#2 Anno Susabun: Intermediate Writer Bidang Filsafat

Admin The Columnist
06/01/2020 235 view Sapa Penulis Anno Susabun

Setelah bertualang ke Timur Tengah pada edisi pertama Sapa Penulis, kini The Columnist melanglang ke Timur Indonesia dan menghadirkan Anno Susabun ke hadapan pembaca. Anno, begitu biasa disapa, adalah pemuda Flores yang sudah tidak asing lagi di The Columnist. Opini-opininya menghiasi jajaran tulisan populer di laman kami. Berikut wawancara kami dengan pria yang juga gemar memainkan piano ini.

Selamat sore Mas Anno, terima kasih telah menyempatkan waktu di tengah kesibukannya. Sebelumnya, mungkin bisa diceritakan sekilas profil kamu?

Nama saya Anno Susabun, lahir di Flores 24 Oktober 1997. Saya adalah mahasiswa semester 8 di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere – Flores.

Selain mempelajari Filsafat Katolik, saya juga mempelajari filsafat lain dari zaman klasik sampai kontemporer, termasuk juga Filsafat Postmodern, Filsafat Lingkungan Hidup serta filsafat dari agama-agama lain.

Saat ini saya dalam proses penyelesaian skripsi dengan tema Demokrasi dan Kewarganegaraan dalam Politik Lokal di Indonesia Post-Soeharto.

Kapan Mas Anno mulai menulis?

Saya mulai menulis sejak kelas 1 SMP untuk majalah dinding sekolah saya. Kemudian memasuki SMA, tepatnya ketika kelas 3, saya mulai mencoba menulis untuk media-media umum. Tulisan pertama saya untuk media umum terbit di Flores Pos saat saya kelas 3 SMA.

Dari mana kamu belajar menulis?

Saya belajar menulis dari sekolah saya yang memiliki kultur akademik demikian. Dulu saya sekolah di SMP dan SMA Seminari Pius XII Kisol, Manggarai Timur – NTT. Di sana kami diajarkan untuk giat membaca dan menulis.

Program literasi di sekolah kami sangat jelas sejak didirikan dulu tahun 1955, Maka tidak heran banyak alumninya yang menjadi wartawan media-media nasional seperti Rikard Bagun yang menjadi Wakil Pemimpin Umum Kompas, lalu Gaudensius Suhardi jurnalis senior Media Indonesia, ada juga Don Bosco Selamun pemimpin redaksi Metro TV, dan lain-lain.

Jadi sejak di sekolah kami memang sudah dibiasakan dengan tugas membaca buku, kemudian menuliskan review-nya.

Sejauh ini, di media mana saja tulisan Mas Anno diterbitkan?

Tulisan saya dulu pertama kali diterbitkan di Flores Pos, lalu ada juga Pos Kupang, Kompas Muda, Warta Flobamora. Lalu saya bersama teman saya juga pernah memenangkan sayembara menulis yang diadakan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia tahun 2017.

Selain itu, saya juga menulis untuk media-media online seperti Indo Progress, Islam Bergerak, Flores Muda, Floresa, Kumparan, Detik, dan tentu saja The Columnist.

Adapun tulisan-tulisan saya paling banyak terbit di majalah internal kampus, yaitu Majalah Biduk.

Apakah ada penulis yang dijadikan referensi dalam gaya menulis kamu?

Kalau soal gaya bahasa, saya banyak belajar dari penulis-penulis lain, terutama penulis-penulis Flores yang memang mayoritas memiliki gaya yang demikian. Misalnya Boni Hargens, yang merupakan alumnus sekolah kami juga, saya banyak belajar dari beliau. Selain itu ada juga Goenawan Muhammad dan banyak penulis lainnya juga. 

Tulisan Mas Anno menjadi begitu populer di The Columnist, salah satunya yang berjudul Agama: Monster yang Menindas. Bisa diceritakan latar belakang tulisan tersebut?

Kalau membicarakan tentang agama, selama ini saya memang sering menulis dengan tema yang sama karena saya lihat kehidupan beragama baik secara nasional maupun daerah di wilayah kami, Flores, sangat rumit.

Menurut saya, kehidupan beragama orang Indonesia lebih cenderung menampilkan diri sebagai seorang yang beragama, bukan sebagai orang yang beriman. Hidup sebagai orang yang beragama itu kan sebenarnya hanya sebagai identitas seperti di KTP. Sedangkan kalau hidup sebagai orang yang beriman, agama itu hanya sarana untuk mencapai Tuhan yang kita imani.

Agama itu justru bisa menjadi alat penindasan jika agama sendiri melegitimasi tindakan-tindakan kekerasan, penindasan dan politik identitas. Seringkali kita berkelahi hanya karena gara-gara agama.

Kalau secara nasional, saya melihat agama itu melanggengkan oligarki karena kaum oligarki seringkali memakai agama untuk memecah belah masyarakat sehingga masyarakat tidak lagi sadar bahwa mereka sedang diperbudak oleh oligarki.

Akhirnya mereka bertengkar hanya gara-gara agama dan mereka tidak ingat bahwa sebenarnya yang menyebabkan pertengkaran itu adalah oligarki, yaitu ketidakadilan ekonomi sebagai basisnya.

Ini menarik, karena Mas Anno sendiri kuliah di STFK yang basisnya adalah agama. Apakah kampus Mas Anno memang mengajarkan sikap kritis seperti itu?

Ya, pelajaran kami tentang agama sangat kritis. Kami memang diajarkan memahami agama, tapi kami tidak diajarkan memiliki ketaatan buta terhadap agama. Kita harus selalu bersikap kritis untuk menemukan ajaran-ajaran agama yang berpihak pada kemanusiaan.

Sejauh agama tidak berpihak kepada kemanusiaan, maka itu dikritik. Seperti misalnya agama yang melanggengkan ketidakadilan sosial atau pejabat gereja itu sendiri yang memakai agama untuk memperoleh kekayaan dan kekuasaan, itu harus dikritik.

Terkait The Columnist, dari mana kamu mengetahuinya?

Saya mengetahui The Columnist dari unggahan (share) seseorang di Facebook. Sejak itu saya mengirimkan tulisan saya ke The Columnist.

Lalu ketika tulisan saya dimuat di The Columnist, saya share tulisan saya itu ke group WhatsApp dan Facebook saya. Akhirnya teman-teman saya, khususnya yang kuliah di STFK, tertarik juga untuk mengirimkan tulisan ke The Columnist.

Tema apa saja yang kamu minati dalam tulisan-tulisan kamu?

Selain pembahasan tentang agama dan politik, saya juga tertarik dengan ekonomi politik. Saya tertarik sekali dengan pemikiran Marxisme klasik tentang ekonomi sebagai basis, dan sosial, politik, agama dan lain sebagainya sebagai suprastruktur kehidupan.

Saya sangat setuju dengan Marx karena dimana-mana kita membutuhkan bidang ekonomi sebagai dasar dari bangunan kehidupan sosial. Sehingga menurut saya kehidupan ekonomi yang mapan itu sangat menentukan aspek-aspek kehidupan yang lain.

Kita tidak akan mampu berbicara sosial politik yang baik dan adil tanpa berpikir kehidupan ekonomi yang mapan. Dari ekonomi politik itu nanti akan berpengaruh juga pada pandangan saya tentang lingkungan hidup, politik lokal, dan sebagainya.

Apa yang akan kamu lakukan di masa depan?

Jadi kami ini dalam tahap pembinaan calon pastur Katolik, tentu saja nanti tujuannya akan menjadi pastur Katolik. Tetapi kalau cita-cita itu tidak terwujud, saya sendiri ingin menjadi peneliti. Saya berharap bisa studi lanjut ke jenjang S2 dan S3 dalam bidang ekonomi politik, lalu menjadi peneliti yang berpihak kepada rakyat dan masyarakat lemah.

Impian saya bisa melanjutkan S2 di kampus-kampus terkenal di Jawa seperti UGM dan UI. Sedangkan untuk jenjang doktoral, saya berharap bisa menempuhnya di luar negeri, seperti di Inggris atau Australia.

Apa harapan kamu untuk The Columnist?

Harapan saya untuk The Columnist agar tetap menjadi media yang kritis dan terbuka bagi penulis-penulis muda yang potensial sambil tetap memperhatikan etika-etika kepenulisan. Dalam artian bahwa penulis-penulis yang masuk di The Columnist adalah penulis-penulis yang potensial dan tulisannya berguna bagi kepentingan masyarakat luas.

Selain itu, menurut saya The Columnist bagus karena sangat memberikan apresiasi kepada penulis. Menurut saya itu yang menjadi pembeda The Columnist dengan media-media lain.

Terakhir, mungkin Mas Anno punya tips dan trik untuk teman-teman kita yang ingin menjadi penulis agar bisa membuat tulisan yang bermutu?

Dalam banyak kesempatan saya selalu ingatkan teman-teman bahwa menjadi penulis itu berarti menjadi pembaca. Untuk bisa menjadi penulis, kita harus menjadi pembaca yang setia. Kalau kita sudah membaca tulisan-tulisan orang lain secara setia dan kita bisa memilah secara kritis inti gagasan dari orang lain, kita pasti akan bisa menulis.

Oleh karena itu, saran saya kepada teman-teman yang ingin menjadi penulis, rajinlah membaca dengan kritis.

Baik, terima kasih Mas Anno atas waktunya. Semoga apa yang kamu cita-citakan segera terwujud dan semoga tetap konsisten menjadi penulis yang berpihak pada kepentingan masyarakat luas.

The Columnist memiliki obsesi menghargai artikel para intermediate writer yang belum mendapat tempat di media mainstream. Karena kami punya keyakinan, artikel yang ditolak terbit media mainstream tersebut bukan berarti tidak kritis dan menarik. Silahkan kirim artikel tersebut di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami akan bantu menerbitkan untuk menemui pembacanya.
Artikel Lainnya