Andai Aku Menjadi

Penulis
Andai Aku Menjadi 16/07/2020 1686 view Budaya pixabay.com

"Namaku Bento, rumah real estate, Mobilku banyak, harta melimpah, Orang memanggilku, bos eksekutif, tokoh papan atas, atas sgalanya, asik!", demikian secuplik lirik lagu Iwan Fals, gambaran bila kita menjadi "Orang Kaya".

Perbincangan atas privilege atau hak istimewa beberapa hari ini ramai dicuitkan. Ada yang mencuit bila belum merdeka finansial a.k.a miskin, tidak berhak punya anak, karena hanya akan membebani ketidakmampuan finansial tersebut ke anak yang lahir. Anak yang terlahir miskin, hanya akan terus berputar di lingkaran kemiskinan.

Apakah pembaca percaya? Bodoh, kalau anda percaya.

Sama bodohnya ketika orang beragama masih bergantung dengan opini manusia lain untuk menentukan apa signifikansi diri mereka. Bukankah Tuhan sudah menjamin bahwa baik buruknya suatu mahluk didasarkan pada usaha mereka untuk baik di depan Tuhan? Signifikansi manusia tidak diukur dari puji-caci orang lain terhadap dirinya, lantas apa tolok ukurnya? Apakah kaya, cantik, harta melimpah? Kembali ke privilege lagi tampaknya.

Bagi sebagian masyarakat twitter, hal ini sebagai pembenaran untuk terbiasa menjadi biasa-biasa saja. Terbiasa hidup susah, karena sadar betul mereka biasa-biasa saja. Terbiasa nyaman dalam segala keterbatasan, sebagai bentuk rasa “syukur”. Namun tidak demikian bagi segelintir masyarakat dunia nyata, yang terus bersemangat, memiliki harapan, bahwa dengan terus berusaha, kita yang miskin dapat menjadi kaya.

Pernahkah mendengar kisah Rustono? Pengusaha tempe di Jepang yang beristrikan orang Jepang dan legowo menyandang marga istrinya. Tentu tidak asing pula nama Chairul Tanjung yang bisa menjadi pebisnis sukses yang akhirnya bisa memberikan privilege kepada keturunannya? Kisah mereka dimulai dari ketidaknyamanan, sebagai orang-orang tanpa hak istimewa.

Karena tersemat kata “istimewa” tentu harga yang dibayar tidaklah murah. Perlu kerja keras, fokus, cerdas dan nekat dalam menggapainya. Tidak sedikit kata kehilangan menjadi biasa, kehilangan teman cangkruk, kehilangan modal karena ketipu, kehilangan malu saking seringnya mengirim proposal ke rekanan atau sebatas kehilangan waktu tidur karena begadang untuk bekerja. Apakah mereka mengeluh? Tentu, tapi tidak berhenti untuk berusaha.

Ketahanan mereka untuk keluar dari batas kenyamanan orang lain, membuat pola pikir mereka tumbuh menjadi lebih istimewa dari orang biasa. Kekuatan mereka ada pada semangat yang terus berkobar untuk menjadi lebih baik dari titik awal mereka. Mereka memiliki visi, tentang bagaimana sosok mereka di masa depan.

Terlahir menjadi orang tanpa privilege, membuat kita ingin reinkarnasi menjadi Rafathar 2.0. Tapi hal itu sungguh tak mungkin. Daripada meratapi nasib terlahir sebagai orang tanpa privilege, lebih baik kita mulai belajar untuk mendapatkan privilege dari usaha kita sendiri. Privilege yang dibangun dari kerja cerdas kita dan privilege ini tentu lebih bertahan lama dari privilege turunan dan lebih pasti daripada privilege keberuntungan.

Warisan contohnya, tentu akan habis bila hanya digunakan tanpa ilmu dalam mengelolanya. Kalau banyak orang yang percaya kaya itu karena usaha, sudah pasti tidak penipu modus “menang undian bank” hanya akan buang-buang pulsa dan beralih ke profesi yang lain.

Ada baiknya, ketika kita telah berhasil meraih privilege yang kita inginkan, kita tidak lupa atas tidak enaknya jatuh bangun yang kita hadapi. Kita tularkan ilmu kita ke orang lain, sehingga kita tidak bahagia sendiri. Mengapa? Izinkan saya berbagi sekelumit cerita saya.

Sekolah di negara dengan mayoritas orang Indonesia kemari sebagai buruh (blue-collar worker) tidak membuat saya yang berstatus pelajar ini menjadi istimewa di mata masyarakat. Apakah perlu menggantung kartu pelajar, atau menyematkan atribut kampus besar-besar agar dianggap lebih istimewa daripada buruh? Tentu tidak perlu.

Andai pemerintah berada di pihak masyarakat tanpa privilege, tentu petinggi-petinggi di negara ini akan berupaya untuk meningkatkan kuantitas white-collar worker. Menjembatani peningkatan skill dari biasa biasa menjadi luar biasa agar lebih banyak blue collar worker yang menjadi white collar worker. Benar, sudah ada kartu pra kerja yang sesuai dengan visi tersebut, tapi, apakah dampaknya dapat dirasakan secara langsung?

Bagi saya sendiri, ada konflik batin ketika kolega dan pembimbing saya bertanya “Setelah lulus, apa rencanamu?” Saya menjawab dengan yakin, “Pulang ke Indonesia!” Namun mereka menimpali lagi, “Mengapa tidak bekerja disini, gajinya besar loh, aman pula dari corona.” Saya tertawa dalam hati. Memang benar, gaji professor di sini minimal 50 juta rupiah sebulan, dibandingkan dengan gaji buruh yang hanya 10 juta sebulan.

Bila saya bandingkan dengan gaji bersih pegawai pemerintah golongan III/B yang paling mentok 3 juta tentu saya tak bisa mengelak lagi selain alasan beasiswa saya dari Indonesia sehingga saya diharuskan pulang ke Indonesia. Andai saja, saya bisa dengan bangga menjawab seperti ini, “Saya akan kembali ke Indonesia, bekerja di universitas saya, dengan gaji 50 juta sebulan.” Tapi itu hanya mimpi di siang bolong mengingat anggaran pemerintah yang carut marut menghadapi bencana non alam bernama COVID-19.

Ketika para petinggi-petinggi negara berasal dari masyarakat dengan privilege turunan, mereka tentu tidak tahu rasanya hidup susah. Prasangka buruk saya, hal ini tampaknya yang menjadikan kebijakan yang diambil tidak efektif untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia yang mayoritas masih tidak istimewa. Skala finansial yang masih berkisar antara uang untuk makan besok, seminggu atau sebulan ke depan. Hal ini yang menyebabkan menjadi pegawai negeri sipil adalah cita-cita dan privilege tertinggi yang diidamkan karena kita jadi tidak perlu berpikir besok makan apa.

Dan seperti yang kita tahu bahwa realita tidak sesuai ekspektasi, bagaimana bila hak istimewa kita ternyata terampas? Sebgai contoh anak yatim/piatu atau anak yang terlahir dari keluarga yang tidak lengkap, entah ajal atau masalah lain yang menyebabkan perpisahan ayah dan ibunya. Jika privilege harta dan tahta adalah keistimewaan yang kita inginkan, bagaiman dengan privilege yang menyangkut fisik, jenis kelamin, ras dan suku. Privilege ini tidak terelakkan dan tidak dapat diusahakan.

Kecuali kita milyuner seperti mendiang Michael Jackson yang bisa operasi plastik agar bisa menjadi putih. Pernah saya mengalami penolakan ketika mencari kerja hanya karena saya wanita dan berasal dari pulau yang berbeda dengan tempat saya mencari kerja. Mengapa ditolak? Karena asumsinya, saya wanita dianggap akan berpindah ke domisili saya. Dengan pemikiran seperti ini, akan banyak kesempatan wanita yang terenggut tanpa ada evaluasi kemampuan secara fair.

Kisah lain ketika ada anak yang cerdas dan brilian namun terlahir dari benua hitam, dan dia sekolah di negara yang berkiblat pada negeri yang dipimpin oleh Donald Trump. Dia harus berjuang lebih keras untuk bisa dianggap “mampu” hanya karena tampilan fisiknya yang tidak sama dengan mayoritas.

Jika berandai-andai, tentu kami berharap untuk bertukar nasib. Karena tidak mungkin, bagaimana kalau kita saja yang bersama-sama mengubah pola pikir tentang orang lain? Mengapa kita tidak memulai dari diri kita untuk tidak menilai fisik seseorang?

Sungguh ironis ketika semangat ingin berkembang seseorang harus padam karena dia tidak berpenampilan yang sama, tidak memiliki warna kulit yang sama, tidak berbahasa yang sama dengan kita ataupun tidak beragama yang sama dengan kita. Bila hidup kita yang mayoritas saja susah, apalagi hidup para minoritas baik dari segi fisik, rohani dan finansial.

Sehingga, sudah bukan saatnya meratapi nasib yang biasa-biasa saja ini, namun saatnya kita beraksi, bagaimana kita bisa menularkan keistimewaan kita kepada sekitar kita. Agar kita tidak hanya istimewa sebagai sosok individu, namun lingkungan kita pun juga istimewa. Alih-alih praktik oligarki, sebutan yang pas mungkin gotong-royong seperti sila ke-lima Pancasila, yang bertujuan untuk mencapai kesejahteraan sosial untuk seluruh rakyat Indonesia.

Mari kita hilangkan budaya stereotype, yang melekatkan perilaku buruk atau pengistimewaan tertentu terhadap ras, jenis kelamin, suku ataupun agama tertentu. Mari kita kurangi “cocoklogi” dan ramalan sebab akibat hanya karena melihat fisik tanpa menilai kemampuan yang tertuang secara praktik dan terulis. Dihormati pada tempatnya, menghargai sepenuhnya bahwa orang lain adalah sesosok manusia yang penuh keistimewaan tak peduli dengan atribut yang melekat pada diri mereka.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya