Agama dan Identitas Diri

Mahasiswa Filsafat Katolik Ledalero
Agama dan Identitas Diri 26/09/2022 527 view Agama Internet

Agama hadir dan bertumbuh di tengah kehidupan bersama. Kehadiran agama sebagai benang merah antara kepercayaan dan subyek yang disembah. Sebab, agama dijadikan pedoman bagi keberlangsungan hidup manusia.

Agama apapun di dunia, dia hadir dan atau diadakan oleh manusia untuk memberi ingat pada manusia akan tujuannya dari kehidupan yang di dalamnya ada pandu yang memberi arah untuk sampai pada tujuan itu. Artinya agama adalah sebuah sarana yang memberi arah sekaligus kesadaran pada manusia (Kompas, 30 Januari 2022).

Tujuan agama diringkas dalam dua kata yakni, makna dan moral. Makna berkaitan dengan tujuan keberadaan manusia. Moral berkaitan dengan panduan tindakan, supaya manusia bisa hidup bersama secara damai (http://rumahfilsafat.com).

Di dalam agama diajarkan tentang kebaikan yang memedomani pada dogmanya masing-masing. Ada ajaran kasih, saling menghormati, pemaaf, toleransi, dan berbagai bentuk lainnya yang digaungkan oleh agama. Semuanya itu bertujuan agar setiap individu bisa menampilkan jati dirinya sebagai orang yang beragama di tengah kehidupan bersama. Sementara itu, nilai-nila kekerasan, intoleransi sangat ditentang oleh agama agar setiap orang yang beragama bisa hidup dalam sebuah kedamaian.

Pertanyaan yang paling mendasar bagi kita adalah apa yang mestinya kita lakukan ketika nilai-nilai yang diserukan agama sudah melekat dalam diri. Apakah hanya sekedar pengetahuan belaka, ataukah sesuatu yang lebih jauh.

Pada masa abad pertengahan terjadi sekularisasi, yaitu pemisahan kekuasaan politis dari agama. Agama ditarik dari ruang publik pada sebuah ruang privat. Sekarang, dalam konteks Indonesia, di era post-sekularisme, penarikan kembali agama dari ruang privat pada ruang publik. Maksudnya, agama memiliki ruang sebagai institusi sosial yang bisa memberi arah bagi kehidupan masyarakat dalam sebuah negara agar berjalan normal. Jadi, agama hadir dengan modal nilai-nilai substansi bagi masyarakat beragama.

Semua nila-nilai yang diajarkan agama terlalu indah membuat orang-orang yang beragama dengan getol membicarakannya dalam kehidupan sehari-hari. Namun, bukan itu yang dibutuhkan sekarang di tengah perjuangan dalam menghadirkan kedamaian di tengah penderitaan.

Orang tidak membutuhkan seberapa hebat kita menghafal dogma-dogma. Orang tidak menuntut retorika yang bagus untuk melantunkan nilai-nilai kebaikan. Orang juga tidak membutuhkan verbalisme dan seberapa kali kita mengunjungi tempat ibadat.

Lebih dari pada itu, hal yang sangat dibutuhkan adalah bagaimana kita menampilkan jati diri sebagai orang yang sungguh-sungguh beragama. Dengan bahasa sederhananya, dibutuhkan sebuah aksi dan tindakan nyata dalam menanggapi persoalan yang terjadi dalam kehidupan sosial.
Orang yang beragama berarti tahu dengan kesadaran diri untuk mengimplementasikan apa yang seharusnya dilakukan terhadap orang-orang di sekitar.

Sebagai orang beragama kita harus menciptakan perdamaian, menyalurkan cinta kasih kepada sesama, dan dapat menyatukan setiap perbedaan yang ada. Setiap orang menunjukkan bagaimana agama yang dipeluk tidak dijadikan sebagai ajang eksistensi diri, melainkan menjunjung tinggi toleransi untuk bersama-sama menjadi contoh bagi masyarakat-masyarakat lain mengenai indahnya kebersamaan di tengah perbedaan. Dengan demikian, karakter utama orang beragama ialah cinta kehidupan damai dan kasih kepada semua manusia tanpa membedakan ikatan-ikatan primordial masing-masing (Media Indonesia, 8 Agustus 2022). Sangat jelas dan logis apa yang mau disampaikan kepada kita bahwa bagaimana kita sebagai orang yang benar-benar beragama menunjukkan nilai-nilai yang diperoleh dalam kehidupan agama.

Menampilkan jati diri sebagai orang beragama membawa kita pada sebuah pemahaman tentang pentingnya dewasa beragama. Kita mempraktikkan apa yang seharusnya terhadap sesama menunjukkan bahwa dewasa beragama sudah menjadi bagian dari kehidupan agama kita. Dewasa beragama berarti orang-orang yang memiliki kualitas, seperti bertanggung jawab, matang rasional, berpikir logis dan komprehensif, serta cerdas dalam menghadapi segala situasi (Kompas, 22 Agustus 2022). Kita memiliki sikap tersebut dalam membawa nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sesungguhnya.

Peran para tokoh agama selain mengajar tentang nilai-nilai kebaikan sangat primadona dalam tuntutan untuk mengimplementasikannya dalam kehidupan nyata. Tokoh agama yang pertama-tama menjadi pembuka jalan bagi orang yang beragama. Apa yang dilakukan tokoh agama sebagai langkah untuk membuka pikiran bagi yang beragama sehingga membuka wilayah kesadaran agar bertindak apa yang dilayangkan oleh agama. Dalam hal ini bagaimana seorang tokoh agama apa yang diajarkannya sejalan dengan tindakan nyata. Awas nanti, dalam bahasa sarkastis, jika tokoh agama tidak berbuat demikian, apalagi orang-orang yang beragama yang mempercayai keyakinan yang diajarkan.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya