Alangkah Lucunya Negeri Ini

Anak Rumahan
Alangkah Lucunya Negeri Ini 30/05/2021 1132 view Lainnya webtoons.com

Kalau dipiki-pikir, judul film di atas benar-benar relevan dengan kehidupan bangsa Indonesia saat ini. Entah mengapa, semakin hari dagelan yang dipertontonkan di negeri ini semakin lucu. Bahkan stand up comedian kalah lucunya. Ironi.

Beberapa waktu lalu publik dikagetkan dengan diberhentikannya 75 pegawai KPK karena tidak memenuhi syarat ujian Tes Wawasan Kebangsaan (TWK). Yang lucu dari peristiwa ini adalah bukan karena gagal ujian TWKnya tetapi karena pertanyaan ujian TWK yang dinilai “ajaib” dan out of the box.

Pertanyaannya mirip dengan pertanyaan tetangga atau saudara yang sedang bertamu ke rumah saat lebaran. Nyinyir. Tanya-tanya tentang sudah menikah atau belum lah, punya pacar atau tidak lah, dan pertanyaan-pertanyaan pribadi lainnya (wartaekonomi.co.id, 16 Mei 2021). Memangnya kalo dia nanti menikah, negara mau bantu bayarin gedung atau catering? Lucu.

Yang membuat kejadian ini lebih lucu adalah orang-orang yang katanya tidak lolos ujian TWK adalah orang-orang yang sudah teruji dedikasi dan prestasinya dalam mengungkap kasus korupsi di negeri ini. Wajar rasanya jika banyak yang berpendapat jika tes ini adalah salah satu upaya pelemahan KPK. KPK yang seharusnya independen dan punya power untuk memberantas korupsi, pelan-pelan mulai dilucuti. Kuku-kuku tajamnya mulai dipotongi dan taringnya pun dipatahkan.

Sebelum kejadian ini, ada kejadian lain yang menurut saya tidak kalah lucunya. Ibu yang merupakan ketua salah satu partai di Indonesia didapuk menjadi ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Memang dimana lucunya? Lucunya adalah bagaimana seseorang yang menjadi pengarah riset tidak pernah melakukan riset sebelumnya.

Kalau dipikir pakai logika, seorang pelatih sepak bola seharusnya adalah orang yang mengerti betul tentang sepak bola. Setidaknya adalah mantan pemain sepak bola yang punya cukup ilmu dan pengalaman untuk menjadi orang yang dapat “mengarahkan” sebuah tim sepak bola untuk bisa bermain dengan apik di lapangan hijau.

Permasalahannya adalah jika orang seperti saya yang jangankan main bola di lapangan sepak bola, membedakan antara penyerang dan sayap saja saya tidak bisa, lalu tiba-tiba saya diangkat menjadi pelatih tim sepak bola nasional, bukankah hal ini adalah sebuah lelucon yang kelewat lucu? Bisa-bisa orang utan yang ada di taman safari ikut tertawa saking lucunya.

Beberapa teman saya sampai mencari nama beliau di Google Scholar dan situs-situs jurnal ilmiah lainnya. Mungkin beliau pernah menerbitkan penelitian yang kita tidak tau. Tapi ternyata hasilnya nihil.

Kelucuan di negeri ini ternyata tidak berhenti sampai di situ. Baru-baru ini seorang anak band diangkat menjadi komisaris BUMN. Kalo kata anak muda zaman now, “What the h***?”. Berita ini bukan saja mengagetkan, tapi juga mempertontonkan dagelan yang tidak kalah lucunya dengan peristiwa yang sudah-sudah.

Lho, apa salahnya jika seorang anak band jadi komisaris di salah satu BUMN? Mungkin dia punya bakat terpendam? Ya kalau sudah lolos seleksi dan uji kompetensi sih bukan masalah. Pertanyaannya adalah untuk bisa sampai di kursi komisaris, apa ujiannya? Berapa nilai TOEFLnya? Berapa nilai IPKnya di ijazah? Sependek pengetahuan saya, jangankan jadi komisaris, jadi pegawai BUMN itu saja harus melewati seleksi yang ketat dan susah.

Untuk bisa mendaftar jadi pegawai BUMN, seseorang harus punya ijazah sesuai kompetensi, minimal pengalaman kerja, nilai TOEFL yang mumpuni, belum lagi serangkaian tes tulis dan wawancara. Setelah melewati rangkaian tes kerja, barulah seseorang dapat diterima jadi pegawai BUMN. Ini baru jadi pegawai. Bukankah secara logika, semakin tinggi pohon maka semakin kencang angin yang bertiup? Semakin tinggi posisi bukankah seharusnya tesnya juga lebih susah? Mungkin, sudah tidak ada logika lagi di negeri ini.

Yang membuat miris adalah, hal ini justru menjauhkan orang-orang yang benar-benar punya kapabilitas untuk duduk di tempat yang semestinya. Saya rasa wajar jika dulu Bapak B.J. Habibie lebih banyak menghabiskan waktu di Jerman daripada di Indonesia. Kepakaran di negeri ini rasanya memang sudah mati.

Orang yang sudah belajar susah-susah bahkan menuntut ilmu sampai ke luar negeri, hasil karya dan kompetensinya justru tidak dihargai. Yang mendapat jabatan dan posisi strategis justru orang-orang yang tidak jelas latar belakang pendidikan dan kepakarannya. Mungkin video yang sedang viral ada benarnya, jika menjilat lebih efektif untuk dapat jabatan dibandingkan dengan belajar dan berprestasi.

Kalau dipikir-pikir rasanya wajar jika banyak anak bangsa yang lebih memilih tinggal dan berkarir di luar negeri. Alasannya sederhana. Tidak ada tempat bagi mereka di negeri ini. Bukan karena tidak cinta tanah air, tapi justru Ibu Pertiwi yang tidak mencintai mereka. Mereka tidak diakomodasi apalagi diapresiasi. Akan sulit rasanya memajukan tanah air dengan kondisi seperti ini.

Kalau waktu saya kecil Ibu Pertiwi sedang bersusah hati hingga air matanya berlinang, sepertinya kini Ibu Pertiwi matanya sudah buta karena terlalu banyak menangis. Ia sudah tidak bisa lagi membedakan mana berlian, mana kerikil di jalanan. Berlian dibuang ke jalanan sementara kerikil-kerikil disimpan dalam lemari kaca dan dipertontonkan. Seolah-olah itu adalah batu yang tinggi nilainya padahal itu hanyalah kerikil yang banyak berserakan di jalanan. Tak bernilai. Entahlah. Lucu sih, tapi miris.

Semoga tidak ada lagi dagelan-dagelan lucu di negeri ini. Semoga negeri ini bisa jadi negeri yang adil dengan menempatkan sesuatu pada tempatnya. Setau saya, Indonesia itu sebuah negara, bukan panggung sandiwara. 

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya