Ajaran Agama, Gagal Paham, dan Aksi Teror

Mahasiswa
Ajaran Agama, Gagal Paham, dan Aksi Teror 05/04/2021 134 view Opini Mingguan news.detik.com

Kisah menggegerkan publik terjadi pada hari Minggu tanggal 28 Maret 2021 di depan Gereja Katedral Makassar. Sepasang Suami Istri yang usia pernikahan baru enam bulan melakukan bom bunuh diri. Masyarakat dan media meyakini bahwa ini adalah aksi terorisme. Kedua pelaku adalah teroris. Pertanyaannya adalah mengapa mereka melakukan aksi ini? Apakah ada unsur keagamaan tertentu yang menjadi pemicu bagi pelaku melakukan hal ini? Atau mereka justru melakukannya atas nama pribadi, bukan karena doktrin dari salah memahami ajaran agama tertentu? Lebih dalam lagi, apakah ajaran agama yang salah atau mereka yang gagal memahami ajaran agama tersebut?

Ada yang mengatakan bahwa mereka bukan pelaku tetapi korban dari orang-orang yang mengajarkan ajaran agama yang salah. Pertama, secara fakta mereka adalah pelaku bom bunuh diri. Di sisi lain mereka adalah korban dari orang-orang yang mengajarkan ajaran agama yang salah. Adalah hal yang tidak masuk akal apabila orang dengan kehendak bebasnya melakukan bom bunuh diri dengan tanpa ada alasan.

Saya meyakini bahwa orang melakukan itu dengan berpegang teguh pada doktrin bahwa bunuh diri adalah jalan mati yang paling mulia sehingga bisa masuk surga. Apakah ajaran agama memang mengatakan itu? Jika ajaran agama mengatakan itu, mengapa hanya segelintir orang dari suatu agama yang melakukan ini? Mengapa tidak semua pemeluk agama tersebut melakukan hal yang sama? Jika memang bom bunuh diri adalah cara mati yang terbaik?

Hemat saya, ada segelintir orang yang menafsirkan ajaran agamanya secara keliru. Lebih tepatnya, gagal memahami ajaran agamanya. Di lain hal, ada orang yang dengan sengaja mengajarkan doktrin itu kepada orang lain dengan tujuan tertentu.

Namun demikian, argumen di atas juga perlu dikritisi sebab setiap orang memiliki otonomi berpikir dan bertindak. Seandainya orang dari luar mengajarkan sesuatu yang salah, bukankah mereka masih memiliki pilihannya untuk melakukan itu atau tidak. Dalam konteks ini, mereka bisa menyaring kembali informasi itu atau mengecek ulang apakah memang ayat kitab suci mengatakan seperti itu. Hemat saya, segala sesuatu yang datang dari luar itu hanya mempengaruhi, bukan menentukan.

Dalam hal tersebut, saya menolak argumen bahwa pelaku bom bunuh di Makassar itu adalah korban dari orang-orang yang memberikan doktrin yang salah sebab mereka masih memiliki otonomi berpikir. Mereka masih bisa menentukan apakah doktrin yang diajarkan orang lain itu benar atau tidak berdasarkan cara berpikir mereka sendiri.

Orang mungkin memiliki argumen tandingan dengan mengatakan ini. Mereka mungkin saja belum matang dalam berpikir sehingga informasi yang masuk ditelan begitu saja. Boleh saja orang mengatakan itu tetapi itu tidak bisa menghilangkan kebebasan berpikir dan bertindak setiap orang yang sudah melekat dalam diri untuk menimbang informasi.

Kedua, gagal paham. Saya tidak mengatakan bahwa ada ajaran agama tertentu yang membuat mereka melakukan aksi teror. Jika saya mengatakan bahwa ajaran agama tertentu yang menjadi dasar untuk melakukan aksi teror, pertanyaannya adalah mengapa umat lain dalam satu kepercayaannya itu tidak melakukan aksi teror yang sama?

Mereka yang melakukan aksi teror hanyalah segelintir orang dari satu agama. Jika hanya segelintir orang, itu berarti bahwa tidak semua pemeluk kepercayaan itu adalah terorisme. Artinya bahwa ajaran agama itu tidak mengajarkan terorisme. Sebab, jika demikian seharusnya semua atau paling tidak kelompok mayoritas melakukan teror. Fenomena ini ingin menegaskan bahwa segelintir orang yang melakukan teror ini adalah orang-orang yang gagal memahami ajaran agamanya.

Hal yang perlu diketahui di sini adalah tindakan itu bermula dari pikiran. Itulah sebabnya gagal paham maka gagal tindakan. Ketika memahami keliru maka tindakan juga keliru. Ketika keliru memahami isi kitab suci maka keliru pula dalam tindakannya.

Ketika dalam pikiran saya memiliki konsep bahwa olah raga adalah cara untuk sehat maka saya akan sebisa mungkin untuk olah raga setiap hari. Ketika saya berpikir bahwa olah raga tidak terlalu penting, maka saya tidak harus olah raga untuk sehat. Ketika dalam pikiran saya memiliki pola pikir bahwa membunuh adalah cara yang paling mulia untuk mati sehingga bisa masuk ke dalam kerajaan surga, maka saya mati dengan cara bunuh diri. Pertanyaannya adalah dari mana asal cara berpikir seperti itu?

Dalam epistemologi, orang belajar tentang empirisme. Empirisme hendak mengatakan bahwa pengetahuan atau apa yang ada dalam pikiran kita itu berasal dari pengalaman. Pengalaman dalam hal ini adalah apa yang kita lakukan, yang kita dengar, yang kita baca, yang kita tonton, atau yang kita lihat setiap hari.

Semua itu membentuk pola pikir. Misalnya, ketika orang bertanya bahwa bagaimana anda bisa tahu ketika ada sebuah ledakan dan banyak orang yang meninggal adalah ledakan bom? Saya menjawab, "Saya tahu itu adalah ledakan bom karena waktu kecil ketika menonton televisi, saya melihat di televisi ada ledakan hebat dan presenter televisi itu mengatakan bahwa itu adalah bom". Dari sanalah terbentuk pola pikir saya bahwa bom itu adalah sebuah ledakan besar atau kecil yang bisa mengakibatkan banyak orang meninggal.

Atau ketika pulpen diletakan di depan saya dan orang bertanya dari mana anda tahu ini adalah pulpen? Saya akan menjawab, "Saya tahu ini adalah pulpen karena ketika masih kecil benda semacam ini pernah ditunjukan oleh ibu saya kepada saya dan ia mengatakan ini adalah pulpen". Dari sana terbentuk dalam pikiran saya bahwa pulpen berbentuk seperti ini.

Yang ingin ditekankan di sini adalah apa yang ada dalam pikiran terbentuk melalui pengalaman. Pertanyaannya adalah seperti apa pengalaman para teroris sehingga mereka berpikir bahwa membunuh adalah jalan yang paling mulia untuk mati sehingga nanti masuk kerajaan surga?

Dalam salah satu wawancara, Ali Imron mantan teroris Bom Bali mengatakan bahwa sebagian besar para teroris itu didoktrin sejak masih kecil. Lingkungan mereka mengajarkan seperti itu sehingga terbentuk dalam pola pikir bahwa membunuh itu adalah jalan untuk mencapai kerajaan surga. Mengubah pola pikir bukanlah perkara mudah apalagi jika itu sudah melekat dalam pikiran bertahun-tahun.

Mungkin orang bisa memberikan ceramah dengan mengatakan bahwa itu salah. Tetapi tidak mudah untuk mengubah pola pikir seseorang. Misalnya dari dulu terbentuk dalam pikiran saya bahwa gelas itu selalu memiliki ruang kosong di dalamnya agar bisa diisi air. Tiba-tiba seseorang membawa sesuatu berbentuk piring dan mengatakan itu gelas, tidak mungkin saya percaya begitu saja. Butuh waktu, pendekatan dan penjelasan yang lebih agar saya bisa memahami dengan tepat.

Hemat saya, lingkungan membentuk pola pikir. Bukan hanya lingkungan, bacaan dan tontonan juga turut membentuk pola pikir. Apalagi jika dilingkupi oleh kawan-kawan yang sepemikiran. Hanya orang-orang yang sudah berpikir jernih yang tidak terpengaruh dengan lingkungannya. Itulah sebabnya, anak kecil mudah ditipu karena mereka belum cukup pengalaman.

Sampai di sini, saya tidak hendak mengatakan bahwa agamanya yang salah. Tetapi cara mereka dalam memahami agamalah yang salah. Lalu, kalau begitu kenapa umat yang lain tidak salah memahami agamanya sehingga mereka tidak terlibat dalam aksi terorisme? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus mengkaji lebih dalam isi kitab suci setiap agama.

Jawaban singkat saya seperti ini. Tentang jihad misalnya, MUI mengatakan bahwa itu dilakukan ketika ada musuh menyerang Muslim. Tetapi yang dilakukan selama ini adalah teroris melakukannya bukan karena ada musuh yang menyerang. Itu artinya bukan ajaran yang salah tetapi cara berpikir segelintir orang itu yang keliru.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya