu, Durkheim menambahkan bahwa agama bukan hanya soal sistem kepercayaan tetapi sebagai sistem tindakan. Melalui upacara-upacara keagamaan, rasa solidaritas antara kelompok pemeluk agama semakin diperkuat. Singkatnya, agama itu membangkitkan rasa persatuan dalam sebuah kelompok.

Pandangan Durkheim tentang agama berdasarkan penelitiannya pada salah satu agama suku Arunta di Australia. Kritikan terhadap pandangan Durkheim ini adalah, beliau hanya meneliti salah satu agama lalu ia memberi penjelasan tentang agama secara umum. Padahal setiap agama itu memiliki cara penghayatan yang berbeda.

Bahwasannya agama bisa saja bukan semata-mata soal membangkitkan rasa persatuan antara anggota masyarakat. Lebih dari itu, agama bisa menjadi media bagi seseorang untuk menemukan ketenangan. Misalnya melalui kehidupan doa atau semadi, seseorang bisa menceritakan seluruh persoalannya kepada yang Ilahi. Dengan itu, ia bisa menjadi lebih tenang dalam menyikapi masalah dalam hidupnya.

Karena itu, bisa dikritisi bahwa agama bukan semata-mata hanya soal ritus yang bisa membangkitkan rasa solidaritas antara kelompok sebagaimana diungkapkan oleh Durkheim. Tetapi agama bisa menjawab kerinduan seseorang akan rasa ketenangan.

Kemudian kita beralih ke Karl Marx. Beliau sebenarnya lebih dikenal sebagai ahli ekonomi. Beragam hal ia kaitkan dengan aspek ekonomi. Aspek-aspek kehidupan lain menjadi sejahtera ketika aspek ekonomi itu kuat. Pandangannya tentang agama juga memiliki hubungan erat dengan aspek ekomomi.

Menurutnya, agama adalah candu. Dalam bahasa Jerman, dia menulis, “Die Religion ist das Opium.” Agama adalah opium bagi masyarakat. Agama membuat seseorang teralienasi dengan dirinya sendiri. Dalam konteks ini, kehidupan dunia yang penuh dengan pergolakan membuat manusia mencari ketentraman dengan melarikan diri kepada agama.

Pandangan dari Karl Marx sebenarnya dipengharuhi oleh filsuf sebelumnya yang begitu mengkritisi kehidupan beragama. Dia adalah Ludwig Andreas Von Fauerbach. Sebagaimana diungkapkan oleh Fauerbach, agama hanyalah hasil proyeksi pikiran manusia. Dia mengatakan demikian karena mendasarkan pemikirannya pada empirisme. Dalam konteks ini dia menekankan tentang pengalaman inderawi. Pengalaman dengan pancaindera seperti melihat, mendengar, mencium, dan lain-lain.

Jika dasarnya adalah pengalaman inderawi, bagaimana menjelaskan tentang adanya Tuhan? Di membalikkan isi Kitab Suci Kristen (Kej.1:26-27) yang mengatakan, Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya. Secara ekstrem, dia mengatakan manusia menciptakan Allah menurut gambar dan rupanya.

Manusia sebenarnya memiliki kemampuan dalam menjalankan segala sesuatu dalam kehidupannya. Akan tetapi, dengan adanya agama, ia meletakkan semua itu kepada sesuatu yang transenden di luar dirinya. Hal inilah yang membuat manusia teralienasi atau terasing dengan dirinya sendiri.

Marx melanjutkan argumen ini. Yang dipersoalkan oleh Marx adalah mengapa manusia teralinasi. Sebagaimana ia lebih dikenal sebagai ahli ekonomi, maka dia menyampaikan bahwa yang membuat manusia teralienasi dengan dirinya sendiri dan dari orang lain adalah proses-proses produksi dan sistem kerja sosial dalam masyarakat (F.B. Hardiman; 2011).

Kapitalisme membuat manusia teralienasi dengan dirinya sendiri. Dalam kerja, ada pembagian kelas antara tuan dan budak. Atau lebih tepatnya antara majikan dan pekerja. Dalam konteks ini, seseorang pekerja harus tunduk kepada tuannya. Kebebasannya juga terbelenggu karena jenis pekerjaannya ditentukan oleh majikannya. Demi untuk bertahan hidup, ia tetap terus bekerja meskipun ia teralienasi dengan dirinya sendiri.

Dalam dunia kerja juga, pekerja akan bersaing dengan sesamanya. Hal itu membuat pekerja teralienasi dari sesamanya. Maka dari itu, diciptakanlah agama. Dengan beragama, manusia bisa kembali menemukan kedamaian dan ketenteraman di tengah kehidupan yang membuatnya teralienasi dengan dirinya dan dari sesamanya. Bahwasanya semua yang terjadi dalam dirinya adalah bagian dari penyelenggaraan yang Ilahi. Secara tidak langsung, agama melanggengkan kekerasann.

Pertanyaan kita lebih lanjut mungkin ini, apakah agama yang salah? Atau cara kita beragama?

Dua pertanyaan di atas menarik untuk ditelaah lebih lanjut. Untuk konteks Indonesia, kita coba kembali ke pengalaman yang telah berlalu. Di Indonesia, agama rentan dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu. Jika Durkheim mengatakan bahwa agama adalah sarana untuk mempererat solidaritas sosial, di Indonesia justru ada beberapa contoh yang berbanding terbalik dengan pendapat Durkheim.

Dalam Pilkada DKI Jakarta misalnya. Bagaimana isu sentimen agama begitu mekar di kalangan publik. Dalam hal ini, agama bukan lagi sarana untuk mempererat tali solidaritas tetapi memutuskannya demi ambisi untuk menggapai kekuasaan. Akibatnya, suasana kehidupan publik semakin keruh lantaran agama menjadi instrumen untuk ambisi duduk di kursi tahkta.

Atas nama agama, orang bermusuhan satu sama lain karena kepentingan politik. Ini adalah celaka. Ini petaka untuk kehidupan bersama. Lalu, apakah agama yang salah? Hemat saya, bukan agama yang salah tetapi cara kita beragama. Cara kita menggunakan agama. Masyarakat bukan menjadikan agama untuk membangun kedekatan dengan yang Ilahi tetapi demi mencapai kepentingan pribadi.

Dalam hal ini, jelas bahwa kita salah langkah dalam beragama. Hal ini tentunya bukan semua orang tetapi beberapa orang yang memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi. Sialnya, beberapa orang itu mempengaruhi orang lain demi mencapai ambisi mereka.

Atas dasar itu, hal pertama yang hendak saya sampaikan adalah agama sebaiknya tidak ikut terlibat dalam kepentingan politik praktis. Agama tidak boleh dijadikan sebagai instrumen untuk menggapai kursi kekuasaan. Mungkin kita bertanya, jika agama tidak terlibat dalam politik, bukankah itu menentang misi dari agama untuk mewartakan kebaikan dalam kehidupan bersama? Bukankah agama hadir untuk terlibat dalam situasi kehidupan yang konkret? Di sinilah letak polemiknya.

Menyikapi pertanyaan ini, tentunya agama itu tetap hadir untuk menyuarakan kebenaran dalam kehidupan bernegara. Tetapi tentunya pada batas-batas tertentu. Agama tidak boleh berperan terlalu jauh hingga terlibat dalam politik praktis. Apalagi dijadikan sebagai instrumen untuk mencapai kursi kekuasaan. Jika ini terus terjadi, maka bukan tidak mungkin pertentangan akan terus terjadi. Maka, hemat saya bukan agama yang salah tetapi cara kita beragama yang belum dewasa.

Lalu, apakah agama di Indonesia adalah candu sebagaimana diungkapkan oleh Marx? Ini bukanlah pertanyaan mudah. Hemat saya, Marx berbicara demikian tidak terlepas dari situasi kehidupan pada zamannya dan latar belakangnya yang adalah seorang ahli ekonomi.

Jika agama hanya sebagai candu, dalam konteks ini adalah pelarian dari kehidupan yang penuh dengan pertentangan karena persaingan antara kelas, bukankah ada sisi lain dari agama? Mungkin beberapa orang menjawab, untuk bermoral tidak harus beragama, bukan? Tetapi bukankah agama juga mengajarkan moral. Dalam hal ini, agama tidak boleh dilihat terlalu negatif. Manusia juga memiliki kerinduan yang terdalam akan sesuatu yang di luar dirinya untuk dijadikan pegangan.

Bayangkan saja, seandainya tanpa agama. Banyak hal yang menjadi begitu relatif karena tak ada lagi pegangan. Kebenaran bisa saja menjadi kabur karena tidak ada lagi otoritas. Setiap orang bebas mengatakan ini benar sejauh dia mampu mempertanggungjawabkan argumentasinya. Tidak ada lagi larangan untuk tidak boleh mencuri, membunuh, menghina, melecehkan, menghujat, dan berbagai larangan agama.

Jika ada yang bertanya, bukankah ada juga orang yang melakukan kekerasan atas nama agama seperti radikalisme? Itu terjadi bukan kesalahan agama. Bukankah itu adalah pribadi dan segelintir orang dalam suatu agama? Agama tetap baik tetapi ada segelintir orang yang keliru menjalankannya.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya