Angkringan Politik dan PR Gerakan Mahasiswa

Admin The Columnist
Angkringan Politik dan PR Gerakan Mahasiswa 31/01/2020 909 view Catatan Redaksi Sobondeso, 2020

Setiap pekan, di hari Jumat, The Columnist menyajikan tulisan dari meja redaksi dengan mengangkat isu publik yang tengah berkembang dan patut diperbincangkan.

Kali ini catatan redaksi ditulis oleh Asmarawati Handoyo masih mengangkat topik Reformasi Dikorupsi dan PR yang masih belum dituntaskan oleh Gerakan Mahasiswa. Disampaikan secara ringan, namun membawa pesan penting khususnya bagi para milenial. 

Selamat Membaca!

Di angkringan temaram, pertigaan samping rel Stasiun Lempuyangan, obrolan santai digelar orang-orang yang baru saja menyudahi adu nasibnya seharian itu.

Sambil menyantap sego kucing, seorang lelaki kurus tua membentangkan koran lusuh didepannya. Diejanya dengan suara setengah lantang tulisan di halaman paling depan. "575 Anggota DPR RI Dilantik, Optimis Ubah Citra Suram Legislator?" 

"Kalo aku iyes, optimis lah dewan yang sekarang bakal lebih bagus. Apa lagi ada cucu pahlawan pendiri bangsa jadi ketuanya. Darah pejuang pasti menurun ke anak cucu. Iyo tho Yu?" Rupa-rupanya beliau hendak menyudahi keheningan kami bertiga di dalam tenda semi permanen sekira 3x4 meter itu. 

"Halah pak 'ndak paham politik aku, kalo tanya harga bawang naiknya berapa sekilo tadi pagi baru tak jawab" timpal Yu Narni pemilik angkringan. 

"Lha ini..ini..yang sok cuek dengan politik seperti ini yang bahaya. Nanti tiba-tiba tidak setuju dengan kebijakan pemerintah trus demo... Padahal kemarin pilihannya calon satunya.." Sambil nglirik ke arah saya. 

"Dek, mahasiswa ya?" Belum sempat ku jawab, Yu Narni nyahut tersinggung juga rupanya dituduh apatis. 

"Aku realistis aja pak. Memangya penting milih siapa? Dari dulu sampai sekarang DPR dan Presidennya ganti, tetep saja nasibku ya di angkringan terus. Bisanya bertahan hidup dan menyekolahkan anak bukan dari negara, tapi dari meras keringat sendiri. Apa iya tho pak yang jadi dewan disana itu mikirkan nasib ku pak?.." Yu Narni mulai ngedumel sambil mengangkat bakwan-bakwan dari penggorengan jumbonya. 

"Ya mikirkan nasibmu lah Yu.. Buktinya ada BPJS, BOS, Kartu Prasejahtera, macam-macam kartu itu lho Yu.."

Disahut Yu Narni "Walah kebanyakan kartu, tapi pada gak nyampai ke saya pak. Bagaimana mau ngurus kartu-kartu itu, kalo syarat E-KTP nya malah belum jadi sampai sekarang...lha katanya uang buat nyetak KTP nya malah sudah bablas dikorupsi je pak.."

"Orang klo sudah berkuasa kok suka nyari senangnya sendiri ya pak... kemarin lho aku mbrowsing di pesbukku, baru ja dilantik sudah pada dandan menor. Fota-foto selphi seperti fashion show. Walaah..subuh-subuh itu aku sudah berangkat ke pasar cari teri. Lha yang jadi anggota dewan malah nyasak rambut di salon. Sudah begitu cuma disuruh rapat dikursi empuk, ber-AC, berangkat mobilan...eh..eh kok ya masih pada bolos rapat. Kok mirip Galih, anakku yang sekolah di STM. Yang seperti itu apa bisa 'ngudo roso' sama rakyat 5 tahun kedepan pak? 

"Dek kemarin ikut-ikutan demo Gejayan?" Tanpa menunggu Yu Narni menyelesaikan grundelannya, sambil mencomot bakwan yang masih beruap panas di depanku, bapak berkaos partai ini tiba-tiba menembakkan pertanyaan kepada ku. 

"Nggih ikut mbah" jawab saya singkat. 

"Kenapa tho dek kok ikut-ikutan demo segala, kan RUU jelas sudah dibatalkan tho yo. Belajar yang benar saja biar cepat lulus, biar bisa segera jadi pejabat" katanya lagi.

"Ya itu mbah, mau nangkap yang melarikan uang pembuatan E-KTP nya Yu Narni itu tadi mbah. Klo UU revisi KPK di cabut, KPK bisa kerja leluasa lagi. Pejabat kedepan jadi lebih mawas dan profesional. Jadi segan mau korupsi anggaran rakyat. Persis optimisme njenengan tadi itu mbah". 

"Ya revisi itu perlu tho dek. Kata pepatah, setiap yang tidak berubah akan ketinggalan jaman dek." Timpal beliau yang kuketahui kemudian bernama Siyono, konon beliau ini keturunan pejuang serangan umum 1 Maret di Jogja. 

Buru-buru kujawab. "Klo anti perubahan ya tidak mbah. Tapi ya tidak asal berubah. Perubahannya yang makin mensejahterakan rakyat atau malah mengkhianati rakyat. Kalaupun sampai terasing karena benar ya resiko perjuangan nggih tho mbah?" 

Syukur malam itu gerimis turun, membantu mendinginkan suasana. Gerimis mengundang tepatnya, bagi yang sedang mencari kehangatan di balik tudung-tudung saji di dalam tenda angkringan.

Seorang bapak-bapak paruh baya mengucapkan kulonuwun memasuki tenda angkringan. Dilihat dari jaketnya yang basah, tamu baru ini sangat mudah dikenali. Beliau adalah sopir gojek. Setelah memesan kopi tubruk, bapak gojek pun segera duduk di bangku kosong sebelah mbah Siyono. 

"Masih on the road pak jam segini?" Tanyaku mencoba mengakrabi. "Masih dek, nyari point buat tambahan, biar dapur di rumah tetap ngepul" sambil ketawa menyeringai. 

Tiba-tiba Yu Narni, menyela. "Kalo bukan kita sendiri yang rekoso, siapa lagi yo pak Muji?" meminta persetujuan pak gojek yang baru datang.

Mendapat lawan bicara baru. Pak Siyono lagi-lagi main tembak pertanyaan. "Mas menurut sampeyan anggota dewan baru bagaimana?"

"Wah harus lebih diawasi itu pak anggota dewan yang baru. Apalagi terkait RUU Pertanahan kemarin" Jawab pak Muji yang ternyata semangat untuk menimpali. 

"Lha bukannya sudah bagus mas, pemerintah kemarin sudah bagi bagi surat tanah. RUU Pertanahan juga sudah dibatalkan gitu lho" pak Siyono berdalih. 

Sambil menyeruput kopi tubruknya, pak Muji mengkoreksi. "Bukan dibatalkan pak tapi kemarin itu baru ditunda. Gimana kalo periode kedepan ini disahkan? Cukup kami saja pak.."

"Maksudnya 'kami', pak?" Saya penasaran dan tidak mengerti.

"Saya ini sebelumnya orang kabupaten sebelah mas. Tadinya saya petani cabe. Makmur subur hasil tani saya. 2 tahun lalu ada petugas datang katanya dari yang punya otoritas, memaksa kami jual tanah. Dikasih uang kompensasi. Saya nolak, tapi...saya dibuatnya takut, saya dipaksa pindah, katanya tanah punya negara. Padahal saya punya Letter C-nya, juga bayar pajak terus selama ini.."

"Lha yang penting sudah dapat kompensasi..apa lagi?!" serbu pak Siyono.

"Uang kompensasi saya belikan rumah di pinggir kota. Tahu sendiri pak harga rumah di Jogja sekarang selangit. Sisanya buat kebutuhan sehari-hari. Mau usaha gagal terus. Nglamar pekerjaan, siapa yang mau menerima? Keahlian saya satu-satunya ya cuma bertani. Dulu bisa nabung, sekarang malah buntung. Harta saya ya cuma motor ini, syukur bisa dipakai ngojek, buat bertahan hidup".

"Trus salahnya anggota dewan dimana mas?" Pak Siyono menggugat. 

"Kalo RUU Pertanahan nanti sampai di sahkan, akan banyak orang macam saya ini pak. Negara bebas mengambil tanah rakyat lalu diusir paksa dari rumah dan tanah penghidupannya. Uang kompensasi pada akhirnya akan habis juga.. Sudah, cukup kami-kami ini saja". 

Pak Siyono melanjutkan, "Sudah aman mas Muji. Buktinya sampai sekarang sudah 'nggak di bahas-bahas lagi tho RUU Pertanahan-nya? Aman sudah". 

"Klo aman nggih belum mbah Siyono. Tidak ada suaranya, bukan berarti RUU Pertanahan dan RKUHP tidak akan dibahas atau tidak akan muncul lagi besok-besok ini. Kami tetap waspada dan memantau. Tugas kami mahasiswa sebagai rakyat terus mengawasi, memastikan bahwa kebijakan pemerintah tidak ada yang dzolim kepada rakyat kecil seperti pak Muji dan Yu Narni ini, Mbah".

"Tidak cuma itu, kami tetap akan menuntut pencabutan revisi KPK yang sudah terlanjur disahkan kemarin. Sudah ada buktinya di kasus penyelidikan PAW Partai Banteng, revisi UU KPK menghambat penindakkan korupsi. Bukan tidak mungkin, jika ini dibiarkan akan menghambat banyak kasus korupsi yang akan terungkap berikutnya..."

Buru-buru pak Siyono memotong, "Wis-wis, anak muda memang senangnya mbalelo saja, dikasih tahu orang tua kok gak mau manut... Yo uwis, ayo main catur aja dek, mas Muji", sambil mengeluarkan papan catur ke atas meja angkringan. 

Kami langsung ngakak dan Yu Narni cuma mecucu melihat ending perdebatan kami.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya