Ancaman Resesi dan Krisis Ekonomi Pacsa Covid-19

Ancaman Resesi dan Krisis Ekonomi Pacsa Covid-19 02/05/2020 1238 view Lomba Esai pixabay.com

Mewabahnya virus yang berasal dari Wuhan, China di akhir Desember 2019 hingga saat ini melumpuhkan aktivitas hampir di seluruh dunia.

Pemerintah Indonesia yang awalnya sangat optimis bahwa virus yang dikenal dengan nama Covid - 19 tidak akan menjangkiti masyarakat di Indonesia, kini hanya tinggal kenangan.

Dilansir dari Kompas.com, pada Senin (2/3/2020) Presiden Jokowi mengumumkan secara langsung bahwa ada dua warga negara Indonesia terpapar virus dari warga negara Jepang di salah satu klub yang berlokasi di Jakarta. Setelah itu mulai bermunculan suspect corona lainnya yang mayoritas berada di wilayah Jakarta.

Pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan sesuai dengan anjuran World Health Organization (WHO) untuk memutus rantai persebaran Covid-19 yakni menerapkan lock down (karantina wilayah), social distancing (jaga jarak), dan work from home (bekerja dari rumah).

DKI Jakarta yang memiliki jumlah pasien Covid-19 terbanyak di Indonesia, membuat pemerintah daearah tersebut, menerapkan PSBB ( Pembatasan Sosial Berskala Besar) yeng kemudian disusul dengan kota - kota besar lainnya seperti wilayah Bogor, Depok, Makasar, Banjarmasin, dan kota - kota lainnya yang juga ikut menetapkan PSBB. Proses penularan Covid-19 yang cepat melalui perorangan membuat pemerintah Indonesia harus menutup akses wilayah sebagai upaya menekan angka penyebaran virus.

Kebijakan - kebijakan yang diambil oleh pemerintah Indonesia memang dianggap mengedepankan keamanan dan kesehatan masyarakat Indonesia akan tetapi juga memiliki efek samping bagi banyak sektor kehidupan. Sektor pertama yang terkena dampak dari runtutan kebijakan tersebut adalah hotel dan restoran.

Bagaimana tidak, pemerintah yang akhirnya membatasi penerbangan di dalam dan luar negeri mengakibatkan angka wisatawan turun sangat drastis. Ditambah lagi dengan pembatasan jadwal kereta api serta transportasi umum membuat arus persebaran manusia menjadi semakin sedikit.

Terhentinya arus wisatawan membuat hotel - hotel dan restaurant terutama di kawasan wisata harus menanggung beban kerugian yang tidak sedikit. Restoran, kafe dan rumah makan masih diperbolehkan untuk melayani pembeli akan tetapi hanya bisa menerima pesanan untuk dibawa pulang (take away). Aktivitas produksi akan menurun dibandingkan dengan hari biasanya karena masyarakat memilih untuk berada di dalam rumah, melindungi diri dari paparan virus.

Pusat perbelanjaan seperti mall dan pasar juga sepi dari keramaian. Tidak adanya permintaan namun jumlahnya berlimpah juga membuat harga minyak dunia anjlok.

Dampak ekonomi yang juga ditimbulkan dengan adanya pandemi ini adalah banyak perusahaan melakukan PHK terhadap para karyawannya karena tidak mampu menggaji dan sebagai bentuk efisiensi perusahaan. Di masa sulit ini mengharuskan perusahaan dan para wirausaha memutar otak untuk bisa bertahan dengan daya beli masyarakat yang rendah. Center of Reform on Economics (CORE) dalam press release nya memperkirakan jumlah pengangguran di Indonesia akan terjadi dalam 3 skenario, akan mencapai 4,25 juta orang untuk skenario ringan, 6,68 juta orang untuk skenario sedang, dan bahkan hingga 9,35 juta orang dengan skenario berat. Hal ini berarti angka kemiskinan di Indonesia juga akan bertambah.

Hasil laporan Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani, yang dilakukan melalui video conference mengatakan bahwa Indonesia masih jauh dari resesi ekonomi. Namun, Indonesia akan mengalami perlambatan dan penurunan ekonomi. Sri Mulyani memaparkan bahwa untuk skenario berat ekonomi Indonesia hanya mencapai 2,3% yakni turun 3% dari tahun sebelumnya. Sedangkan skenario paling beratnya mencapai minus 0.4% di 2020.

Adanya serangan virus Corona ini juga akan menghambat proyek pemerintah Indonesia di bawah pimpinan Presiden Joko Widodo yang sedang gencar melakukan pembangunan infrastruktur. Salah satu mega proyeknya adalah pemindahan Ibu Kota Negara (IBKN) Indonesia dari DKI Jakarta ke Kalimantan Timur. Meskipun pemerintah mengatakan bahwa prosesnya terus berlanjut selama pandemi ini, akan tetapi tidak dipungkiri bahwa fokus pemerintah terpecah. Banyak anggaran infrastruktur dan APBN yang dialihkan untuk penanganan Covid-19. Dengan keterlambatan infrastruktur hal ini juga berarti percepatan ekonomi juga akan terhambat.

Berdasarkan wawancara melalui via telepon antara CNN dengan Dato Sri Tahir, selaku Anggota Dewan Pertimbangan Presiden, beliau mengatakan bahwa Indonesia mampu bertahan dan jauh lebih baik jika dibandingkan dengan Singapura dan Thailand. Alasannya adalah Indonesia kaya akan sumber daya alam dan manusia. Indonesia dianggap masih mampu untuk menghidupi kehidupan dalam negeri dengan produksi dari kekayaan alam yang ada.

Di sisi lain, meskipun Singapura adalah satu - satunya negara maju di ASEAN akan tetapi tidak memiliki sumber daya alam, bahkan untuk memenuhi kebutuhan air mereka harus import dari negara lain. Ditambah lagi Singapura yang sangat mengandalkan sektor jasa, kesehatan dan pariwisata kini sepi dari wisatawan.

Perekonomian Indonesia pasca Covid-19 kemungkinan akan meningkat secara perlahan. Sektor pariwisata adalah sektor yang diharapkan paling cepat pulih jika pemerintah mampu melakukan promosi besar - besaran.

Strategi penyelamatan yang telah dilaksanakan pemerintah antara lain menjaga daya beli masyarakat dengan stimulus berupa pemberian bantuan kepada masyarakat, menjaga stabilitas nilai tukar serta menjaga kepercayaan investor diharapkan mampu meminimalisir dampak buruk dari perekonomian Indonesia pasca Covid-19.

Meskipun dirasa tidak mudah untuk mengembalikan perekonomian Indonesia seperti sedia kala akan tetapi satu hal yang perlu diingat adalah seluruh negara tanpa terkecuali juga mengalami masalah yang sama, bahwa negara lain juga mengalami kontraksi ekonomi.

Hal ini bisa menjadi kesempatan bagi pemerintah me-reset tata kelola perekonomian menuju kebangkitan Indonesia masuk ke dalam 10 besar ekonomi dunia. Sejak penanganan Covid-19, pemerintah sudah membuka pintu untuk bantuan Internasional hal ini juga bukan tidak mungkin bahwa negara - negara yang bersangkutan juga membantu dalam pemulihan perekonomian Indonesia.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya