Anak Cerminan Siapa?

Penulis
Anak Cerminan Siapa? 12/12/2019 1183 view Cerita Satire pixabay.com

Keluarga adalah madrasah pertama seorang anak untuk belajar. Bukan tanpa sebab, karena anak memang belajar dari meniru kedua orang tuanya. Sungguh unik ketika dalam sebuah keluarga yang memiliki anak banyak, cinta kasih mereka kepada orang tuanya tidak sama ratanya.

Melihat hal ini, saya pun bertanya kepada adik saya, “Apa karena si anak-A merasa orang tua lebih sayang dengan anak-B ya? Tapi kan di agama sudah diajari bahwa sopan dengan orang tua adalah mutlak.” Dia menjawab, “Bisa jadi karena orang tua-nya suka membanding-bandingkan. Tidak enak tahu berada dalam bayang bayang nama besar saudara sendiri.”

Kepribadian Anak Untuk Bertanggung Jawab
Obrolan kami bergeser membahas sifat alfa dan beta pada individu. Sebutan alfa untuk menggambarkan sisi kemaskulinan yang seharusnya dimiliki pria dan beta untuk sisi kelembutan para wanita. Namun saat ini timbul pula sebutan alfa female untuk wanita-wanita tangguh dan beta male untuk lelaki yang cenderung lembut dan santai.

Mengapa ada sebuah keluarga yang bisa mendidik anak-anak yang cenderung tegas, kebalikannya tidak jarang ada anak yang cenderung introvert dan plegmatis dalam bersosialisasi. Dalam hal ini kami sependapat, bahwa keterbukaan dan keterlibatan anak dalam setiap keputusan yang diambil dalam keluarga menjadi alasan.

Keterbukaan ini menyebabkan si anak bisa memahami kondisi keluarganya, lebih memiliki empati untuk setiap langkah yang diambilnya. Keterbukaan orang tua kepada anak sedikit banyak memberikan pelajaran tentang kejujuran, tanggung jawab dan sebab akibat.

Ketika seorang anak dibiasakan mendapatkan apa yang diiinginkan tanpa mengetahui prosesnya, akan timbul dalam pikiran mereka bahwa orang tuaku mampu, apa yang kuminta akan selalu ku dapat. Anak seperti ini ketika terjun ke dunia nyata, bersaing dalam lingkungan kerja dan perkuliahan, mereka akan tidak siap ketika harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa mereka bukanlah yang terbaik, terkaya, terganteng atau superioritas lainnya.

Bukan berusaha untuk menyelami kesalahan dan mencari solusi untuk keluar dari keterpurukan, yang dilakukan oleh anak model ini adalah menutupi kekurangan mereka. Bisa dengan berbohong atau memutarbalikkan fakta untuk mendapatkan dukungan, istilahnya playing victim.

Kebutuhan Anak Akan Seorang Panutan
“Asli, kamu mirip banget dengan Bapakmu,” sudah sering sekali saya mendengar pujian ini. Bukan hanya wajah, tapi juga sifat bisa diturunkan kepada anak. Orang tua tentu adalah role model bagi anak mereka. Ketika orang tua tidak bisa memposisikan dirinya sebagai orang tua yang benar, anak pun akan menganggap kondisi yg tidak benar ini adalah kondisi yang wajar.

Ketika karakter anak sudah terbentuk, tentu butuh keberanian besar bagi anak untuk kembali ke jalan yang benar. Ketika anak penakut ingin mengambil keputusan yang diluar kondisi wajar dalam lingkungannya, butuh energi dan support yang benar dari orang-orang di sekitarnya.

Menyadari bahwa orang tua juga belum tentu seorang panutan yang baik dan benar, keleluasaan sebaiknya diberikan kepada setiap anak untuk belajar. Nyatanya, di masyarakat masih banyak orang tua yang membatasi tingkat pendidikan berdasarkan gender. “Perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, nanti maharnya ketinggian, takut cowok yang lamar,” demikian ucapan tetangga saya waktu acara ramah tamah di RT.

Lain cerita teman saya, “Sekolah di sini saja, lumayan tabungannya bisa dibuat beli mobil.” Sebuah definisi lama tentang harta yang berupa benda fisik sehingga sekolah untuk meningkatkan intelektual bukan merupakan suatu keharusan untuk anak.

Bentukan Orang Tua Kepada Anak
Orang tua selaiknya membantu anak mereka untuk dapat menyelesaikan masalah. Keterbukaan pengorganisasian rumah tangga, menurut saya akan membentuk anak yang lebih berkarakter. “Ingat nduk, orang tua mu ini hanya pegawai negeri, kami tidak bisa memberi kamu warisan harta, maka kamu harus berilmu agar kamu bisa menghidupi dirimu sendiri.”

Seperti dalam menulis karya ilmiah bahwa suatu tujuan harus dilandasi dengan latar belakang, perumusan masalah, metode dan analisa hasil. Seorang anak akan melakukan observasi berulang dari lingkup keluarga. Oleh karena itu, seorang anak seharusnya dibekali sejak dini cara bagaimana mereka dapat mendesain capaian-capaian tertentu untuk mewujudkan cita-cita mereka. Seorang anak juga sebaiknya tidak diberi pujian berlebihan atas capaian yang diberikan namun juga evaluasi dari capaian tersebut.

Memang, berkomentar itu mudah sebaliknya bila terjun langsung memiliki keluarga tentu tidak akan berjalan sesuai kondisi ideal. Dengannya, mari kita mengurangi mencari bukti empiris dari tetangga, istilah lainnya julid ato kepo terhadap pencapaian anak orang lain.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya