Agama: Inspirasi atau Aspirasi?

Mahasiswa
Agama: Inspirasi atau Aspirasi? 04/01/2021 241 view Agama pixabay.com

Ketika dilantik oleh Presiden Joko Widodo pada Rabu, 23 Desember 2020 menjadi Menteri Agama baru, Yaqut Cholil Qoumas dalam pidatonya mengatakan bahwa “Agama adalah inspirasi, bukan aspirasi.”

Kalimat yang diucapkan oleh Yaqut dalam pidatonya itu tentunya memanifestasikan pemahaman Yaqut sendiri perihal agama yang sebenarnya. Dari pidatonya itu, kita dapat menebak kalau Yaqut Cholil Qoumas menggambarkan agama sebagai sesuatu yang suci, sakral, dan tentunya sumber pegangan hidup manusia.

Hemat saya, “Agama adalah inspirasi, bukan aspirasi” menjadi kalimat kunci yang diucapkan oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas dalam keseluruhan pidatonya itu. Kalimat itu punya pesan dan makna yang sangat mendalam untuk direnungkan oleh seluruh umat beragama di negeri ini. Karena itu, pesan itu sangat perlu kita apresiasi dan tentunya diimplementasikan dalam tindakan praksis kita.

Kalimat yang diucapkan oleh Yaqut adalah semacam himbauan. Himbauan itu tentunya tidak muncul secara tiba-tiba dalam kepala Yaqut. Atau mengalir begitu saja dari bibir Yaqut. Ia tentunyalan sudah mempertimbangkan secara matang alasannya mengucapkan kalimat itu. Ia melihat segala realitas hidup keagamaan yang sedang terjadi hari-hari ini.

Dalam hemat saya, Yaqut tentunya menyadari bahwa umat beragama selama ini sudah salah kaprah memaknai ajaran agama. Agama tidak dijadikan sebagai inspirasi dalam hidup, tetapi aspirasi untuk mencapai tujuan hidup. Agama tidak lagi menjadi pegangan hidup, namun agama dijadikan alat untuk mencapai hasrat manusiawi kita, baik hasrat ekonomi (bisnis) maupun hasrat politik.

Salah satu bukti yang paling nyata dari perspektif yang melihat agama hanya sebagai aspirasi adalah politik identitas. Persis di sinilah pesona agama berperan penting. Para politisi cenderung menjadikan agama sebagai instrumen dalam kepentingan politik. Sehingga kalau ada kegaduhan dalam politik, orang seringkali menuduh agama sebagai sumbernya.

Agama yang diperalat demi mencapai aspirasi kelompok-kelompok tertentu, makna ajarannya pun saban hari ditinggalkan. Agama tidak lagi dilihat sebagai suatu yang suci dan sakral. Agama hanya dilihat dari perspektif lain, yaitu sebagai sumber kegaduhan dan perpecahan di tengah masyarakat.

Masih banyak terjadi konflik karena politik yang terjadi selama ini, yang mana di dalamnya agama berperan penting. Ataupun problem-problem lain seperti kebebasan beragama. Seperti kata Setara Institute yang melaporkan masih banyak terjadi kasus-kasus intoleransi dan pelanggaran terhadap kebebasan beragama dan berkeyakinan (KBB) kendati jumlah mulai berkurang (KOMPAS, 2020).

Himbauan Yaqut, “Agama adalah inspirasi, bukan aspirasi” menjadi basis dasar bagi kita untuk memulihkan kembali wajah agama yang suci dan sakral itu. Himbauan itu perlu didalami dan disebarluaskan.

Agama adalah inspirasi

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan term inspirasi sebagai ilham. Dan ilham artinya adalah suatu yang menggerakan hati untuk mencipta. Dengan itu, Inspirasi dapat dikatakan sebagai hal yang muncul dari hati manusia atau bisa juga datang dari luar. Inspirasi dapat membuka wawasan dan gagasan berpikir seseorang menuju cakrawala berpikir baru.

Lantas bagaimana dengan agama? Kenapa agama harus dijadikan sebagai inspirasi? Menjawab pertanyaan ini tidaklah mudah, semudah membalikan telapak tangan. Dengan itu, dalam melihat peran agama sebagai sebuah inspirasi, baik kita sekilas berguru pada Melford Spiro dan Robertson Smith.

Melford Spiro menganggap agama sebagai sebuah institusi. Ia melihat agama sebagai satu institusi yang terdiri dari interaksi yang terpolakan secara kultural dengan pengandaian akan keberadaan yang suprahuman (Bernard Raho, 2013). Sebagai sebuah institusi, agama dapat mengatur sistem-sistem yang ada di bawahnya. Atau dapat dikatakan bahwa agama mempunyai sebuah legitimasi untuk mengatur dan mengarahkan.

Dengan itu, orang-orang yang percaya pada agama wajib menjadikan agama itu sebagai sebuah pegangan atau inspirasi. Agama yang dianggap menjadi pegangan tersebut, tentu dianggap memiliki peran penting dalam memotivasi dan memberikan harapan kepada masyarakat. Hal tersebut pun nyatanya terdapat dalam kehidupan masyarakat yang beragam mulai dari suku, ras, dan etnis, serta strata atau kedudukan yang juga memiliki perspektif tersendiri tentang agama. Kendati muncul berbagai perspektif tentang agama, agama tetap memainkan peran sebagai institusi yang memberikan pegangan bagi para penganutnya.

Selain Spiro yang menganggap agama sebagai pegangan hidup, Robertson Smith juga menganggap bahwa agama mempunyai peran yang cukup besar dalam membantu kehidupan manusia. Kehidupan manusia yang berada dalam dunia membutuhkan peran agama untuk diri sendiri maupun kelompok (Bernard Raho, 2013).

Sangat jelas bahwa Agama tentunya punya peran sentral bagi hidup manusia. Agama adalah sebuah inspirasi. Manusia memerlukan agama sebagai suatu pegangan hidup. Agama berpengaruh sebagai motivasi dalam mendorong individu untuk melakukan suatu aktivitas, karena perbuatan yang dilakukan dengan latar belakang keyakinan agama dinilai mempunyai unsur kesucian, serta ketaatan. Dengan itu, agama semacam sebuah institusi yang menjadi inspirasi kita untuk bertindak dan bertutur kata. Agama dapat menjadi inspirasi bagi manusia untuk mencapai moralitas yang baik. Agama dapat mengajarkan hal-hal yang baik seperti; kejujuran, keadilan, toleransi, dan sikap peduli pada yang lain. Dengan itu, seruan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas untuk menjadikan agama sebagai inspirasi, sangat penting untuk digaungkan oleh semua umat beragama.

Agama bukan aspirasi

Aspirasi adalah sebuah harapan atau keinginan individu akan suatu keberhasilan atau prestasi tertentu (Slameto, 2003). Dengan itu, dapatlah diartikan bahwa aspirasi adalah semacam sebuah usaha individu untuk memperoleh apa yang ditargetkannya. Dan seperti yang kita tahu, bahwa untuk mencapai aspirasi itu tentunya orang bisa melakukan apa saja dan menghalalkan segala cara. Misalkan untuk menggenggam kekuasaan, orang bisa melakukan apa saja. Dia bisa saja membunuh mereka yang dianggapnya sebagai penghalangnya. Atau ia memperalat agama demi kepentingan politik.

Akhir-akhir ini, aspirasi semacam itu berkali-kali kita saksikan. Banyak terjadi perdebatan, dan kegaduhan yang mana di dalamnya melibatkan agama. Bahkan agama seringkali dijadikan alat untuk mencapai kepentingan-kepentingan tertentu khususnya kepentingan politik. Hal itu terjadi karena agama seringkali dilihat sebagai aspirasi.

Yang paling ajaibnya adalah kegaduhan dan perdebatan itu terjadi di antara tokoh-tokoh agama sendiri. Mereka lagi yang mengajarkan sesuatu yang tidak patut dicontohi oleh umat-umatnya. Dengan itu, terjadilah perpecahan di antara umat beragama.

Mendengar himbauan Yaqut

Dalam kaitan ini, kiranya kita harus mendengarkan, mencerna, dan mengimplementasikan himbauan dari Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, marilah kita jadikan agama sebagai sebuah inspirasi. Inspirasi artinya adalah sebuah pegangan. Dengan itu, agama adalah pegangan kita dalam bertindak dan bertutur kata.

Jangan jadikan agama sebagai aspirasi. Dengan melihat agama sebagai aspirasi, kita seringkali menjadikan agama sebagai jalan untuk menggenggam apa yang kita mau. Kita tidak lagi melihat agama sebagai sesuatu yang suci dan agung. Karena yang kita cenderung pada aspirasi dan hasrat kita.

Dengan demikian, marilah kita makin prihatin untuk memperjuangkan nilai-nilai luhur keagamaan kita masing-masing. Kita bersama-sama menggunakan himbauan yang sudah disodorkan oleh Yaqut Cholil Qoumas. Itulah kiranya pekerjaan rumah kita bersama sebagai umat beragama, yaitu “Melihat agama sebagai inspirasi, bukan aspirasi.”
 

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya