Aidit, Poligmani dan Perselingkuhan

mahasiswa politik
Aidit, Poligmani dan Perselingkuhan 08/01/2022 797 view Politik sumber: suara.id

Achmad Aidit atau yang belakangan berganti nama menjadi Dipa Nusantara Aidit dikenal sebagai pemimpin salah satu partai terbesar di Indonesia bahkan dunia di era itu, yakni Partai Komunis Indonesia (PKI). Lahir di Pangkal Lalang tahun 1923, Aidit tumbuh dan berkembang di lingkungan keluarga yang terhormat dan taat dalam beragama. Ayahnya, Abdullah, adalah pendiri Nurul Islam, organisasi pendidikan Islam dekat kawasan pecinan di kota itu. Terlahir sebagai keluarga terpandang, membuat Aidit tidak kesulitan dalam mendapat akses pendidikan yang layak.

Sepulang sekolah, Aidit bersama adik-adiknya memiliki kebiasaan belajar mengaji kepada pamannya. Bahkan oleh para tetangganya, Aidit juga dikenal sebagai seorang muadzin, si tukang adzan, karena memiliki suara yang lantang di tengah ketiadaan pengeras suara waktu itu.

Menurut Murad Aidit, adik D.N Aidit, dari delapan anak Abdullah, Aidit adalah yang paling mudah bergaul. Tidak heran bila kemudian Aidit memiliki banyak kawan dan dikenal memiliki solidaritas tinggi dalam pertemanan. Ia menjadi sosok paling depan dalam melindungi saudara beserta teman-temannya.

Aidit di usia remaja memang memiliki lanskap pergaulan yang lebih maju ketimbang anak-anak lain seusianya. Selain mudah bergaul dengan teman sejawat, ia juga bergaul dengan kelompok buruh.

Pertemuanya dengan buruh terjadi pertama kali di perusahaan Gemeenschapelijke Mijnbouw Billiton. Letak perusahaan itu sekitar dua kilometer dari rumah Aidit. Saban hari Aidit disuguhi beragam realitas keseharian para buruh dalam bekerja: melihat buruh berlumur lumpur, bermandi keringat, dan hidup susah.

Sementara itu, para meneer Belanda dan tuan-tuan dari Inggris justru hidup foya-foya. Boleh jadi, pengalaman tersebutlah yang menumbuhkan sikap anti kolonialisme dan menggelorakan semangat perjuangan kelas pada diri Aidit.

Tidak cukup hanya melihat, Aidit berupaya masuk dan mendekati buruh di perusahaan itu. Mulanya, hal itu begitu sulit bagi Aidit. Hingga suatu ketika ia melihat salah seorang buruh sedang menanam pohon di pekarangan rumah dan ia menawarkan bantuan untuk mencangkul.

Meski si buruh sempat tertegun, namun tawaran Aidit diterimanya dengan ramah. Sejak saat itu hubungan Aidit dengan buruh kian dekat. Dan, hal itulah yang di kemudian hari menjadi pijakan pandangan politiknya dalam berkecimpung di dunia politik nasional dan internasional.

Menggugat Perselingkuhan

Aidit bersama dua sahabatnya, Lukman dan Nyoto, yang kemudian lebih dikenal dengan “Trio Komunis” berhasil membangun PKI menjadi partai yang begitu kuat. Selepas berhasil menguasai partai dari golongan tua di tahun 1954, PKI terbukti mampu menjadi salah satu partai dengan raupan suara terbanyak dalam pemilu pertama tahun 1955. Bahkan, keberadaan PKI dengan 3,5 juta anggotanya diklaim sebagai partai komunis terbesar ketiga di dunia setelah partai komunis di Rusia dan China.

Sebagai pucuk pimpinan partai, Aidit banyak mencanangkan beragam nilai-nilai revolusioner, termasuk sikap anti terhadap poligami dan perselingkuhan. Hingga hari ini, tidak banyak cerita yang beredar mengenai kehidupan pribadi Aidit, terutama yang berkaitan dengan ketertarikannya kepada perempuan. Hal ini dikarenakan sikapnya yang tertutup terhadap perempuan.

Berdasar kisah dalam buku “Aidit: Dua Wajah Dipa Nusantara,” pernah sekali dengan guyon, Aidit menyatakan kekagumannya terhadap salah satu perempuan anggota konstituante bernama Ismayati yang memang terkenal cantik kepada Utuy Tatang Sontani, sastrawan kondang di era itu. Tak dinyana, ternyata keduannya menyimpan kekaguman yang sama. Namun, sekali lagi hal itu tidaklah serius. Terbukti ketika akhirnya Ismayati menikah dengan pria lain, mereka, Aidit dan Utuy, hanya tertawa.

Selain cerita Aidit dan Ismayati, tidak ada lagi kisah yang lain. Padahal menurut Francisca, teman dekat Aidit, dalam sebuah wawancara, Aidit adalah sosok yang banyak diidolakan perempuan, terutama teman-temannya karena kepandaian, wibawa, dan sifatnya yang selalu menghargai perempuan. Menjadi mafhum bila kemudian Aidit memiliki sikap menentang poligami dan perselingkuhan.

Ia tanpa pandang bulu bersikap tegas kepada siapapun anggota partai yang melakukan poligami dan perselingkuhan. Seolah-olah sikap Aidit yang antipoligami dan perselingkuhan telah menjadi “garas partai”. Oey Hay Djoen, bekas anggota parlemen dan Dewan Pakar Ekonomi PKI, bercerita, pada masa jayanya banyak anggota PKI yang diskors karena ketahuan memacari istri orang.

Kisah menarik datang dari Semaun, salah seorang dedengkot Partai Komunis Indonesia. Konon, pernah suatu ketika salah satu sahabat Aidit, Nyoto yang notabene juga pimpinan partai, menjadi korban sikap kerasnya terhadap poligami dan perselingkuhan.

Nyoto sebagai seorang yang telah beristri ternyata menjalin hubungan asmara dengan perempuan lain asal Rusia yang bernama Rita. Hal itu diakui oleh istri Nyoto, Soetarni, dalam sebuah wawancara bersama Tempo. Mulanya, Soetarni tidak menaruh curiga terhadap Rita. Mereka bahkan kerap bertukar suvenir. Rita mengiriminya kosmetik, Soetarni membalasnya dengan batik.

Hingga datanglah sepucuk surat dari Rusia. Isinya menyatakan jika perempuan 20-an tahun itu jatuh cinta dan ingin menikahi suaminya. Soetarni marah tiada terkira, dan Nyoto pun meminta maaf kepadanya.

Kasus perselingkuhan Nyoto sampai ke telinga oleh Aidit saat itu. Tidak etis, menurut Aidit, seorang yang sudah berkeluarga memiliki pacar, terlebih berstatus sebagai pentolan partai. Aidit mengambil tindakan tegas sebagai pemimpin partai. Njoto, meskipun kinerjanya sangatlah bagus, akhirnya disidang CC. Ia dipecat dari Biro Agitasi dan dari kursi Pemimpin Redaksi Harian Rakjat.

Nampaknya sikap anti poligami dan perselingkuhan yang dimiliki Aidit patut kita contoh. Penolakan terhadap poligami dan perselingkuhan menjadi salah satu perwujudan sikap menghargai perempuan sebagaimana dilakukan oleh Aidit. Terlebih sebagai orang-orang yang menjadi pentolan partai sekaligus pemangku jabatan politis, sikap itu harus dipegang teguh.

Hal ini menjadi penting nampaknya. Apalagi, bila kita melihat tingkah laku pentolan-pentolan partai yang berkecimpung dalam politik struktural hari ini. Banyak kasus perselingkuhan dilakukan oleh petinggi partai dan pentolan-pentolan partai yang menjabat di struktur pemerintahan. Sikap Aidit yang tegas dan tanpa pandang bulu atas praktik poligami dan perselingkuhan, kiranya menjadi sikap yang layak diwariskan dalam tubuh partai-partai di Indonesia, bahkan diperjuangkan sebagai isu kebijakan publik.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya