Agama dan Krisis Lingkungan

Mahasiswi
Agama dan Krisis Lingkungan 13/07/2020 1490 view Opini Mingguan pixabay.com

Indonesia terkenal sebagai negara yang agamis. Hal ini tercermin pada Pancasila yang menjunjung nilai ketuhanan pada sila pertama yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Keragaman agama yang berada di Indonesia juga membuktikan bahwa Indonesia memang negara yang agamis. Di antara agama yang ada di Indonesia adalah Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Budha, dan Khonghucu. Bahkan, salah satu agama yang memiliki kuantitas terbanyak di dunia, yaitu Islam terdapat di indonesia.

Islam dikenal sebagai agama yang sangat peduli terhadap kebersihan. “Kebersihan adalah sebagian dari iman” ungkapan tersebut adalah salah satu dari banyak petunjuk atau dalil yang menunjukkan betapa kebersihan menjadi hal yang penting. Bahkan, slogan itu sudah dihapal oleh setiap muslim Indonesia sejak berada di tingkat Sekolah Dasar atau bahkan Taman Kanak-Kanak. Slogan tersebut juga sering terlihat dijadikan poster dan di tempel pada dinding-dinding sekolah.

Dengan keadaan tersebut, sudah sepantasnya Indonesia berada di tingkat teratas terutama dalam masalah kebersihan. Namun, sepertinya kenyataan tersebut tidak cukup untuk mencerminkan Indonesia sebagai negara islami yang menjunjung tinggi nilai kebersihan. Pasalnya, realita berkata sebaliknya. Di tengah kepopulerannya sebagai negara muslim terbesar, Indonesia juga dikenal sebagai penghasil sampah nomor dua terbesar di dunia. Artinya sangat jauh dari harapan. Mengapa bisa demikian? Padahal sudah memiliki pedoman yang mengatur sedemikian rupa bagaimana etika dalam mengemban tugas sebagai khalifah di muka bumi.

Jika dibandingkan dengan Negara Barat yang notabenenya bukan merupakan negara muslim, Indonesia sangat jauh tertinggal. Mengutip dari Tribun Medan.com mengatakan bahwa Para peneliti dari Yale University bekerja sama dengan World Economic Forum untuk mengukur kebersihan dan keramahan lingkungan dari lebih dari 180 negara di seluruh dunia. Hasil survei menunjukkan predikat negara terbersih di dunia diraih 10 negara teratas diantaranya Dennmark, Luksemburg, Swiss, Inggris, Prancis, Austria, Finlandia, Swedia, Norwegia dan Jerman. Tidak terlihat satupun negara muslim termasuk Indonesia pada tingkat teratas tersebut.

Ironi seperti ini ternyata telah berlangsung sejak lama. Bahkan, pada masa Muhammad Abduh, yaitu seorang cendikiawan sekaligus tokoh pembaharu yang lahir di Mesir pada tahun 1849 M, ketertinggalan ini telah menjadi kegelisahan tersendiri baginya. Beliau pernah mengeluarkan statement yang sangat “menampar” setelah merefleksikan kenyataan yang dilihatnya di mana negara muslim ternyata jauh lebih terbelakang dibandingkan dengan Negara Barat. Salah satu ungkapannya yang terkenal adalah “Aku pergi ke negara barat, aku melihat Islam namun tidak melihat orang muslim. Dan aku pergi ke Negara Arab, aku melihat orang muslim namun tidak melihat Islam.” Perkataan Muhammad Abduh tersebut sepertinya masih sangat relevan hingga sekarang. Hal ini menunjukkan tidak ada perubahan besar yang terjadi bahkan setelah beratus tahun lamanya.

Lantas dimana letak salahnya? Apakah kitab suci yang diturunkan pada manusia mengandung petunjuk yang salah? Tentu saja tidak. Memang benar kitab suci diturunkan sebagai petunjuk. Namun, petunjuk tersebut diturunkan kepada makhluk yang memiliki akal agar mereka menggunakan akal tersebut dalam memahami pedoman yang diturunkan serta dipraktekkan dalam kehidupan keseharian.

Fenomena yang sering terjadi adalah orang sibuk membahas agama dalam taraf keyakinan dan lebih fokus pada kegiatan ritual individu dengan dalih sebagai upaya untuk menjadi manusia saleh, lalu lupa dengan aspek lain. Padahal, nilai Islami jauh lebih daripada itu. Kesalehan tidak hanya dipandang dari hubungan vertikal antara hamba dengan Tuhan, tetapi juga hubungan horizontal antara manusia dengan manusia lain, makhluk hidup lain, dan juga lingkungan. Fenomena tersebut sekaligus menunjukkan bahwa menjadi seorang muslim tidak menjamin seseorang menjadi islami.

Realisasi nilai keagamaan pada setiap aspek kehidupan adalah tugas terpenting yang harus ditanamkan pada kehidupan keberagamaan. Jika nilai-nilai agama tidak hanya dipahami dalam taraf pemikiran dan ibadah individual semata, maka nilai keagamaan tentu akan lebih berdampak pada realitas kehidupan. Seperti halnya masalah sampah dan kebersihan lingkungan. Jika kesadaran telah terbangun mulai dari lingkup terkecil hingga yang terbesar, dari individu sampai pemerintahan, tentu peradaban kita akan lebih cakap dan masalah seperti ini akan bisa teratasi dengan baik.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya